Rencana Buyback BMRI,  Investor Ritel Simak Rekomendasi Analis
ilustrasi IHSG (canva.com)
12:48
10 April 2026

Rencana Buyback BMRI, Investor Ritel Simak Rekomendasi Analis

- Rencana buyback saham oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dinilai mampu menjadi katalis positif bagi pergerakan harga saham dalam jangka pendek.

Namun, investor diingatkan untuk tidak terjebak euforia berlebihan karena aksi korporasi itu bukan penentu arah fundamental jangka panjang.

Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menilai langkah buyback mencerminkan keyakinan manajemen bahwa valuasi saham saat ini berada di level menarik untuk diakumulasi.

Sentimen itu kerap menjadi pendorong psikologis pasar, terutama dalam menahan tekanan jual dan memicu potensi rebound harga saham.

Baca juga: IHSG Masih Volatil, Saham Apa Saja yang Layak Dicermati Investor Ritel?

Buyback Bank Mandiri memberi sentimen positif jangka pendek karena mencerminkan manajemen melihat valuasi saham menarik untuk diakumulasi,” ujar Reydi saat dihubungi Kompas.com, Jumat (10/4/2026).

Secara teknis aksi buyback berpotensi menurunkan porsi saham publik (free float saham) yang beredar di pasar.

Namun, untuk emiten berkapitalisasi besar seperti BMRI, pengurangan free float diyakini tidak mengganggu minat investor asing.

Menurutnya, likuiditas saham BMRI yang sangat kuat serta posisinya sebagai salah satu portofolio utama global fund membuat risiko penurunan minat asing relatif kecil, selama struktur kepemilikan tidak berubah secara ekstrem. “Memang secara teknis buyback bisa menurunkan free float. Meski begitu, untuk saham besar seperti BMRI, dampaknya ke penurunan minat asing tidak signifikan karena likuiditasnya masih sangat kuat dan menjadi bagian dari portofolio utama global fund,” paparnya.

Lebih jauh, Reydi menegaskan bahwa buyback bukanlah faktor fundamental yang mampu mengerek harga saham secara berkelanjutan.

Efeknya lebih bersifat jangka pendek dan tidak selalu mencerminkan peningkatan kinerja perusahaan.

Karena itu, investor ritel disarankan untuk tetap rasional dalam mengambil keputusan. “Dari sisi harga, buyback cenderung menjadi katalis positif jangka pendek, menahan downside, memicu rebound tetapi bukan faktor fundamental jangka panjang. Untuk investor ritel, kuncinya adalah tidak FOMO,” katanya.

Ia menambahkan, strategi yang lebih bijak adalah masuk saat valuasi masih undervalued sebelum sentimen menguat, atau memanfaatkan momentum buyback untuk trading jangka pendek, alih-alih mengejar harga di tengah euforia pasar. “Strategi yang lebih bijak adalah masuk saat valuasi masih murah sebelum euforia, atau memanfaatkan momentum untuk trading jangka pendek,” tukas Reydi.

Senada, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menyebut rencana buyback saham BMRI senilai Rp 1,7 triliun tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap struktur pasar.

Nilai tersebut relatif kecil karena hanya setara sekitar 0,398 persen dari total kapitalisasi pasar perseroan, sehingga tidak cukup besar untuk memengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran saham secara material. “Rencana buyback BMRI senilai Rp 1,7 triliun memiliki dampak yang minimal terhadap struktur pasar karena hanya merepresentasikan sekitar 0,398 persen dari total kapitalisasi pasar,” ucap Azharys saat dihubungi Kompas.com, Kamis malam (9/4/2026).

Terkait apakah buyback akan mendorong harga saham BMRI, Azharys menilai aksi korporasi itu lebih berfungsi sebagai strategis perusahaan mengelola struktur modal dan memberikan sinyal kepercayaan terhadap valuasi saham, bukan sebagai faktor yang mampu menggerakkan harga secara agresif di pasar. “Aksi korporasi ini lebih berfungsi sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap valuasi perusahaan ketimbang menjadi penggerak harga (price driver) yang signifikan,” lanjutnya.

Selain itu, periode pelaksanaan buyback yang relatif panjang, yakni hingga 12 bulan, membuat potensi kenaikan harga saham cenderung terbatas dan bersifat psikologis jangka pendek, bukan dorongan teknikal yang agresif.

Ia meyakini sikap BMRI melakukan buyback saham tidak memengaruhi persentase jumlah saham publik yang beredar.

Pasalnya, tingkat free float BMRI masih berada di kisaran 37,77 persen, juga menjadi faktor penopang utama stabilitas likuiditas saham.

Dengan kondisi tersebut, minat investor, termasuk investor asing, diperkirakan tidak akan terganggu. “Dengan tingkat free float yang masih terjaga di level 37,77 persen, likuiditas saham akan tetap stabil sehingga tidak akan mengganggu minat investor asing,” kata Azharys.

Azharys menekankan bahwa investor ritel tetap perlu bersikap rasional dalam merespons aksi buyback tersebut.

Ia mengingatkan agar pelaku pasar tidak terjebak euforia atau fear of missing out (FOMO). Pasalnya, efisiensi modal melalui buyback dinilai tidak memberikan dampak dominan terhadap penguatan harga saham jika dibandingkan dengan faktor fundamental seperti kinerja keuangan inti dan prospek pembagian dividen. “Investor tetap harus rasional dan tidak terjebak FOMO, sebab efisiensi modal melalui buyback ini tidak berdampak dominan terhadap penguatan harga jika dibandingkan dengan pengaruh kinerja keuangan inti dan prospek dividen perusahaan,” tukasnya.

Disclaimer

Tag:  #rencana #buyback #bmri #investor #ritel #simak #rekomendasi #analis

KOMENTAR