Transaksi Digital Tetap Ngebut Saat Global Bergejolak, QRIS Melonjak
Jajaran manajemen ALTO Network saat memaparkan kinerja transaksi digital di Jakarta. (DOK. ALTO)
07:07
11 April 2026

Transaksi Digital Tetap Ngebut Saat Global Bergejolak, QRIS Melonjak

– Di tengah gejolak ekonomi global yang belum mereda, aktivitas transaksi digital di Indonesia justru menunjukkan arah berbeda: tetap tumbuh dan bahkan kian menguat.

Lonjakan ini salah satunya tercermin dari penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang meningkat, terutama saat momentum Lebaran 2026 ketika transaksi domestik tetap bergerak naik.

Chief Executive Officer ALTO Network Gretel Griselda menilai, tren ini mencerminkan daya tahan konsumsi masyarakat yang masih kuat di tengah ketidakpastian global.

“Di tengah kondisi ekonomi global saat ini yang cenderung memiliki volatilitas tinggi, kami melihat trend pembayaran di Indonesia masih stabil bahkan cenderung menguat," ujar Gretel, melalui keterangannya, dikutip Sabtu (11/4/2026).

"Ini ditandai dengan tetap tumbuhnya transaksi yang kami proses baik dari sisi jumlah transaksi maupun volume transaksi, ini dapat menjadi indikasi bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki daya konsumsi yang baik. Saat ini ALTO Network memproses hingga 30 juta transaksi per hari nya,” lanjut Gretel.

Baca juga: QRIS Livin by Mandiri Kini Bisa buat Bayar Belanja di Korea Selatan

QRIS Melonjak, Daya Beli Jadi Sinyal

Sejalan dengan itu, PT ALTO Network (ALTO Network) mencatat pertumbuhan volume transaksi sebesar 50 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini memperlihatkan bahwa sistem pembayaran domestik masih bergerak dinamis di tengah tekanan eksternal.

Secara industri, tren pertumbuhan juga terlihat luas. Data Bank Indonesia menunjukkan transaksi digital banking tumbuh lebih dari 20–30 persen secara tahunan, sementara QRIS sempat melampaui 100 persen pada fase awal adopsinya. Hal ini menegaskan peran penting pembayaran digital dalam menopang aktivitas ekonomi nasional.

Di balik pertumbuhan tersebut, kebutuhan akan stabilitas sistem menjadi semakin krusial. ALTO menjaga keandalan layanan dengan capaian Service Level Agreement uptime 99,99 persen guna memastikan transaksi tetap berjalan tanpa gangguan berarti.

Peningkatan transaksi digital juga tercermin dari kinerja QRIS yang diproses ALTO Network.

Volume transaksi QRIS tumbuh 89,56 persen, sementara nilai transaksinya meningkat 94,18 persen secara tahunan, membandingkan Maret 2025 dengan Maret 2026.

Seiring lonjakan volume tersebut, pelaku industri dihadapkan pada tantangan baru, mulai dari kompleksitas jenis transaksi hingga kebutuhan analisis data yang harus dilakukan secara cepat dan real time.

Baca juga: Pramuwisata Kalbar Kini Terima Tip via QRIS GoPay Merchant

Integrasi Sistem Jadi Kunci Hadapi Lonjakan Transaksi

Penggunaan QRIS untuk transaksi digital. QRIS bisa dipakai di Korea Selatan. QRIS Korea Selatan. QRIS bisa dipakai di Korsel.SHUTTERSTOCK/Sanubareeey Penggunaan QRIS untuk transaksi digital. QRIS bisa dipakai di Korea Selatan. QRIS Korea Selatan. QRIS bisa dipakai di Korsel.Di sisi operasional, banyak institusi keuangan masih mengandalkan dashboard terpisah untuk memantau transaksi hingga menangani gangguan. Kondisi ini berisiko menimbulkan data yang tidak terpusat dan memperlambat pengambilan keputusan.

Untuk menjawab tantangan itu, ALTO memperkenalkan ASKARA Connect yang mengintegrasikan berbagai proses operasional dalam satu sistem. Pendekatan ini memungkinkan visibilitas yang lebih menyeluruh sehingga respons terhadap gangguan bisa dilakukan lebih cepat.

Selain itu, koordinasi antar pihak juga menjadi perhatian, mengingat banyaknya kanal komunikasi yang digunakan dalam penanganan isu. Melalui ASKARA Collab, ALTO menggabungkan automasi dengan intervensi manusia agar proses koordinasi lebih terstruktur dan mudah ditelusuri.

Baca juga: Transaksi Digital Jadi Mesin Baru Kinerja Bank Mandiri, Bagaimana Prospek Saham BMRI?

Chief Business Officer ALTO Network Rangga Wiseno menekankan bahwa tantangan ke depan bukan sekadar kecepatan transaksi, tetapi juga integrasi sistem secara menyeluruh.

“Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana memproses transaksi dengan cepat, tetapi bagaimana memastikan seluruh proses di belakangnya. Mulai dari monitoring, koordinasi, hingga penanganan kendala bisa berjalan secara terintegrasi dan efisien,” kata Rangga.

Transformasi ini pada akhirnya berdampak langsung pada masyarakat. Dengan sistem yang lebih terintegrasi, potensi gangguan dapat dideteksi lebih dini, waktu penanganan menjadi lebih cepat, dan risiko kegagalan transaksi bisa ditekan.

Bagi pengguna, kondisi ini berarti akses pembayaran yang lebih stabil, baik untuk kebutuhan harian, transaksi UMKM, maupun aktivitas ekonomi digital yang terus berkembang. Ke depan, integrasi teknologi, operasional, dan komunikasi diperkirakan menjadi fondasi utama dalam menjaga pertumbuhan ekonomi digital Indonesia tetap inklusif dan berkelanjutan.

Baca juga: QRIS Bisa Dipakai di Korea Selatan, Transaksi Makin Praktis

Ditopang Ekspansi, BI Catat Transaksi QRIS Tumbuh Pesat

Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menunjukkan pertumbuhan signifikan seiring ekspansi ke berbagai negara dan inovasi fitur pembayaran. Hingga Kuartal IV 2025, transaksi QRIS tercatat tumbuh 139,99 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan, peningkatan tersebut tidak lepas dari meluasnya implementasi QRIS, termasuk QRIS Antarnegara yang kini sudah dapat digunakan di Singapura, Thailand, Malaysia, dan Jepang, serta terus diperluas ke negara lain.

“Dalam waktu dekat mudah-mudahan sebelum Kuartal I kita sudah bisa implementasi dengan China dan Korea Selatan. Dan seperti diketahui, kita sedang melakukan diskusi yang intens dengan India,” ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (21/1/2026).

Lonjakan transaksi juga didorong adopsi fitur QRIS Tap (Tap In-Tap Out), khususnya di sektor transportasi. Pada Kuartal IV 2025, transaksi QRIS TAP mencapai lebih dari 1,44 juta transaksi dengan nominal Rp 28 miliar, atau tumbuh sekitar 267 persen secara kuartalan.

“Peningkatan yang signifikan itu karena tadi ada fitur QRIS Tap In-Tap Out,” kata Filianingsih.

Ke depan, BI menargetkan transaksi QRIS menembus 17 miliar transaksi dengan dukungan 60 juta pengguna dan 45 juta merchant.

Tag:  #transaksi #digital #tetap #ngebut #saat #global #bergejolak #qris #melonjak

KOMENTAR