Blokade Iran Ganggu Rantai Pasok Global, Naiknya Harga Energi Bebani Konsumen Dunia
Ilustrasi harga minyak dunia.(GETTY IMAGES via BBC INDONESIA)
07:32
14 April 2026

Blokade Iran Ganggu Rantai Pasok Global, Naiknya Harga Energi Bebani Konsumen Dunia

- Harga minyak dunia melanjutkan penguatan dengan naik sekitar 4 persen pada akhir perdagangan Senin (13/4/2026) waktu setempat atau Selasa (14/4/2026) pagi WIB.

Kenaikan terjadi setelah Amerika Serikat (AS) mulai memblokade kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran menyusul gagalnya perundingan akhir pekan kedua negara di untuk mengakhiri perang.

Mengutip Reuters, langkah militer AS tersebut memicu ancaman balasan dari Teheran terhadap negara-negara Teluk, sekaligus memperburuk ketegangan geopolitik yang telah berlangsung lebih dari enam pekan sejak serangan bersama AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

Harga minyak Brent tercatat naik 4,16 dollar AS atau 4,4 persen ke level 99,36 dollar AS per barrel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,51 dollar AS atau 2,6 persen menjadi 99,08 dollar AS per barrel.

Baca juga: OPEC: Produksi Minyak Timur Tengah Anjlok 23-61 Persen, Butuh Berbulan-bulan untuk Pulih

Pada awal sesi perdagangan, kenaikan sempat lebih tinggi, dengan Brent melonjak lebih dari 8 dollar AS per barrel dan WTI naik lebih dari 9 dollar AS per barrel, sebelum akhirnya terkoreksi seiring volatilitas pasar

Gejolak terjadi di tengah ketidakpastian sikap Presiden AS Donald Trump, yang kerap berubah antara ancaman keras dan optimisme tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.

Perang yang berlangsung telah menyebabkan gangguan terbesar dalam pasokan minyak dan gas global, terutama akibat terganggunya lalu lintas di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen aliran minyak dan gas alam cair dunia.

Baca juga: PM Inggris Kesal Tagihan Energi Naik-Turun karena Aksi Trump dan Putin

Trump mengklaim sebanyak 34 kapal melintasi selat tersebut pada Minggu, meski angka ini belum dapat diverifikasi. Dalam kondisi normal, lebih dari 100 kapal biasanya melintas setiap hari.

Kenaikan harga energi pun mulai membebani konsumen di berbagai negara. Di Amerika Serikat, harga bensin dan solar mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022, sehingga mendorong pengendara mengurangi konsumsi.

Arab Saudi dilaporkan akan mengurangi pasokan minyak ke China pada Mei mendatang.

Baca juga: Trump Ancam Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus 100 Dollar AS

Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen meminta negara-negara anggota Uni Eropa untuk berkoordinasi dalam merespons lonjakan harga energi, setelah tagihan bahan bakar fosil meningkat 22 miliar euro sejak perang dimulai.

Sejumlah negara juga mulai menggelontorkan bantuan darurat untuk menekan dampak kenaikan biaya energi. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) bahkan menurunkan proyeksi permintaan minyak global pada kuartal II sebesar 500.000 barrel per hari.

Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol menyatakan, negara-negara anggota siap melepas cadangan minyak strategis jika diperlukan, meski ia berharap langkah tersebut tidak harus dilakukan.

Di pasar fisik, harga minyak mentah untuk pengiriman segera ke Eropa bahkan telah menyentuh rekor sekitar 150 dollar AS per barrel.

Baca juga: Dunia Bergejolak, ASEAN Kompak Siapkan Tameng Ekonomi Baru

Analis RBC Capital Markets, Helima Croft, menilai harga di pasar berjangka berpotensi menyusul lonjakan pasar fisik jika blokade AS benar-benar diterapkan secara penuh.

"(Jika) Trump benar-benar mendukung ancaman blokade dengan pengerahan kapal, maka harga di pasar berjangka dan fisik bisa segera menyatu," ujarnya.

Trump juga memperingatkan bahwa kapal cepat Iran yang mendekati blokade laut AS akan dihancurkan. Namun, sekutu NATO menegaskan tidak akan terlibat dalam rencana tersebut dan hanya akan turun tangan setelah konflik berakhir.

Meski ketegangan meningkat, sejumlah analis melihat masih ada peluang meredanya konflik. Direktur energi berjangka Mizuho, Bob Yawger, mengatakan gencatan senjata masih bertahan untuk saat ini dan kedua pihak disebut masih melanjutkan komunikasi.

"Sudah beberapa hari sejak Iran menyerang negara-negara tetangganya, dan AS serta Israel belum menyerang Iran. Mungkin ada secercah harapan di ujung terowongan," kata Yawger.

Tag:  #blokade #iran #ganggu #rantai #pasok #global #naiknya #harga #energi #bebani #konsumen #dunia

KOMENTAR