Krisis Global Picu Percepatan Swasembada Energi RI
ilustrasi energi terbarukan(freepik)
16:36
1 Mei 2026

Krisis Global Picu Percepatan Swasembada Energi RI

Isu swasembada energi mengemuka dalam peringatan Hari Buruh Sedunia atau May Day 2026 di Monas, Jakarta, Jumat (1/5/2026), seiring penegasan pemerintah menjaga ketahanan energi di tengah gejolak global.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan kondisi energi nasional masih dalam posisi aman, bahkan membuka peluang menuju kemandirian dalam beberapa tahun ke depan.

“Kita swasembada pangan. Pangan kita aman. BBM kita masih aman,” ujar Prabowo.

Ia menekankan Indonesia tetap kuat meski banyak negara dilanda kepanikan akibat konflik di Asia Barat (Timur Tengah).

Penegasan di Monas itu sejalan dengan arah kebijakan yang sebelumnya disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026) lalu, yang menempatkan swasembada energi sebagai prioritas percepatan.

Baca juga: Pertamina Soroti Potensi Kelebihan Solar Akibat Implementasi B50

“Menurut saya, krisis justru mempercepat rencana transformasi kita. Akhirnya kita dipaksa akselerasi. Kita sudah mengerti masalahnya, dari dulu kita ingin swasembada pangan, swasembada energi. Kita sudah mengarah ke situ. Tapi sekarang akan mempercepat,” ujar Prabowo.

“Kita sudah tahu bahwa kita harus melakukan pengalihan energi kepada energi terbarukan, kepada energi yang kita miliki sendiri. Kita sudah paham itu. Ini mempercepat. Jadi ini memaksa kita untuk bekerja lebih keras,” kata Prabowo.

Ia menyebut Indonesia memiliki berbagai sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan, mulai dari bahan bakar nabati hingga energi terbarukan.

“Kita punya kelapa sawit, bisa kita ubah menjadi solar, bisa menjadi etanol. Kita bisa dari tebu, kita bisa dari singkong, kita bisa dari jagung. Ini kita punya semua. Kita punya geotermal yang banyak. Kita bisa pakai kekuatan air, hidro, mini hidro, banyak sekali,” tutur Prabowo.

Baca juga: Bidik Swasembada Energi 2029, Prabowo: Negara Kaya Pasti Diincar Banyak Pihak

Pemerintah juga menargetkan pembangunan tenaga surya hingga 100 gigawatt dalam dua tahun ke depan dengan kebutuhan lahan sekitar 100.000 hektare.

“Kita akan melaksanakan pembangunan yang sangat cepat terhadap tenaga surya, yang rencananya kita akan melakukan 100 gigawatt yang kita targetkan harus selesai dalam dua tahun yang akan datang ini. 100 gigawatt itu adalah 100 ribu megawatt. Berarti kita butuh secara garis besar 100 ribu hektare,” kata Prabowo.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pengembangan ladang gas besar di Andaman serta proyek Masela untuk memperkuat pasokan energi nasional.

Baca juga: JP Morgan Peringatkan Risiko Harga Minyak Naik hingga 120 Dollar AS per Barrel

Indonesia dinilai tahan krisis energi global

Sejalan dengan arah tersebut, anggota DPR RI Fraksi Golkar Nurdin Halid menyoroti posisi Indonesia dalam laporan global yang menunjukkan ketahanan energi nasional semakin kuat.

Dalam laporan JP Morgan bertajuk "Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026", Indonesia disebut menempati posisi kedua dunia sebagai negara paling tahan terhadap krisis energi, khususnya di sektor minyak dan gas.

“Ini bukan capaian yang datang tiba-tiba. Ada kerja sistematis dari hulu ke hilir yang dilakukan pemerintah. Saya melihat Menteri ESDM berhasil membaca situasi global dan menyiapkan Indonesia lebih tahan terhadap guncangan,” ujar Nurdin Halid melalui keterangannya, Kamis (30/4/2026).

Baca juga: Cara Hemat Penggunaan BBM, Listrik, dan Gas Elpiji dari Kementerian ESDM

Menurut dia, capaian tersebut tidak terlepas dari strategi peningkatan produksi minyak dan gas domestik, diversifikasi energi melalui biodiesel, serta pengembangan bahan bakar alternatif seperti bioetanol.

“Negara-negara maju justru terpukul karena terlalu bergantung pada impor. Indonesia sekarang menunjukkan arah berbeda, memanfaatkan sumber daya sendiri sebagai kekuatan utama,” katanya.

Ia juga menilai pengembangan dimethyl ether (DME) dan compressed natural gas (CNG) sebagai substitusi LPG impor merupakan langkah strategis di tengah ketidakpastian rantai pasok global.

“Ke depan, kita tidak boleh berhenti. Ketahanan energi harus dibarengi dengan transisi menuju energi bersih agar Indonesia tidak hanya tahan krisis, tetapi juga kompetitif di masa depan,” ujarnya.

Tag:  #krisis #global #picu #percepatan #swasembada #energi

KOMENTAR