Zulhas: MinyaKita Naik karena Dipakai untuk Bantuan Pangan
Menteri Perdagangan Budi Santoso (kiri), Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) (tengah), serta Menteri Haji dan Umrah Mochamad Yusuf Iran (kanan) dalam Rapat Koordinasi Terbatas di kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).(KOMPAS.com/Syakirun Ni'am)
15:28
22 April 2026

Zulhas: MinyaKita Naik karena Dipakai untuk Bantuan Pangan

- Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkap penyebab kenaikan harga MinyaKita di pasaran. Kenaikan terjadi karena pasokan terserap untuk program Bantuan Pangan.

Program Bantuan Pangan menyalurkan 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng kepada 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat. Bantuan diberikan sebanyak dua kali.

“Jadi, kemarin ada 33 juta bantuan pangan, kali 2 liter, kali 2 bulan. Nah, pakai MinyaKita. Itu tuh kesedot, sehingga di pasar agak berkurang, sehingga harga menjadi naik,” ujar Zulhas dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Baca juga: Harga Minyakita Beragam di Bandung, Farhan Ungkap Penyebab dan Peringatkan Penimbun

Perhitungan tersebut menunjukkan total kebutuhan minyak goreng mencapai 132 juta liter. Volume ini diambil dari pasokan MinyaKita yang sebelumnya beredar di pasar.

Kondisi ini membuat stok di pasar tradisional berkurang. Dampaknya, harga ikut naik di sejumlah daerah.

Pemerintah lalu mengubah skema penyaluran bantuan. MinyaKita tidak lagi menjadi satu-satunya merek yang digunakan.

Perum Bulog kini diperbolehkan menyalurkan minyak goreng merek lain dengan harga yang sama. Kebijakan ini diharapkan menjaga ketersediaan dan stabilitas harga di pasar.

“Jadi udah ketemu sebabnya kenapa naik, karena ada bantuan pangan 33 juta kali 2 bulan, kali 2 liter,” kata Zulhas.

“Oh itu banyak sekali tuh. Yang dari pasar tradisional pindah ke bantuan pangan,” lanjut dia.

Baca juga: Bapanas: Kalau 60 Persen MinyaKita Lewat BUMN Mudah Dipantau

Zulhas menjelaskan, MinyaKita awalnya merupakan minyak curah yang diolah lebih higienis lalu dikemas sebagai merek pemerintah. Produk ini ditujukan untuk menggantikan minyak curah di pasar tradisional.

Popularitas MinyaKita meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Masyarakat lebih memilih produk tersebut dibanding merek lain.

“Tetapi MinyaKita ini terlalu populer sekarang. Semua orang belinya MinyaKita,” ujar Zulhas.

Data menunjukkan harga MinyaKita per 21 April mencapai Rp 15.942 per liter. Angka ini naik dari posisi 25 Maret sebesar Rp 15.888 per liter.

Sejumlah daerah bahkan mencatat harga lebih tinggi. Harga MinyaKita berada di kisaran Rp 20.000 hingga Rp 22.000 per liter.

Pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi MinyaKita sebesar Rp 15.700 per liter.

Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional Sarwo Edhy menilai kenaikan harga tersebut sebagai anomali. Pasokan bahan baku minyak sawit mentah atau crude palm oil tersedia dalam jumlah cukup.

“Produksi cukup, bahan baku aman. Jadi kalau harga naik, itu bukan soal pasokan, tapi soal distribusi yang tidak dikendalikan. Ini tidak bisa dibiarkan,” kata Sarwo.

Kenaikan harga terjadi di wilayah dengan distribusi relatif lancar. Jakarta, Jawa Barat, dan Bali termasuk daerah yang mengalami kondisi tersebut.

Tag:  #zulhas #minyakita #naik #karena #dipakai #untuk #bantuan #pangan

KOMENTAR