Generasi tanpa Identitas Ontologis
DUNIA kerja hari ini sedang mengalami guncangan besar. Guncangan yang menggebrak bukan karena mesin atau adanya AI (artificial intelligence), melainkan karena pergeseran sosial-psikologi subjek pelakunya, yakni Generasi Z.
Entitas ini mau tidak mau adalah kelompok yang telah, sedang, dan akan mengisi pasar kerja hari ini.
Sehingga, sekecil apa pun ekspresi mereka dalam mendefinisikan apa yang disebut sebagai kerja akan memberikan dampak besar kepada institusi atau instansi pemberi kerja.
Jika kita mengelaborasi tesis Manuel Castells tentang masyarakat jaringan, Gen Z muncul sebagai self-programmable labor.
Baca juga: Ketika Kereta Cepat Diserahkan ke Kemenkeu
Mereka adalah tenaga kerja yang mampu mendefinisikan ulang keahliannya secara terus-menerus di tengah arus informasi yang menuntutnya untuk terus sesuai.
Namun, di balik kelincahan itu, tersimpan sebuah paradoks sosiologis yang mendalam namun kritis. Di mana mereka adalah generasi dengan identitas cair yang menantang kemapanan kapitalisme konvensional.
Proyek Identitas Ilusif
Bagi sebagian Gen Z, pekerjaan bukan lagi sebuah habit atau rutinitas untuk mencari nafkah semata.
Sebuah data riset pasar kerja tahun 2026 menunjukkan fenomena mengejutkan bahwa entitas ini, lebih dari 65 persennya, memandang pekerjaan sebagai proyek identitas.
Artinya, mereka tidak mencari gaji besar sebagai prioritas utama, melainkan kenyamanan dan ruang untuk aktualisasi diri.
Meski mereka benar mengejar penghasilan yang tinggi, itu hanya dari perspektif mereka tentang identitas yang ingin mereka ekspresikan saja.
Di sini, konsep illusio dari Pierre Bourdieu menemukan relevansinya. Gen Z memiliki rasa memiliki permainan yang berbeda.
Mereka lebih memilih menginvestasikan waktu untuk mengakumulasi modal kultural digital—seperti personal branding dan kemahiran koding—daripada mengejar loyalitas pada satu institusi yang telah menjembatani mereka mendapatkan penghasilan.
Maka dengan sendirinya, mereka adalah subjek yang sangat rentan terhadap keberlanjutan kerja itu sendiri.
Karena bagi mereka, berpindah-pindah dari satu profesi atau pekerjaan ke pekerjaan lainnya merupakan bentuk adaptasi, bukan kegagalan.
Namun, kelincahan seperti ini seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, mereka sangat adaptabel terhadap gig economy yang berbasis output dan proyek.
Sehingga bagi mereka, bukan sesuatu yang sulit untuk bisa mengejar target dengan tenggat yang ketat. Mereka menolak juga belenggu office hours peninggalan generasi Milenial dan Gen X yang dianggap rigid.
Sebagai waktu kerja, hal tersebut selain tidak berkorelasi dengan produktivitas, juga tidak berkelindan dengan semangat kerja berbasis hasil.
Namun di sisi lain, fleksibilitas ini melahirkan kerentanan yang akut.
Banyak Gen Z terjebak dalam pengangguran bukan karena ketiadaan skill, melainkan karena ketidakmampuan beradaptasi dengan tekanan realitas eksternal.
Secara sosiologis, mereka kehilangan apa yang disebut Anthony Giddens sebagai ontological security atau rasa aman eksistensial.
Jika generasi sebelumnya merasa aman dengan kontrak kerja seumur hidup, Gen Z justru merasa terancam jika terjebak dalam satu identitas statis.
Seakan-akan bagi Gen Z, ketidakpastian menjadi satu-satunya kepastian yang mereka miliki.
Sebab dengan itu, mereka bisa menjangkau beragam pengalaman, cerita, variasi, serta kedalaman dari berbagai realitas.
Modal Simbolik vs Modal Skill
Pasar kerja saat ini telah bertransformasi menjadi arena pertarungan modal simbolik.
Citra digital dan performa di media sosial sering kali dianggap lebih berharga daripada kompetensi teknis yang kaku.
Hal ini telah menciptakan kelincahan kultural yang luar biasa, namun sekaligus menciptakan gap dengan sistem produksi kapitalisme konvensional yang masih menuntut kestabilan dan prediktabilitas.
Negara dan institusi swasta, yang mayoritas masih dikelola oleh generasi Milenial dan Gen X dengan pola pikir konvensional, kini menghadapi tantangan eksistensial.
Baca juga: Inflasi Pengamat atau Defisit Toleransi Kritik?
Jika sistem birokrasi dan produksi tidak segera melakukan redefinisi ulang terhadap psikologi kerja Gen Z, maka institusi tersebut akan segera kehilangan relevansi.
Mereka akan ditinggalkan oleh generasi yang tidak mau lagi diikat oleh batas-batas administrasi tradisional.
Walau bagaimanapun, Gen Z adalah masa depan keberlanjutan suatu lembaga.
Sehingga adaptabilitas pada karakter mereka akan memberikan proyeksi ketahanan instansi atau lembaga itu di masa mendatang.
Di sisi lain, Gen Z merupakan kelompok yang begitu mudah membangun dan mengembangkan relasi yang tidak berbatas hal-hal yang sifatnya primordial, seperti etnis, negara, dan agama.
Maka dari itu, dengan berbagai data yang ada, prediksi saya, generasi tanpa identitas ini justru bisa menjadi modal terkuat bagi sistem produksi masa depan.
Sifat mereka yang inklusif dan cair memungkinkan lembaga produksi bekerja melampaui batas-batas kultural, sosial, dan geografis. Maka dari itu, pemerintah harus hadir sebagai jembatan.
Kebijakan publik tidak boleh lagi hanya bicara tentang lowongan kerja, tetapi harus bicara tentang ekosistem proyek. Kapitalisme jaringan menuntut fleksibilitas, dan Gen Z adalah sumbu bakar utamanya.
Namun, tanpa perlindungan sosial yang mampu mengakomodasi sifat kerja project-based ini, kita hanya akan memanen ledakan pengangguran terdidik yang frustrasi.
Pada akhirnya, memahami Gen Z bukan soal menghakimi kemalasan mereka, mager mereka, atau sejumlah pandangan negatif lainnya.
Melainkan tentang menyadari bahwa janji-janji lama tentang kestabilan kerja telah usai. Kita sedang menyongsong era di mana identitas adalah sesuatu yang terus ditulis ulang, dan Gen Z adalah pena pertamanya.