Rupiah Kembali Tertekan, Sentuh Rp 17.104 per Dollar AS
Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali tertekan saat penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026). Rupiah melemah 14 poin atau 0,08 persen ke level Rp 17.104 per dollar AS.
Pelemahan rupiah masih disebabkan oleh dinamika di Timur Tengah, meski mulai mereda seiring tercapainya gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, kondisi tersebut dinilai masih rapuh dan belum sepenuhnya mampu mengembalikan stabilitas pasar energi global.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut di saat yang sama, Israel juga memberi sinyal pembukaan jalur diplomatik dengan menyatakan kesiapan untuk memulai pembicaraan langsung dengan Lebanon dalam waktu dekat.
“Ketegangan mereda atas gencatan senjata dua minggu yang rapuh antara AS dan Iran, sementara Israel memberi sinyal potensi pembukaan diplomatik, dengan mengatakan siap untuk memulai pembicaraan langsung dengan Lebanon sesegera mungkin,” ujar Ibrahim kepada wartawan.
Baca juga: Rupiah Rebound ke Rp 17.083 Per Dollar AS, Mata Uang Asia Bergerak Bervariasi
Meski demikian, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih jauh dari normal. Volume lalu lintas kapal tercatat berada di bawah 10 persen dari kondisi normal pada Kamis (9/4/2026), meskipun gencatan senjata telah diumumkan.
Situasi ini terjadi karena Iran tetap menunjukkan kontrol ketat terhadap jalur tersebut, termasuk dengan memperingatkan kapal-kapal untuk tetap berada di perairan teritorialnya. Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada Selasa lalu juga belum sepenuhnya menghentikan konflik, dengan laporan pertempuran yang masih berlangsung di sejumlah titik.
Sejumlah analis menilai Pakistan akan berupaya mendorong kesepakatan damai yang lebih permanen. Namun, keterbatasan pengaruh dinilai menjadi kendala dalam memaksa pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Di sisi lain, Iran disebut berencana mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan damai. Namun, wacana tersebut ditolak oleh negara-negara Barat serta badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sebagai jalur vital distribusi energi global, penutupan Selat Hormuz berdampak signifikan. Konflik yang dimulai sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran, telah menyebabkan kerusakan pada sekitar 50 infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Bahkan, menurut JPMorgan, sekitar 2,4 juta barel per hari kapasitas penyulingan minyak dilaporkan tidak beroperasi akibat serangan drone dan rudal selama hampir enam minggu terakhir.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Jumat.
Baca juga: Kisah Menko Ekuin Era Soeharto, Menekan Rupiah Saat Terjun Bebas hingga Rp 15.000 per Dollar AS
Data ini dinilai krusial karena dapat memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan. Ekonom memperkirakan inflasi akan meningkat, terutama didorong lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih tergolong kuat pada Maret 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang berada di level 115,4, masih dalam zona optimistis meski sedikit menurun dari Februari sebesar 115,9.
Kekuatan tersebut terutama ditopang oleh Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) yang meningkat menjadi 129,2 dari sebelumnya 125,0. Sementara itu, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) turun ke level 107,8 dari 110,7, dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) melemah ke 109,2 dari 112,0, meskipun keduanya masih berada di zona optimistis.
Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia berkembang akan melambat menjadi 5,1 persen pada 2026 dan 2027, seiring tekanan dari konflik geopolitik dan ketidakpastian perdagangan global.
Meski demikian, Indonesia justru diproyeksikan mampu tumbuh lebih tinggi, yakni sebesar 5,2 persen pada periode tersebut, meningkat dari proyeksi sebelumnya 5,1 persen. Namun, prospek ini tetap dibayangi risiko apabila konflik di Timur Tengah berkepanjangan dan semakin memburuk.