Rupiah Melemah Drastis, Apa Penyebab dan Dampaknya pada Ekonomi?
Ilustrasi Rupiah. Anggota Komisi XI DPR RI Bertu Merlas mengingatkan pemerintah agar mewaspadai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi saat ini.(PIXABAY/DARNO BEGE)
18:24
30 April 2026

Rupiah Melemah Drastis, Apa Penyebab dan Dampaknya pada Ekonomi?

- Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dollar AS terus menghadapi tekanan.

Kurs rupiah di pasar spot sore ini melemah dan menyentuh level Rp 17.346 per dollar AS.

Nilai tukar rupiah bahkan diproyeksikan dapat bergerak fluktuatif dan kemungkinan bisa menyentuh level Rp 17.350 hingga Rp 17.400 per dollar AS pada perdagangan pekan depan.

Baca juga: Prediksi Rupiah ke Rp 17.400: Dampak Krisis Energi dan Konflik Iran

ilustrasicanva.com ilustrasi

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan, Bank Indonesia (BI) menghadapi tantangan untuk dapat membawa kurs rupiah sesuai dengan target yang tertuang di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di level Rp 16.500 per dollar AS.

Peneliti Center of Macroeconomics and Finance INDEF Abdul Manap Pulungan menjelaskan, di sisi lain, cadangan devisa Indonesia per Maret 2026 berada di level yang dinilai cukup kecil yakni 148,2 miliar dollar AS.

"Memang salah satunya yang harus dilakukan selain intervensi di pasar adalah BI, Kemenkeu, dan KSSK dapat memberikan sinyal yang positif, bukan yang hanya narasi," kata dia dalam Diskusi Publik "2 Bulan Perang Israel-AS vs Iran: Waspada Dampak ke Perekonomian, Kamis (30/4/2026).

Ia menambahkan, masalah rupiah ini bukan hanya masalah dari sisi moneter, tetapi juga masalah fiskal hingga melingkupi ketahanan energi.

Baca juga: Rupiah Melemah Imbas Geopolitik, Ini Rekomendasi Investasi Aman

Ia berpandangan, hal tersebut dapat membuat investor urung untuk mengkoleksi portofolio dari Tanah Air.

"Ini menjadi sinyal bagi pemerintah, tingkat kepercayaan investor global sedang menurun yang terlihat dari bagaimana investor melepas portofolio di dalam negeri," imbuh dia.

Kombinasi faktor-faktor tersebut menekan nilai tukar rupiah semakin melemah terhadap dollar AS.

Ilustrasi rupiah. PIXABAY/MOHAMAD TRILAKSONO Ilustrasi rupiah.

Manap menjelaskan, tiga instrumen yang menarik dana asing seperti saham, Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) saat ini tengah mengalami tekanan.

Baca juga: Kemenperin: Pelemahan Rupiah Perkuat Daya Saing Ekspor Industri Nasional

"Sekarang yang masih positif itu SBN, SRBI dan saham sedang menguap, lagi panas, jadi tidak keru-keruan," ungkap dia.

Oleh karena itu, penguatan rupiah saat ini menjadi tanggung jawab banyak pihak dari tiga sektor tersebut selain intervensi yang dapat dilakukan BI.

Indikator stabilitas nilai tukar melemah

Manap mengungkapkan indikator stabilitas nilai tukar rupiah pada kuartal I-2026 memang menunjukkan pelemahan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Ia menyoroti tingkat credit default swap (CDS) 5 tahun yang pada kuartal I-2026 telah mencapai 101,28 persen dibandingkan tahun lalu 95,36 persen.

Baca juga: Rupiah Jeblok ke Level Terlemah Sepanjang Masa, Penyebabnya dari Dalam Negeri

"Ketika CDS meningkat, ini artinya investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi agar dia mau menempatkan dananya di instrumen keuangan dalam negeri," ungkap dia.

Ketika tidak mendapatkan hal tersebut, investor akan kabur dan mencari penempatan dana yang lebih menguntungkan bagi investor.

Hal ini menjadi tantangan bagi Indonesia karena dengan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Indonesia sebenarnya membutuhkan pasokan valuta asing (valas) yang besar agar rupiah tidak jatuh lebih dalam.

Di samping itu, Manap mengatakan, valas di dalam negeri tergolong dangkal atau berada di level 7 miliar dollar AS per hari.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.326, Dipicu Sentimen Danantara dan Konflik Timur Tengah

"Jauh dibandingkan negara lain di kawasan. Jadi kalau ini tidak dalam dan CDS tinggi, artinya investor akan meninggalkan instrumen keuangan," terang dia.

Indeks dollar AS melemah, rupiah tak mampu bangkit

Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran.

Dari pengaruh eksternal, hingga kuartal I-2026 terlihat indeks dollar AS atau DXY Indeks justru melemah di bawah level 100 dari tahun lalu di level 104,21.

Kendati demikian, Manap menjelaskan, rupiah tidak mampu memanfaatkan pelemahan DXY indeks untuk memperkuat nilai tukar rupiah.

"Dengan kecenderungan DXY yang menurun dan Asian DXY Indeks yang menguat, berarti ada masalah fundamental yang membuat mengapa rupiah itu terdepresiasi," terang dia.

Kemudian, cadangan devisa yang juga turun secara tahunan tidak mampu menahan laju pelemahan rupiah.

Baca juga: Rupiah Pagi Masih Lesu, IHSG Tancap Gas

"Cadangan devisa kita kuat dari 157,1 (miliar dollar AS) ke 148,2 yang digunakan untuk intervensi, dan itu pun belum mampu menjaga rupiah lebih kuat dan lebih kokoh," terang dia.

Beda nasib Indonesia dan Korsel dalam hadapi depresiasi mata uang

Manap menjabarkan, Indonesia dan Korea Selatan sama-sama menghadapi depresiasi mata uang.

Namun dampak depresiasi terhadap dua negara tersebut justru sangat berbeda.

Depresiasi di Indonesia menyebabkan ekonomi semakin terpuruk.

Baca juga: Pelemahan Rupiah Meluas, Tak Hanya Terhadap Dolar AS

Berbeda, Korea Selatan justru menanggapi depresiasi nilai tukar dengan memacu aktivitas ekspornya.

"Korea Selatan ini ekspornya bukan berbasis komoditas seperti layaknya di Indonesia," ungkap dia.

Secara umum, penurunan nilai mata uang lokal terhadap mata uang asing memang dianggap sebagai angin segar bagi kegiatan ekspor karena otomatis meningkatkan daya saing produk dalam negeri di pasar internasional.

Ketika nilai mata uang turun, harga barang yang diproduksi akan lebih murah bagi pembeli dari luar negeri yang menggunakan mata uang asing.

Baca juga: Upaya Damai AS-Iran Buntu, Rupiah Tertekan ke Level Rp 17.243 Per Dollar AS

Kondisi itu memungkinkan peningkatan permintaan dari pasar global karena harga relatif turun bagi importir di luar negeri.

Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.SHUTTERSTOCK/AVIGATOR FORTUNER Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.

Sementara itu, eksportir yang menjual barang dalam mata uang asing akan mendapatkan keuntungan lebih besar saat uang tersebut dikonversi kembali ke mata uang domestik yang sedang melemah.

Tekanan global buat rupiah kian melemah

Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF M. Rizal Taufikurahman menjelaskan, pelemahan rupiah mencerminkan kuatnya tekanan global yang ditransmisikan langsung melalui kenaikan harga komoditas impor.

"Sehingga kemudian terdoronglah imported inflation," ucap dia.

Baca juga: Imbas Harga Minyak Naik, Rupiah Tertekan Pagi Ini, Sentuh Rp 17.221 per Dollar AS

Rizal mengungkapkan, dampak yang lebih persisten terjadi melalui rambatan biaya produksi.

Kenaikan harga bahan baku, logistik, dan energi mendorong inflasi domestik berbasis cost-push. Hal ini berarti inflasi yang terjadi akibat kenaikan biaya produksi barang dan jasa.

Kondisi tersebut tak jarang memaksa produsen menaikkan harga jual.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, tekanan inflasi tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga semakin mengakar dalam struktur biaya ekonomi domestik.

Baca juga: Negosiasi AS-Iran Beri Angin Segar, Rupiah Menguat ke Level 17.211

Pelemahan rupiah didorong kenaikan harga minyak mentah

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut pelemahan mata uang Indonesia didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dunia.

Harga minyak mentah Brent menembus level 122 dollar AS per barrel dan WTI Crude Oil mencapai 108 dollar AS per barrel.

Lonjakan itu berdampak langsung pada meningkatnya kebutuhan devisa untuk impor minyak mentah Indonesia yang mencapai sekitar 1,5 juta barrel per hari.

Kondisi tersebut diproyeksikan menambah tekanan terhadap neraca transaksi berjalan serta menggerus ketahanan fiskal.

Ilustrasi harga minyak mentah. SHUTTERSTOCK/GAS-PHOTO Ilustrasi harga minyak mentah.

Baca juga: Rupiah Diproyeksi Sentuh Rp 17.400 per Dollar AS, Seberapa Kuat Fiskal Indonesia?

Beban subsidi energi juga berpotensi meningkat dan menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

“Kenaikan ini membuat kebutuhan dollar AS untuk pembelian minyak mentah sebesar 1,5 juta barrel per hari semakin tinggi. Tingginya harga minyak diproyeksikan dapat menambah tekanan neraca transaksi berjalan dan menggerus ketahanan fiskal,” tutup dia.

Tag:  #rupiah #melemah #drastis #penyebab #dampaknya #pada #ekonomi

KOMENTAR