Pertumbuhan Ekonomi Tinggi tapi Rupiah Melemah, Investor Belum Percaya?
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. (SHUTTERSTOCK/NUMBER1411)
18:48
7 Mei 2026

Pertumbuhan Ekonomi Tinggi tapi Rupiah Melemah, Investor Belum Percaya?

– Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/YoY). Angka tersebut menjadi capaian pertumbuhan kuartal pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir.

Ekonom Senior Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad, menilai tingginya pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental ekonomi nasional.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 lebih banyak didorong momentum musiman Ramadhan dan Idul Fitri, serta lonjakan konsumsi pemerintah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Baca juga: Rupiah Melemah di Tengah Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Ada Apa?

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. SHUTTERSTOCK/TENDO Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

“Memang faktor pertama tentu saja momentum Lebaran dan puasa. Itu pasti menaikkan konsumsi masyarakat,” ujar Tauhid saat dihubungi Kompas.com, Kamis (7/5/2026).

Meski demikian, faktor paling dominan berasal dari peningkatan konsumsi pemerintah sejak dimulainya implementasi program MBG.

Di mana, pemerintah menggelontorkan anggaran sekitar Rp 30 triliun per bulan untuk menjalankan program tersebut.

Dengan demikian, selama tiga bulan pertama tahun ini tambahan belanja negara diperkirakan mencapai Rp 90 triliun hingga Rp 100 triliun.

Baca juga: Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi Bisa Dekati 6 Persen, APBN Jadi Tameng

Tambahan belanja tersebut memberikan kontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada awal tahun.

Meski demikian, Tauhid mengingatkan efek positif program MBG terhadap pertumbuhan ekonomi berpotensi hanya bersifat sementara.

Ia menilai efek MBG kemungkinan mulai hilang pada kuartal I-2027 karena sudah masuk dalam basis perhitungan pertumbuhan tahun sebelumnya.

Ilustrasi menu makan bergizi gratis. KOMPAS.com/Egadia Birru Ilustrasi menu makan bergizi gratis.

Selain faktor MBG, pengaruh base year atau basis pertumbuhan ekonomi yang rendah pada 2025.

Baca juga: Hati-hati Membaca Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen

Pada kuartal I 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,9 persen sehingga ruang pertumbuhan pada 2026 menjadi lebih besar.

Di sisi lain, terdapat penyesuaian basis data industri dalam penghitungan produk domestik bruto (PDB) yang turut mempengaruhi angka pertumbuhan ekonomi.

“Ada faktor base year karena pertumbuhan tahun lalu rendah. Selain itu, ada penambahan basis data untuk perhitungan terutama di sektor industri. Itu juga berpengaruh,” katanya.

Tanpa faktor base year dan MBG, pertumbuhan ekonomi saat momentum Ramadhan dan Lebaran biasanya hanya berada di kisaran 5,3 persen hingga 5,4 persen.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I 2026 Tertinggi dalam 13 Tahun, Momentum Tumbuh Harus Dijaga

Lebih jauh, ia memandang terdapat anomali antara tingginya pertumbuhan ekonomi dengan kondisi nilai tukar rupiah yang justru terus melemah.

Rupiah memang ditutup menguat pada perdagangan Kamis (7/5/2026) ke level Rp 17.333 per dollar AS. Namun, sehari sebelumnya mata uang Garuda sempat mendekati level Rp 17.400 per dollar AS.

Kondisi tersebut menunjukkan investor belum sepenuhnya percaya terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Ia menjelaskan, pada Maret 2026 rupiah sudah mulai mengalami pelemahan, meski belum sedalam kondisi saat ini.

Baca juga: Purbaya Bersiap Ibadah Haji, Siapkan Doa Pertumbuhan Ekonomi Makin Kencang

Kala itu, kurs rupiah berada di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 16.900 per dollar AS dan mulai mendekati Rp 17.000.

Tauhid mengatakan, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi arus keluar dana investor asing.

Dia mencatat apabila investor benar-benar yakin terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia, seharusnya arus modal keluar tidak terlalu besar.

Tag:  #pertumbuhan #ekonomi #tinggi #tapi #rupiah #melemah #investor #belum #percaya

KOMENTAR