VinFast Andalkan IPO dan Taksi Listrik demi Laba 2027
VinFast VF MPV 7(KOMPAS.com/Ruly Kurniawan)
17:08
28 April 2026

VinFast Andalkan IPO dan Taksi Listrik demi Laba 2027

Ambisi produsen kendaraan listrik Vietnam, VinFast, untuk menjadi pemain global memasuki fase krusial.

Setelah bertahun-tahun membakar modal untuk ekspansi, perusahaan di bawah konglomerasi Vingroup itu kini menargetkan titik impas atau break-even point pada 2027, mundur dari target sebelumnya.

Penundaan itu diakui langsung Chairman Vingroup sekaligus pendiri VinFast, Pham Nhat Vuong, di tengah tekanan biaya ekspansi dan persaingan yang makin ketat di pasar kendaraan listrik global.

Baca juga: Mengapa VinFast Pilih Indonesia Jadi Basis Produksi Mobil Listrik?

Pendiri sekaligus chairman Vingroup Pham Nhat Vu.WIKIMEDIA COMMONS Pendiri sekaligus chairman Vingroup Pham Nhat Vu.

Dikutip dari Reuters, dalam rapat pemegang saham Vingroup beberapa waktu lalu, Vuong mengatakan VinFast diperkirakan mengirimkan 300.000 mobil listrik sepanjang 2026, dengan sekitar dua pertiganya diserap pasar domestik Vietnam.

Target tersebut menunjukkan skala pertumbuhan yang agresif.

Namun, di balik lonjakan volume penjualan, perusahaan masih menghadapi tantangan besar untuk membuktikan model bisnisnya berkelanjutan.

IPO ini diharapkan akan memberikan nilai yang sangat besar bagi Vingroup,” kata Vuong terkait rencana penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) unit taksi listrik Green SM yang ditargetkan pada paruh kedua 2028.

Baca juga: VinFast Siapkan Pabrik BEV di Subang, Bidik Indonesia Jadi Basis Produksi Asia

Rencana IPO Green SM menjadi bagian dari strategi lebih luas Vingroup untuk menopang ekosistem kendaraan listriknya, di tengah kerugian VinFast yang masih membengkak.

Penjualan melonjak, kerugian membesar

Model ekspansi VinFast selama ini mengandalkan pertumbuhan cepat meski harus menanggung rugi besar.

Layanan Green SM Airport dirancang untuk memenuhi kebutuhan para penumpang bandara.Dok. Green SM Layanan Green SM Airport dirancang untuk memenuhi kebutuhan para penumpang bandara.

Berdasarkan laporan yang dikutip Nikkei, kerugian VinFast melebar menjadi 3,9 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 67,35 triliun (asumsi kurs Rp 17.270 per dollar AS), bahkan ketika penjualan mobil listriknya tumbuh dua kali lipat.

Situasi ini memperlihatkan paradoks yang kerap dihadapi perusahaan kendaraan listrik baru: pertumbuhan volume belum otomatis menghasilkan profitabilitas.

Baca juga: BNI Beri Kredit Sindikasi Rp 1,84 Triliun untuk Bangun Pabrik VinFast di Indonesia

Tekanan terbesar datang dari belanja ekspansi internasional, biaya produksi, serta strategi penetrasi pasar yang agresif melalui subsidi harga dan insentif.

Reuters melaporkan, VinFast kini memperluas pasar di Asia Tenggara seperti Indonesia, India, dan Filipina, meski ambisinya di Amerika Serikat dan Eropa cenderung lebih hati-hati dibanding rencana awal.

Sejumlah analis yang dikutip Reuters bahkan menilai profitabilitas baru berpotensi terlihat pada rentang 2027-2028.

“Terdapat pandangan yang konsisten di seluruh analisis yang kami pantau bahwa titik impas laba kotor dapat tercapai sekitar tahun 2027-2028,” kata juru bicara VinFast, seperti dikutip Reuters.

Baca juga: Gandeng VinFast, BNI Percepat Ekosistem Mobilitas Hijau di Indonesia

Pernyataan itu menegaskan, jalan menuju titik impas sangat bergantung pada keberhasilan perusahaan memperbesar skala operasi sambil menekan biaya.

Ekosistem jadi kunci

Berbeda dengan banyak produsen otomotif konvensional, VinFast mengembangkan strategi berbasis ekosistem terintegrasi.

Di dalamnya, bukan hanya produksi kendaraan, tetapi juga layanan pendukung seperti taksi listrik, penyewaan mobil, infrastruktur pengisian daya, hingga potensi pendanaan lewat pasar modal.

VinFast VF MPV 7KOMPAS.com/Ruly Kurniawan VinFast VF MPV 7

Salah satu penopang penting model itu adalah Green SM, operator taksi listrik yang menggunakan armada VinFast.

Baca juga: VinFast Bakal Bangun Pabrik di RI, Fokus untuk Pasar Ekspor

Menurut laporan Nikkei, afiliasi taksi listrik dan bisnis rental mobil VinFast sedang digabungkan menjelang rencana IPO. Langkah ini dipandang sebagai upaya merapikan struktur bisnis sekaligus meningkatkan valuasi sebelum melantai di bursa.

Strategi tersebut bukan sekadar soal mencari dana baru, melainkan menciptakan captive demand bagi kendaraan VinFast.

Melalui taksi Green SM, VinFast dapat menyerap produksi dalam skala besar lewat afiliasi internal, menopang utilisasi pabrik, sekaligus memperkuat eksposur merek.

Reuters juga mencatat model ini menjadi salah satu faktor yang menopang dominasi VinFast di pasar domestik Vietnam, selain program pengisian daya gratis dan penetrasi model berharga lebih murah.

Baca juga: Vinfast dan Geely dalam Proses Investasi Kendaraan Listrik di RI

Bagi VinFast, taksi listrik dan rental bukan bisnis sampingan, melainkan mesin pertumbuhan yang menopang penjualan kendaraan inti.

Bertaruh pada pasar domestik

Menariknya, dari target 300.000 unit penjualan tahun ini, dua pertiga justru diarahkan ke pasar domestik Vietnam. Ini menandakan VinFast belum sepenuhnya menggantungkan masa depan pada ekspansi global.

Pasar rumah menjadi benteng utama, terutama saat kompetisi kendaraan listrik global semakin padat, terutama dari pemain China seperti BYD dan Geely yang mulai agresif di Asia Tenggara.

Keunggulan di pasar domestik memberi VinFast ruang bernapas untuk mengejar skala ekonomi.

Baca juga: Salip Prajogo Pangestu, Bos Vingroup Jadi Orang Terkaya Asia Tenggara

Namun, strategi ini juga memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan pertumbuhan bila ekspansi internasional berjalan lebih lambat dari harapan.

Terlebih, VinFast selama ini banyak bergantung pada dukungan finansial dari induk usaha dan sang pendiri. Reuters mencatat total komitmen pendanaan dari Vuong dan Vingroup sebelumnya mencapai 17 miliar dollar AS.

Besarnya suntikan dana itu menunjukkan besarnya taruhan di balik ambisi VinFast.

IPO Green SM dan jalan menuju laba

Jika target break-even 2027 ingin tercapai, pasar melihat IPO Green SM berpotensi menjadi katalis penting.

Baca juga: Vietnam Pelajari Inovasi Hydrogen Center Senayan Milik PLN IP

Selain membuka akses pendanaan baru, IPO dapat membantu memonetisasi salah satu aset pertumbuhan Vingroup yang selama ini belum terefleksi penuh.

Vuong sendiri menyebut persiapan IPO akan dimulai dalam dua hingga tiga bulan.

Meski pencatatan saham baru direncanakan 2028, proses menuju IPO dipandang bisa meningkatkan disiplin operasional lebih awal, terutama setelah penggabungan unit taksi dan rental.

Bagi investor, yang dipantau bukan hanya valuasi Green SM, melainkan apakah ekosistem ini benar-benar dapat mempercepat jalan VinFast menuju profit.

Baca juga: Perekonomian Vietnam Berlari, Bisakah Indonesia Lampaui?

Sebab, selama ini tantangan perusahaan kendaraan listrik baru bukan hanya menjual mobil, tetapi membangun model bisnis yang menghasilkan arus kas berkelanjutan.

Di tengah persaingan EV global

Perjalanan VinFast menuju titik impas juga berlangsung di tengah perubahan lanskap industri kendaraan listrik.

Pertumbuhan permintaan global mulai melambat di beberapa pasar, sementara perang harga dipimpin pemain China menekan margin industri.

MPV listrik 7-penumpang VinFast Limo GreenKompas.com/Donny MPV listrik 7-penumpang VinFast Limo Green

Di sisi lain, VinFast justru tetap mempertahankan strategi ekspansi.

Baca juga: Harga Energi Naik, Pertumbuhan Ekonomi Vietnam Berisiko Terpangkas

Vuong menegaskan perusahaan tidak akan kembali memproduksi kendaraan bermesin pembakaran internal.

Keputusan itu menegaskan komitmen penuh pada kendaraan listrik, sekaligus memperbesar taruhan bahwa transformasi industri ini akan berpihak pada pemain yang mampu bertahan melewati fase rugi panjang.

Di luar otomotif, Vingroup juga sedang menyesuaikan arah investasinya. Reuters melaporkan grup tersebut membatalkan proyek pembangkit listrik tenaga gas alam cair (LNG) terbesar di Vietnam dan mengalihkan proposal ke energi terbarukan berbasis angin, surya, dan penyimpanan baterai.

Langkah itu menunjukkan transisi energi dan kendaraan listrik kini makin diposisikan sebagai satu ekosistem bisnis yang saling terkait.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Vietnam 7,83 Persen, Tertinggi dalam 16 Tahun

Ujian model bisnis VinFast

Bagi VinFast, 2026-2027 berpotensi menjadi periode pembuktian.

Di satu sisi, penjualan tumbuh cepat, pasar domestik masih kuat, dan ekosistem Green SM memberi jalur pertumbuhan tambahan.

Di sisi lain, kerugian miliaran dollar AS, kebutuhan modal besar, serta kompetisi yang makin intens membuat target break-even 2027 menjadi ujian terhadap model bisnis perusahaan.

Jika strategi ekosistem berjalan sesuai rencana, VinFast berpeluang menunjukkan bahwa produsen kendaraan listrik baru dari Asia Tenggara dapat bertahan dalam industri yang selama ini didominasi pemain mapan.

Baca juga: Vietnam Terancam Pangkas Penerbangan Mulai April akibat Krisis Avtur

Namun bila pertumbuhan penjualan belum cukup mengimbangi biaya ekspansi, jalan menuju profit bisa kembali mundur.

Untuk saat ini, seluruh taruhan tampaknya bertumpu pada satu hal: apakah pertumbuhan agresif, integrasi ekosistem, dan IPO Green SM cukup untuk mengubah pembakaran modal menjadi keuntungan.

Tag:  #vinfast #andalkan #taksi #listrik #demi #laba #2027

KOMENTAR