Harga Plastik Mahal, Kemenperin Sarankan Industri Kemasan Beralih Gunakan Kertas hingga Kaca
Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, sebut RI butuh 700.000 ha lahan tambahan untuk swasembada gula(KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN )
22:12
21 April 2026

Harga Plastik Mahal, Kemenperin Sarankan Industri Kemasan Beralih Gunakan Kertas hingga Kaca

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyiapkan sejumlah langkah untuk merespons lonjakan harga plastik yang belakangan menjadi perhatian pelaku industri, khususnya sektor makanan dan minuman.

Salah satu solusi yang didorong adalah penggunaan bahan kemasan alternatif seperti kertas (paperboard) hingga kaca guna menjaga keberlanjutan produksi.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, mengatakan bahwa kondisi yang berkembang saat ini masih berada pada tahap kekhawatiran industri, terutama terkait ketersediaan bahan baku dalam beberapa bulan ke depan.

“Jadi yang sekarang itu ada kekhawatiran. Kekhawatiran bagaimana nanti stoknya satu sampai dua bulan ini,” ujar Putu di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Baca juga: Harga Bahan Baku Plastik Melonjak Imbas Konflik Timteng, Industri Dipaksa Efisiensi

Ia menjelaskan, dalam rapat yang dipimpin Menteri Perindustrian dan dihadiri pelaku industri plastik dari hulu hingga hilir, disepakati bahwa pasokan bahan baku plastik dalam negeri masih tersedia.

“Dalam rapat tersebut semua pelaku industri mengatakan tersedia. Jadi pelaku industri mengatakan, plastiknya untuk bahan baku plastik maupun bahan baku untuk membuat plastiknya, jadi biji plastik maupun plastik itu tersedia,” jelasnya.

Meski demikian, Kemenperin mengakui adanya potensi kenaikan harga akibat tekanan global.

Pemerintah pun tengah mengkaji sejumlah opsi kebijakan untuk menahan lonjakan harga, termasuk kemungkinan relaksasi bea masuk bahan baku petrokimia.

“Memang dikhawatirkan ini harganya akan naik ya karena tadi di kondisi situasinya, sehingga waktu itu (dalam pertemuan) Pak Menteri menyampaikan ‘oke yang penting ketersediaan dulu’,” kata Putu.

Di sisi lain, Kemenperin mendorong diversifikasi bahan kemasan sebagai langkah mitigasi. Salah satu yang dinilai potensial adalah kemasan berbasis kertas yang saat ini sudah memiliki porsi signifikan di industri.

“Untuk kemasan dari kertas itu sudah mencapai 28 persen. Ini cukup besar. Berarti yang non plastik ini seperti paperboard ini sebenarnya sudah dikenal, sudah banyak digunakan ya seperti untuk susu, untuk juice dan banyak lagi,” ujarnya.

Selain kertas, penggunaan kemasan berbahan kaca juga didorong meski porsinya saat ini masih relatif kecil. Pemerintah menilai peningkatan penggunaan kaca dapat menjadi alternatif sekaligus mendorong industri terkait.

“Di samping itu juga kami penggunaan glass (kaca) mulai ngetren lagi. Ini nah ini coba kita juga akan dorong penggunaannya. Mudah-mudahan segera kita bisa gunakan dan kalau itu bisa ditingkatkan ke 5 persen mungkin juga bagus ya. Ini sedang kita coba juga,” tambahnya.

Lebih lanjut, Putu menegaskan bahwa pemerintah tidak menetapkan batasan langsung terhadap kenaikan harga, namun terus berupaya menjaga agar dampaknya tidak terlalu memberatkan pelaku usaha maupun konsumen.

Enggak ada kita membatasi, tapi kita, pemerintah, sedang mengupayakan untuk itu tidak apa tidak naik terlalu tinggi kan gitu,” katanya.

Kemenperin menilai, fleksibilitas pelaku industri dalam menjaga harga menjadi kunci penting di tengah situasi ini, mengingat sektor makanan dan minuman memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan harga di tingkat konsumen.

“Yang menjadi concern dari pelaku usaha pada saat ini, meskipun terjadi kenaikan (harga plastik), harga makanan masih tetap dijaga karena kita tahu mereka juga enggak mau kehilangan pasarnya,” tegas dia.

Baca juga: Buka-Tutup Selat Hormuz, Kapan Harga Plastik Bisa Turun?

Tag:  #harga #plastik #mahal #kemenperin #sarankan #industri #kemasan #beralih #gunakan #kertas #hingga #kaca

KOMENTAR