Siasat UMKM Bertahan di 2026, Jaga Arus Kas dan Efisiensi
Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) memproyeksikan, ekonomi Indonesia pada 2026 masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik, meskipun berada di tengah tekanan global.
Majelis Wali Amanah Komunitas Pengusaha Tangan di Atas (TDA) Wisnu Dewobroto menyampaikan, secara makro, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif pada kuartal I-2026, didukung oleh konsumsi domestik dan investasi.
"Namun di lapangan, pelaku usaha khususnya UMKM merasakan dinamika yang lebih kompleks," ujar dia kepada Kompas.com, Senin (4/5/2026).
Baca juga: BRI Salurkan Kredit Rp 1.562 Triliun Pada Kuartal I 2026, 77,5 Persen ke UMKM
Ilustrasi UMKM.
Dalam sektor UMKM, ia bilang konsumsi tetap ada, tetapi lebih selektif dengan perilaku value for money yang meningkat.
Di sisi lain, menurut komunitas TDA, pertumbuhan terasa tidak merata antarsektor UMKM.
Sedangkan, pelaku usaha cenderung lebih berhati-hati dalam ekspansi bisnisnya.
"Secara umum, kondisi saat ini bisa digambarkan sebagai tumbuh, tetapi dalam tekanan dan penuh kehati-hatian," imbuh dia.
Baca juga: Masa Depan UMKM di Tengah Disrupsi Ekonomi
Tantangan pengusaha UMKM di 2026
Wisnu menjabarkan, dalam praktiknya, pengusaha di TDA menghadapi sejumlah tantangan utama di tahun 2026, antara lain adanya tekanan global yang menyebabkan perlambatan ekonomi dunia dan geopolitik.
Dari sisi konsumen, daya beli dinilai belum sepenuhnya pulih. Hal tersebut dibuktikan dengan konsumen lebih rasional dalam melakukan konsumsi.
Di tengah kondisi yang masih lesu, biaya operasional justru meningkat. Peningkatan ini terlihat pada beberapa komoditas seperti bahan baku, logistik, dan energi.
Ilustrasi UMKM yang memproduksi kerajinan tangan.
Pengusaha juga mengalami ketidakpastian regulasi yang pada akhirnya dapat memengaruhi kepercayaan bisnis.
Baca juga: Perempuan Dominasi UMKM, Kunci Sukses Ada di Perencanaan Keuangan
Dari sisi pembiayaan, UMKM juga masih menghadapi akses pembiayaan terbatas, terutama bagi UMKM non-bankable.
Oleh karena itu, pelaku usaha melihat pentingnya konsistensi dan kepastian kebijakan pemerintah.
Wisnu juga berharap adanya perluasan akses pembiayaan berbasis ekosistem untuk para UMKM.
Lebih lanjut, UMKM juga mengharapkan adanya insentif terutama untuk keperluan digitalisasi dan ekspor.
Baca juga: Kementerian UMKM Dorong UMKM Naik Kelas lewat Akses AI Gratis
Tak hanya itu, UMKM juga membutuhkan perlindungan pasar domestik yang tetap kompetitif untuk dapat terus mengembangkan usahanya.
"Fokus utama saat ini bukan hanya pertumbuhan, tetapi juga stabilitas dan kepastian usaha," ucap dia.
Siasat pengusaha adaptasi dalam ketidakpastian global
Menghadapi kondisi yang dinamis, Wisnu menjelaskan, pengusaha di TDA mengedepankan pendekatan yang lebih adaptif dan kolaboratif.
Secara umum, strategi yang banyak dilakukan UMKM adalah menjaga arus kas (cashflow) sebagai prioritas utama.
Baca juga: Menteri UMKM Dorong Pemberdayaan Pengusaha Perempuan di Pulau Rinca
UMKM juga terus melakukan efisiensi operasional (lean business).
Bagi sebagian UMKM, kondisi ini juga menuntut adanya penyesuaian produk dan harga sesuai perilaku konsumen.
Ilustrasi UMKM.
Pelaku UMKM juga perlu melakukan diversifikasi kanal penjualan antara digital dan komunitas.
Hal itu masih perlu dibarengi dengan kolaborasi antar pelaku usaha untuk akses pasar dan rantai pasok (supply chain).
Baca juga: KUR di NTT Tembus Rp 898 Miliar, UMKM Didorong Perluas Usaha
Wisnu mengungkapkan, di tengah tekanan ekonomi, muncul pola baru di komunitas pengusaha yakni bertumbuh bersama, bukan sendiri (growth through collaboration).
"Ekonomi Indonesia masih kuat secara fondasi, tetapi 2026 adalah tahun ujian. Pelaku usaha yang mampu beradaptasi, efisien, dan kolaboratif akan tetap bertahan, bahkan menemukan peluang baru,” tutup dia.