Biodiesel Dinilai Efektif Tekan Impor BBM, Hemat Devisa hingga Rp 170 T
Program mandatori biodiesel dinilai efektif dalam menekan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar, sekaligus memperbaiki neraca perdagangan energi Indonesia.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Rhenald Kasali, mengatakan kebijakan mandatori biodiesel memiliki potensi besar sebagai substitusi solar.
Hal ini didukung oleh ketersediaan bahan baku kelapa sawit yang melimpah di dalam negeri serta kesiapan teknologi pengolahan yang relatif matang.
Baca juga: Biodiesel B50 Berlaku 1 Juli 2026, Airlangga: Kurangi Penggunaan BBM Berbasis Fosil
Seorang staf menunjukkan sampel biodiesel di stan pameran pada ajang 21st Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Nusa Dua, Bali, Jumat (14/11/2025).
"Program biodiesel memang efektif menekan impor solar dan memperbaiki neraca perdagangan energi melalui pengurangan impor solar secara signifikan. Program itu bisa menghemat devisa hingga 8 miliar sampai 10 miliar dollar AS (setara sekitar Rp 137,38 triliun hingga Rp 171,72 triliun, asumsi kurs Rp 17.172 per dollar AS) per tahun," ujar Rhenald dalam keterangannya di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Menurut dia, keberlanjutan program biodiesel sangat bergantung pada tata kelola industri kelapa sawit yang baik.
Hal tersebut mencakup upaya pencegahan deforestasi, pelestarian lingkungan, serta penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat.
Rhenald juga mengingatkan adanya potensi trade-off antara kebutuhan energi dan pangan. Peningkatan alokasi crude palm oil (CPO) untuk energi berpotensi mengurangi pasokan untuk kebutuhan pangan.
Baca juga: Kebutuhan Biodiesel Dunia Naik, Harga CPO Diprediksi Terus Melonjak
"Perlu diingat, sawit bukan produk homogen untuk energi. Peningkatan alokasi crude palm oil (CPO) ke energi dapat mengurangi pasokan pangan yang memicu kesulitan bagi substitusi dapur, yaitu kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng," ujarnya.
Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, menyebut pengembangan bioenergi melalui kebijakan mandatori biodiesel berkontribusi besar dalam menurunkan impor BBM berbasis fosil.
Ilustrasi kelapa sawit. Negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia.
Ia merinci, Indonesia secara konsisten mengembangkan program mandatori biodiesel mulai dari B1 hingga B50 yang ditargetkan pada Juli 2026.
Program tersebut mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor solar hingga sekitar 50 persen.
Baca juga: Ada Perang, Kementan Kebut Hilirisasi untuk Biodiesel dan Etanol
Penerapan biodiesel B40, kata Tungkot, telah menurunkan impor solar dari 8,3 juta kiloliter pada 2024 menjadi 5 juta kiloliter pada 2025, atau berkurang 3,3 juta kiloliter.
Dari sisi penghematan devisa, kebijakan biodiesel pada 2025 tercatat menghemat Rp 130,21 triliun.
Selain itu, kebijakan ini juga mampu mengurangi emisi sebesar 38,88 juta ton CO2 ekuivalen serta meningkatkan nilai tambah CPO menjadi biodiesel sebesar Rp 20,43 triliun.
Implementasi kebijakan mandatori biodiesel di Indonesia dilakukan secara bertahap sejak 2008, dimulai dari B1 hingga B2,5.
Baca juga: Menuju B50, Produksi Biodiesel Nasional Masih Kurang 2 Juta KL
Program tersebut kemudian terus berkembang hingga menuju target B50 dengan dukungan dana sawit dari pungutan ekspor (levy) yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
"Salah satu keberhasilan kita saat ini adalah substitusi solar impor dengan biodiesel sawit," kata Tungkot.
Ia menambahkan, pengembangan bioenergi sawit juga menjadi bagian dari upaya perbaikan lingkungan.
Penggunaan biodiesel dinilai lebih ramah lingkungan karena menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil.
Baca juga: Stok Tinggi dan Permintaan Biodiesel Lesu Tekan Harga CPO
Menurut dia, konsumsi energi fosil secara global merupakan kontributor utama emisi, yakni sekitar 70 sampai 80 persen, yang memicu pemanasan global dan perubahan iklim.
"Dengan menggunakan bioenergi sawit, Indonesia telah berkontribusi mengurangi emisi global. Artinya, penggunaan bioenergi sawit juga memperbaiki lingkungan hidup dan bukan merusak lingkungan," ujarnya.
Ilustrasi pencampuran bahan bakar nabati jenis biodiesel ke dalam bahan bakar minyak jenis solar 40 persen atau B40
Lebih lanjut, Tungkot menyebut bioenergi sawit menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan kemandirian energi nasional.
Dengan peningkatan pemanfaatan biodiesel di dalam negeri, ketergantungan terhadap impor BBM fosil diharapkan terus menurun.
Baca juga: Kata Airlangga, Biodiesel Hemat Devisa 8 miliar Dollar dan Tekan Emisi
Selain itu, kebijakan ini juga memberikan dampak terhadap sektor ekonomi secara lebih luas, terutama bagi industri kelapa sawit.
Permintaan terhadap CPO meningkat dan berpotensi menjaga harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.
"Oleh karena itu, produktivitas kebun sawit harus terus ditingkatkan dan teknologi pengolahan bioenergi diperbaiki secara terus-menerus sehingga diperoleh teknologi yang semakin efisien," kata Tungkot.
Tag: #biodiesel #dinilai #efektif #tekan #impor #hemat #devisa #hingga