Konsultan Digital Branding Kernel Future Ungkap Kiat Bangun Brand dari Nol di Era Data dan AI
Alvin menunjukkan buku ?Panduan Data Driven Digital Branding Lengkap? yang membahas bagaimana data dan AI membantu brand tumbuh dari nol. (Dok. Aalvinsu) (Kernel Future)
08:00
17 April 2026

Konsultan Digital Branding Kernel Future Ungkap Kiat Bangun Brand dari Nol di Era Data dan AI

– Di tengah arus informasi yang dinamis, perilaku konsumen pun ikut berubah. Pembicara TEDx sekaligus konsultan branding digital dari Kernel Future, Alvin, memaparkan bahwa konsumen modern mulai cermat mengevaluasi kredibilitas sebuah entitas bisnis dalam hitungan menit, melakukan komparasi ulasan secara instan, serta menilai reputasi melalui jejak digital yang transparan.

Oleh karena itu, Alvin menilai, membangun sebuah brand dari nol kini tidak lagi hanya dapat mengandalkan aspek estetika atau rutinitas unggahan di media sosial.

Data sebagai nyawa kreativitas

Alvin menekankan satu prinsip fundamental yang sering terlupakan oleh para pelaku usaha baru mengenai hubungan antara data dan kreativitas. Prinsip tersebut adalah brand yang kuat lahir dari data, bukan sekadar kreativitas semata.

“Kreativitas memang penting, tetapi tanpa pemahaman audiens yang jelas, strategi komunikasi sebuah brand akan dengan mudah berubah menjadi kebisingan digital yang tidak bermakna bagi konsumen,” tegas Alvin dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (15/4/2026).

Menurut dia, branding seharusnya diperlakukan sebagai manajemen sistem yang terukur, bukan hanya aktivitas kreatif musiman yang mengikuti tren sesaat.

Baca juga: Strategi Bisnis Jadi Kunci Hadapi Tekanan Global dan Disrupsi Teknologi pada 2026

Fenomena itu pun diperkuat oleh temuan riset internal Kernel Future terhadap 500 responden. Riset ini menemukan bahwa 53 persen konsumen telah membentuk persepsi awal sebelum mereka mendarat di situs resmi sebuah brand.

Sementara itu, 79 persen responden mengakui bahwa keputusan akhir mereka sangat dipengaruhi oleh interaksi digital dan ulasan dari pengguna lain. Dengan kata lain, brand tidak lagi memiliki kontrol penuh atas narasinya sendiri, tetapi harus berkolaborasi dengan data perilaku pengguna.

Tantangan konsistensi dan kecepatan respons

Brand baru kini dihadapkan pada tantangan yang semakin nyata. Pasalnya, masyarakat Indonesia terpapar oleh ribuan pesan iklan setiap hari. Namun, secara kognitif, mereka hanya mampu mengingat sangat sedikit di antaranya.

Berdasarkan riset internal terhadap 75 klien, sekitar 62 persen konsumen mengalami kesulitan untuk membedakan satu brand dengan brand lainnya ketika pesan yang disampaikan tidak konsisten.

Pertumbuhan brand yang konsisten justru ditemukan pada mereka yang mengutamakan kepercayaan melalui respons cepat. Brand yang merespons mayoritas komentar pelanggan dalam waktu kurang dari 24 jam terbukti mengalami kenaikan tingkat kepercayaan hingga 40 persen.

Baca juga: Era Kecerdasan Buatan Bergeser ke Agentic AI, Eksekusi Strategi Bisnis Bisa Dilakukan Tanpa Instruksi Manusia

Pergeseran kepercayaan di mata konsumen global dan lokal

Urgensi mengenai kepercayaan juga didukung oleh temuan global dalam Edelman Trust Barometer 2025 bertajuk “Brand Trust, From We to Me”. Data tersebut mengungkapkan bahwa pengalaman langsung konsumen memiliki pengaruh sebesar 70 persen dalam membentuk opini terhadap sebuah brand, diikuti oleh pengalaman orang lain seperti rekomendasi dari teman, keluarga, dan ulasan pelanggan dengan pengaruh sebesar 59 persen.

Di sisi lain, komunikasi yang disampaikan langsung oleh brand melalui iklan atau media sosial hanya berpengaruh sebesar 50 persen. Dengan demikian, konsumen saat ini jauh lebih memercayai suara sesama pengguna dibandingkan klaim sepihak dari pemilik brand.

Kekuatan rating dalam pengambilan keputusan

Urgensi kepercayaan pun terlihat secara spesifik pada pasar lokal. Penelitian ilmiah dari Universitas Gadjah Mada tahun 2024 oleh Frendy Taufik Margiansyah dan Prof Dr Satibi mengenai pengaruh ulasan dan rating daring terhadap keputusan pembelian suplemen makanan menyimpulkan bahwa online customer rating memegang pengaruh paling kuat terhadap keputusan pembelian dengan koefisien regresi sebesar 0,717.

“Rating adalah sinyal kepercayaan paling nyata di lapangan. Data eksternal ini mengonfirmasi bahwa konsumen sangat mengandalkan rating sebagai indikator cepat keamanan dan kualitas sebelum mereka memutuskan untuk bertransaksi,” jelas Alvin.

Baca juga: Penelitian Ungkap Risiko Perubahan Iklim Ubah Strategi Bisnis

Masa depan branding dan adopsi AI

Gartner dalam Data & Analytics Summit 2026 menekankan bahwa ke depan, kecerdasan buatan (AI) akan berdampak pada seluruh aspek bisnis. Distinguished Vice President (VP) Analyst Gartner Rita Sallam memproyeksikan bahwa pada 2027, sebanyak 75 persen proses perekrutan akan mencakup pengujian kemahiran AI di tempat kerja.

Selain itu, penggunaan agen AI diprediksi akan menciptakan tantangan nyata bagi alat produktivitas konvensional. Fenomena tersebut dapat berakibat pada guncangan pasar senilai 58 miliar dollar AS.

Mengintegrasikan AI dalam strategi branding

Alvin mengingatkan para pelaku usaha agar tidak terjebak pada satu kesalahan umum, yaitu memulai branding dari identitas visual tanpa membangun sistem kerja yang solid.

Dari pengalaman mendampingi puluhan klien, ia justru menemukan bahwa mayoritas brand yang mampu bertahan lebih dari tiga tahun adalah mereka yang memulai dengan melakukan pemetaan terhadap kekhawatiran pelanggan. Berbagai brand tersebut mampu menjawab kebutuhan konsumen bahkan sebelum muncul secara terbuka.

Langkah diagnosis berbasis data menjadi fondasi utama dalam kerangka kerja yang dikembangkan oleh Alvin. Penggunaan AI dalam tahap tersebut dinilainya sangat membantu untuk mengelompokkan pola pertanyaan dan memetakan kebutuhan tersembunyi audiens dari ribuan komentar digital.

Baca juga: Menjaga Sensitivitas Identitas Dalam Strategi Branding Global

“Jika brand Anda tidak muncul dalam kata kunci yang relevan saat konsumen mencari solusi, maka Anda secara efektif dianggap tidak eksis di benak mereka,” tegas Alvin.

Buku ?Panduan Data Driven Digital Branding Lengkap? karya Alvin membahas pemanfaatan data dan AI sebagai strategi memperkuat brand di era digital. (Dok. Fakhri Anindita)
Fakhri Anindita Buku ?Panduan Data Driven Digital Branding Lengkap? karya Alvin membahas pemanfaatan data dan AI sebagai strategi memperkuat brand di era digital. (Dok. Fakhri Anindita)

Relevansi industri dan penerapan praktis

Keselarasan antara teori dan praktik menjadi perhatian para praktisi industri. Salah satunya adalah eks Director of Digital Forbes Indonesia, Bardan Mahdali, yang menyoroti bagaimana pendekatan berbasis data mampu memberikan kejelasan di tengah kompleksitas dunia digital.

“Alvin berhasil mengubah angka-angka data yang sering kali abstrak menjadi keputusan bisnis yang dapat diulang dan terukur melalui kerangka kerja yang sangat praktis bagi pelaku industri,” ujar Bardan.

Senada, eks Agency Leader Google Indonesia Astrie Suhaimi juga menyampaikan mengenai pentingnya kejujuran dalam penggunaan teknologi. Menurutnya, data bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari keinginan konsumen yang harus direspons secara tepat.

“Alvin tidak memposisikan AI sebagai tongkat ajaib, melainkan sebagai alat bantu operasional yang mumpuni untuk membaca pola perilaku audiens secara empiris,” ucapnya.

Baca juga: Percepat Transformasi Bisnis, PKSS Bidik Layanan SDM Terintegrasi Berbasis Teknologi

Alvin menegaskan bahwa evaluasi brand harus dilakukan berdasarkan metrik kepercayaan yang sesungguhnya.

“Ukurlah pelanggan yang datang karena rekomendasi dan melakukan pembelian ulang dalam tiga bulan. Itu adalah sinyal kepercayaan yang asli. Jangan tertipu oleh vanity metrics seperti jumlah likes atau impresi yang belum tentu berkorelasi dengan loyalitas,” tuturnya.

Tag:  #konsultan #digital #branding #kernel #future #ungkap #kiat #bangun #brand #dari #data

KOMENTAR