Wall Street Melemah: Konflik Iran Bayangi Data Positif Ekonomi AS
Ilustrasi Wall Street, bursa saham AS New York Stock Exchange. (UNSPLASH/DAVID VIVES)
08:20
22 April 2026

Wall Street Melemah: Konflik Iran Bayangi Data Positif Ekonomi AS

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street berbalik arah dan ditutup melemah pada perdagangan Selasa (21/4/2026) waktu setempat, setelah menguat di awal sesi.

Mengutip Reuters pada Rabu (22/4/2026), Dow Jones Industrial Average turun 293,18 poin atau 0,59 persen ke level 49.149,38.

Sementara S&P 500 melemah 45,13 poin atau 0,63 persen ke 7.064,01, dan Nasdaq Composite turun 144,43 poin atau 0,59 persen ke 24.259,96.

Baca juga: Tensi AS-Iran Kembali Memanas, Wall Street Ditutup Melemah, Akhiri Reli 3 Pekan

Ilustrasi pasar saham.PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.

Sebelumnya, indeks S&P 500 sempat menguat hingga 0,4 persen pada sesi yang sama.

Kekhawatiran investor memuncak setelah muncul sinyal ketidakpastian baru terkait konflik Iran.

Seorang pejabat tinggi Iran menyatakan Teheran membuka peluang menghadiri pembicaraan dengan AS di Pakistan, namun dengan syarat Washington menghentikan kebijakan tekanan dan ancamannya.

Iran juga menegaskan tidak akan terlibat dalam negosiasi yang mengarah pada bentuk penyerahan.

Baca juga: Wall Street Menguat Usai Selat Hormuz Dibuka, Indeks S&P Cetak Rekor

Tekanan di pasar saham semakin dalam setelah laporan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan kunjungannya ke Pakistan untuk pembicaraan damai.

Padahal, dalam beberapa pekan terakhir, pasar sempat reli didorong harapan adanya kesepakatan damai dalam konflik tersebut.

“Pasar saat ini dihadapkan pada dua faktor, yakni bagaimana arah penyelesaian konflik Iran, dan di sisi lain ekspektasi kinerja keuangan yang cukup kuat. Perusahaan-perusahaan sejauh ini melaporkan hasil yang baik dan ekonomi juga masih solid,” ujar Thomas Martin, senior portfolio manager di GLOBALT Investments, Atlanta.

Ilustrasi aturan free float saham. SHUTTERSTOCK/THAPANA STUDIO Ilustrasi aturan free float saham.

Menurutnya, faktor utama yang sulit diprediksi tetap perkembangan konflik Iran.

Baca juga: Wall Street Cetak Rekor Tertinggi, Optimisme Perdamaian Iran dan AS Dorong Reli Pasar

“Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana hasilnya, dan cukup membingungkan jika ada yang menganggap situasi ini akan baik-baik saja,” katanya.

Di sisi lain, data ekonomi menunjukkan kinerja yang cukup kuat.

Departemen Perdagangan AS melaporkan penjualan ritel meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Maret, didorong oleh lonjakan harga bahan bakar akibat konflik dengan Iran yang meningkatkan pendapatan di SPBU.

Penjualan ritel tercatat naik 1,7 persen pada Maret, menjadi kenaikan terbesar sejak Maret 2025, setelah sebelumnya direvisi naik 0,7 persen pada Februari.

Baca juga: Wall Street Perkasa, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor di Tengah Harapan Damai AS-Iran

Angka ini juga melampaui proyeksi ekonom yang memperkirakan kenaikan sebesar 1,4 persen.

Optimisme investor juga masih ditopang oleh prospek kecerdasan buatan (AI) dan kinerja laba perusahaan.

Data LSEG menunjukkan ekspektasi pertumbuhan laba kuartal pertama berada di kisaran 14 persen.

JPMorgan Chase bahkan menaikkan target akhir tahun untuk indeks S&P 500, dengan alasan dorongan dari sektor teknologi dan AI.

Baca juga: Wall Street Reli, Pasar Abaikan Gagalnya Perundingan AS-Iran dan Fokus ke Data Ekonomi

Sementara itu, Amazon mengumumkan rencana investasi hingga 25 miliar dollar AS ke perusahaan AI Anthropic, menandakan perusahaan besar masih agresif berinvestasi di sektor tersebut.

Saham Amazon ditutup naik 0,66 persen.

Sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang menguat di indeks S&P 500, naik 1,31 persen, didorong oleh kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah.

Dari sisi emiten, UnitedHealth Group melonjak 7 persen setelah menaikkan proyeksi laba tahunan dan melampaui ekspektasi pasar untuk kuartal pertama, sekaligus menjadi kontributor terbesar penguatan indeks Dow.

Ilustrasi saham. PIXABAY/SERGEI TOKMAKOV Ilustrasi saham.

Sebaliknya, saham Apple turun 2,52 persen setelah perusahaan mengumumkan bahwa CEO Tim Cook akan menyerahkan kepemimpinan kepada kepala divisi perangkat keras, John Ternus.

Baca juga: Wall Street Menguat di Tengah Lonjakan Minyak, Investor Diingatkan Waspada Risiko Energi

Di sisi kebijakan moneter, investor juga mencermati proses konfirmasi Kevin Warsh sebagai kandidat pimpinan bank sentral AS.

Dalam sidang di Senat, Warsh menegaskan tidak memberikan janji kepada Presiden Donald Trump terkait penurunan suku bunga, serta menekankan independensi dalam menjalankan kebijakan moneter.

Namun, proses tersebut menghadapi hambatan setelah Senator Partai Republik Thom Tillis menyatakan akan menahan persetujuan hingga penyelidikan terhadap Ketua The Fed Jerome Powell dihentikan.

Kebuntuan ini berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter, terlebih Trump sebelumnya menyatakan akan memberhentikan Powell jika tidak mengundurkan diri saat masa jabatannya berakhir pada Mei.

Baca juga: Wall Street Ditutup Menguat, Harapan Damai AS-Iran Picu Optimisme Pasar

Secara keseluruhan, saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan yang menguat, dengan rasio 2,67 banding 1 di NYSE dan 2,53 banding 1 di Nasdaq.

Meski demikian, indeks S&P 500 masih mencatat 50 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu, sementara Nasdaq mencatat 144 saham dengan rekor tertinggi baru.

Tag:  #wall #street #melemah #konflik #iran #bayangi #data #positif #ekonomi

KOMENTAR