Harga Plastik Naik, UMKM Tertekan dan Industri Beralih ke Daur Ulang
— Lonjakan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir menjadi tekanan signifikan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama sektor makanan dan minuman yang bergantung pada kemasan sekali pakai.
Kenaikan harga plastik ini dipicu gangguan rantai pasok global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak pada distribusi nafta, bahan baku utama plastik berbasis petrokimia.
Kondisi tersebut mendorong harga plastik naik di dalam negeri hingga 30 sampai 80 persen pada April 2026.
Baca juga: Harga Plastik Melonjak, Laba UMKM Turun sampai 25 Persen
Ilustrasi kantong plastik.
Di tingkat pasar, tekanan harga juga dirasakan pedagang. Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia Reynaldi Sarijowan menyebut harga plastik naik bertahap dalam beberapa pekan terakhir.
“Jauh sebelum memasuki Ramadhan itu masih Rp 10.000. Kemudian bertahap tuh selama sepekan, sepekan, sepekan naik Rp 500, naik Rp 700, naik macam-macam tuh sampai hari ini puncaknya itu naiknya di kita proyeksikan di 50 persen,” kata Reynaldi.
Gangguan nafta dan tekanan rantai pasok global
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan tekanan terhadap pasokan bahan baku plastik tidak terlepas dari terganggunya rantai pasok global, khususnya pada nafta.
“Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu koreksi suplai pada sektor-sektor industri yang bergantung pada nafta sebagai bahan baku utama. Mengingat plastik merupakan produk turunan dari proses petrokimia yang berbasis minyak bumi, gangguan pada jalur distribusi dan produksi di global memang memberikan tekanan pada struktur biaya di tingkat hulu,” ujarnya.
Baca juga: Pedagang Keluhkan Harga Plastik Mahal: Naik Setiap Hari
Gangguan tersebut bahkan disebut berdampak signifikan terhadap pasokan global.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan sekitar 70 persen suplai nafta sempat terhenti akibat konflik yang juga memengaruhi jalur distribusi seperti Selat Hormuz.
“Sudah mulai berani menggunakan campuran recycle material dengan virgin material atau bahan baku plastik murni,” kata Fajar.
Ia menjelaskan, keterbatasan bahan baku mendorong industri melakukan berbagai penyesuaian agar tetap dapat berproduksi.
Baca juga: Menteri Maman: Rumput Laut dan Singkong Bisa Jadi Bahan Plastik
“Ini kalau tidak kita campur dengan recycle plastik nanti akan ada perbedaan harga yang akhirnya harga tidak bisa dijangkau,” ujarnya.
Tekanan biaya ke UMKM
Dampak kenaikan harga plastik paling terasa di sektor hilir, khususnya UMKM. Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM Universitas Airlangga (Unair) Atik Purmiyati menegaskan bahwa pelaku usaha kecil menghadapi tekanan biaya yang signifikan.
“Kenaikan harga plastik akan menambah biaya produksi hingga dapat menggerus keuntungan usaha,” ujar Atik, dikutip dari laman resmi Unair, Jumat (10/4/2026),
Kondisi ini diperburuk oleh ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik yang masih tinggi, serta keterbatasan modal dan sumber daya manusia di kalangan UMKM.
Baca juga: Harga Plastik Naik, UMKM Pilih Pangkas Untung demi Jaga Harga
“Kondisi ini menjadi lebih parah dengan terbatasnya modal usaha dan sumber daya manusia yang pelaku usaha UMKM miliki dalam menghadapi kenaikan harga secara tiba-tiba,” kata Atik.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang M Sri Wahyudi Suliswanto menilai situasi ini sebagai tekanan biaya struktural yang sulit dihindari.
“Ketika rantai pasok internasional terganggu dan harga minyak naik, dampaknya langsung terasa di dalam negeri. Ini menunjukkan kita belum mandiri,” ujarnya, dikutip dari laman resmi.
Harga plastik di pasar tradisional terus melonjak setiap harinya. Senin, (6/4/2026).
Strategi industri: daur ulang dan efisiensi
Untuk menjaga produksi tetap berjalan, industri plastik mulai mengadopsi berbagai strategi. Salah satunya adalah penggunaan bahan daur ulang sebagai substitusi sebagian bahan baku.
Baca juga: Supply Plastik Terganggu, Menperin: Pembukaan Selat Hormuz Normalkan Logistik
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan pemerintah mendorong penggunaan plastik daur ulang berkualitas tinggi.
“Pemerintah mendorong peningkatan penggunaan plastik hasil daur ulang atau recycled plastic berkualitas tinggi sebagai substitusi pasokan untuk menjaga stabilitas stok di pasar,” jelasnya.
Langkah ini dilakukan bersamaan dengan pencarian sumber pasokan baru di luar kawasan Timur Tengah.
“Industri sedang aktif menjajaki pasokan nafta dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan wilayah,” kata Agus.
Baca juga: Wamenperin: CPO Bisa Jadi Alternatif Bahan Baku Plastik
Selain itu, industri juga mengoptimalkan penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) sebagai bahan baku penyangga.
“Penggunaan LPG dioptimalkan sebagai bahan baku penyangga atau buffer dalam proses produksi guna menutupi celah kekurangan pasokan nafta,” tambahnya.
Di tingkat pabrik, efisiensi juga dilakukan melalui penyesuaian spesifikasi produk. Fajar Budiono menyebut produsen mulai mengurangi ketebalan plastik tanpa mengurangi fungsi.
“Contoh kalau plastik kerupuk yang tadinya menggunakan ketebalan 100 mikron bisa dikurangi menjadi 80 atau 70 mikron tanpa mengurangi fungsi dari si kemasan itu sendiri,” kata dia.
Baca juga: Menperin Minta Warga Tak Panik, Klaim Stok Plastik Masih Cukup
Substitusi bahan baku dan alternatif nabati
Selain daur ulang, pemerintah juga menyiapkan strategi jangka panjang melalui substitusi bahan baku berbasis minyak bumi.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyebut bahan nabati seperti rumput laut dan singkong sebagai alternatif potensial.
“Rumput laut, singkong. Ini baru dua itu saja ya baru dua itu yang yang bisa dipakai untuk plastik ini,” kata Maman.
Menurut dia, langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor nafta sekaligus memanfaatkan sumber daya domestik.
Baca juga: Kemenperin Genjot Daur Ulang Plastik Saat Pasokan Bahan Baku Terganggu
“Dari nafta yang kita impor dari luar ya kita ganti jadi produk-produk yang di Indonesia sudah cukup banyak,” ujarnya.
Namun, implementasi kebijakan ini masih dalam tahap pembahasan lintas kementerian dan belum memiliki timeline pasti.
“Saya belum bisa bicara sampai sejauh itu (kapan bisa diterapkan),” kata Maman.
Adaptasi UMKM di tengah tekanan
Di sisi pelaku usaha, adaptasi dilakukan dengan berbagai cara. Atik Purmiyati menyebut UMKM dapat melakukan penyesuaian volume produk, diversifikasi pasar, hingga mengganti jenis kemasan.
Baca juga: Harga Plastik Melonjak, Industri AMDK UMKM Terancam Tutup
“Substitusi plastik ke bahan ramah lingkungan seperti kemasan biodegradable dari pati jagung, tebu, singkong (cassava bag) dan serat nanas,” jelas Atik.
Selain itu, strategi kolektif seperti pembelian bahan baku dalam jumlah besar juga dapat membantu menekan biaya.
“Pembelian dalam jumlah yang besar sehingga bisa mendapatkan harga lebih murah,” ujarnya.
Pelaku usaha juga didorong untuk melakukan inovasi dalam model bisnis, termasuk memberikan insentif bagi konsumen yang membawa wadah sendiri.
Baca juga: Alternatif Impor Bahan Baku Plastik Indonesia dari AS hingga Afrika
Harga plastik di pasar tradisional terus melonjak setiap harinya. Senin, (6/4/2026).
Perubahan pasar dan perilaku konsumen
Perubahan perilaku konsumen turut menjadi faktor yang memengaruhi dinamika penggunaan plastik. Atik menilai edukasi kepada masyarakat penting untuk mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
“Perubahan pola konsumsi masyarakat dapat mempengaruhi permintaan pasar,” ujarnya.
Dorongan penggunaan tas belanja ulang pakai, sistem isi ulang, hingga kebiasaan membawa wadah sendiri menjadi bagian dari upaya tersebut.
Upaya menjaga pasokan dan stabilitas industri
Meski tekanan global meningkat, pemerintah memastikan pasokan plastik tetap tersedia di pasar. Agus Gumiwang menegaskan berbagai langkah pengamanan pasokan terus dilakukan.
Baca juga: ID Food Kesulitan Kemasan, Pasokan Plastik Seret Imbas Konflik Timur Tengah
“Masyarakat dan industri hilir tidak perlu panik, karena produk plastik dipastikan masih tersedia di pasar. Pemerintah berkomitmen memastikan tidak terjadi kekosongan stok dengan mengoptimalkan berbagai kanal pasokan alternatif,” ungkapnya.
Data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) juga menunjukkan subsektor industri kemasan masih mencatat kinerja tinggi pada Maret 2026.
“Upaya pengamanan pasokan terus berjalan secara paralel,” tegas Agus.
Di sisi industri, pencarian sumber bahan baku baru terus dilakukan, meski menghadapi tantangan waktu distribusi yang lebih panjang.
Baca juga: Kenaikan Harga Plastik dan Cermin Kerentanan Ekonomi
Fajar menyebut pengiriman dari sumber baru bisa mencapai 50 hari, jauh lebih lama dibandingkan jalur Timur Tengah yang berkisar 10 sampai 15 hari.
“Sumber pasokan baru ini kan di luar Middle East sehingga paling cepat mereka butuh waktu 50 hari,” tuturnya.
PEMBELI ANTRI: Penjual Toko Plastik keluhkan tingginya harga di Pasar Peterongan Semarang yang beralamat di Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Pada Selasa, (7/4/2026).
Tekanan harga dan penyesuaian di tingkat produksi
Kenaikan harga bahan baku global turut mendorong koreksi harga di tingkat produksi. Namun, pemerintah memastikan kondisi tersebut masih terkendali.
“Memang terjadi koreksi harga di tingkat produksi akibat kenaikan biaya bahan baku global,” kata Agus.
Baca juga: Harga Plastik Naik Imbas Pasokan Petrokimia Global Terganggu, UMKM Tertekan
Di tengah situasi ini, industri dan pelaku usaha terus melakukan berbagai penyesuaian untuk menjaga keberlangsungan produksi sekaligus memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
Kementerian Perindustrian juga memperkuat koordinasi dengan pelaku industri manufaktur untuk menjaga daya tahan sektor tersebut.
Langkah-langkah tersebut dilakukan seiring upaya menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan, stabilitas harga, dan keberlanjutan industri di tengah tekanan global terhadap bahan baku plastik. (Penulis: Syakirun Ni'am, Sakina Rakhma Diah Setiawan, Teuku Muhammad Valdy Arief | Editor: Aprillia Ika, Teuku Muhammad Valdy Arief, Sakina Rakhma Diah Setiawan)
Tag: #harga #plastik #naik #umkm #tertekan #industri #beralih #daur #ulang