Menhub Dudy ''Buka-bukaan'' Penyebab Kemacetan Horor di Gilimanuk Bali Saat Lebaran-Nyepi
Foto udara kepadatan kantong parkir Terminal Kargo Gilimanuk, Jembrana, Bali, Rabu (18/3/2026). Kepadatan terjadi menjelang penutupan sementara aktivitas penyeberangan Pelabuhan Gilimanuk-Ketapang pada 19 Maret 2026 pukul 05.00 WITA dalam rangka perayaan Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Bali yang bertepatan dengan puncak arus mudik Idul Fitri 2026.(ANTARA FOTO/Budi Candra Setya)
07:12
10 April 2026

Menhub Dudy ''Buka-bukaan'' Penyebab Kemacetan Horor di Gilimanuk Bali Saat Lebaran-Nyepi

- Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkap penyebab kemacetan parah hingga puluhan kilometer yang terjadi di jalur penyeberangan Gilimanuk–Ketapang saat periode Lebaran 2026 yang berdekatan dengan Hari Raya Nyepi.

Dudy menjelaskan, kemacetan terjadi sebelum Idul Fitri, dengan antrean kendaraan mengular hingga sekitar 20 kilometer dan berlangsung selama dua hari.

“Terjadi kepadatan hingga kurang lebih sekitar 20 kilometer. Namun Alhamdulillah pada hari ketiga kita berhasil mengelola kemacetan,” ujar Dudy dalam acara Halal Bihalal bersama wartawan, Kamis malam (9/4/2026).

Menurut Dudy, salah satu faktor utama kemacetan adalah berdekatan waktunya Hari Raya Nyepi dengan Idul Fitri, yang membuat arus kendaraan meningkat signifikan dalam waktu bersamaan.

“Pada saat itu memang terjadi kepadatan karena satu, hari raya Nyepi berdekatan dengan Idul Fitri,” jelasnya.

Selain itu, masih beroperasinya kendaraan berat dengan sumbu tiga ke atas turut memperlambat arus penyeberangan.

“Kemudian memang masih beroperasinya kendaraan-kendaraan berat, sehingga itu sangat memperlambat arus kendaraan yang akan meninggalkan Pulau Bali,” tambahnya.

Baca juga: Survei KedaiKOPI: 88,8 Persen Masyarakat Puas Penyelenggaraan Angkutan Mudik Lebaran 2026

Minimnya Buffer Zone

Menhub Dudy Purwagandhi. Dok. Kemenhub Menhub Dudy Purwagandhi. Untuk mengurai kemacetan, Kemenhub menerapkan sejumlah langkah darurat, termasuk menyediakan buffer zone untuk menampung kendaraan besar.

“Kami menyediakan buffer zone, kendaraan besar dimasukkan ke sana, kemudian kami dahulukan kendaraan kecil dan bus untuk menyeberang,” kata Dudy.

Selain itu, kendaraan roda dua juga diprioritaskan karena keterbatasan fasilitas di Pelabuhan Gilimanuk.

“Kondisi pelabuhan Gilimanuk tidak sebesar Merak, sehingga kami memprioritaskan kendaraan roda dua agar bisa didahulukan,” ujarnya.

Baca juga: Kemenhub Siapkan Antisipasi Macet Ketapang–Gilimanuk Jelang Nyepi dan Lebaran 2027

Kemacetan juga terjadi saat arus balik, terutama setelah hari ke-7 Lebaran. Hal ini dipicu oleh pekerja asal Jawa Timur yang kembali ke Bali usai merayakan Lebaran Ketupat.

“Sebagian besar yang kembali ke Bali adalah masyarakat dari Jawa Timur, sehingga terjadi kepadatan cukup besar setelah hari ke-7,” jelas Dudy.

Dudy mengakui salah satu kelemahan utama di lintasan Ketapang–Gilimanuk adalah keterbatasan buffer zone untuk menampung antrean kendaraan.

“Kalau di Merak dan Bakauheni kita punya buffer zone yang memadai. Di Ketapang dan Gilimanuk ini sangat terbatas, ini menjadi catatan kami,” ungkapnya.

Baca juga: Kemenhub Perpanjang Dermaga Celukan Bawang, Kurangi Beban Ketapang–Gilimanuk

Truk jadi biang kemacetan dan antisipasi tahun depan

Antrean kendaraan mobil di parkiran kargo menuju Pelabuhan Gilimanuk di Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, Rabu (18/3/2026).Polres Jembrana. Antrean kendaraan mobil di parkiran kargo menuju Pelabuhan Gilimanuk di Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, Rabu (18/3/2026).Ia juga mengungkap fakta di lapangan bahwa banyak kendaraan besar kembali dalam kondisi kosong setelah mengirim barang sebelum masa pembatasan.

“Kendaraan besar ini mengirim barang sebelum pembatasan, lalu buru-buru kembali dalam kondisi kosong. Pada saat yang sama kendaraan kecil dan bus sudah mulai bergerak, akhirnya terjadi penumpukan,” jelas Dudy.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Kemenhub menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari penambahan dermaga hingga penggunaan kapal berkapasitas lebih besar.

“Kami sudah meminta Pelindo dan ASDP untuk menambah dermaga. Memang saat Lebaran kemarin terasa kurang,” ujarnya.

Selain itu, kapal kecil akan diganti dengan kapal yang lebih besar agar kapasitas angkut meningkat.

“Kapal-kapal kecil diharapkan bisa diganti dengan kapal yang lebih besar, sehingga kapasitas angkutnya lebih banyak,” tambahnya.

Baca juga: Arus Balik Lebaran 2026: ASDP Percepat Layanan Ketapang-Gilimanuk

Dudy juga berencana mengadopsi pola penyeberangan seperti di Merak–Bakauheni, yang menggunakan beberapa pelabuhan untuk memisahkan jenis kendaraan.

“Model Merak-Bakauheni mestinya bisa kita copy, di mana kendaraan dipisahkan berdasarkan golongan dan dilayani di beberapa pelabuhan,” katanya.

Ke depan, pemerintah juga akan mengimbau pelaku logistik agar mengatur jadwal pengiriman lebih awal agar tidak menumpuk saat periode mudik.

“Kita harapkan kendaraan besar melakukan pengiriman lebih awal, sehingga saat kembali tidak menumpuk dengan arus mudik,” ujar Dudy.

Baca juga: Bali Dikebut Benahi Infrastruktur, Macet hingga Abrasi Jadi Sorotan

Selain itu, Kemenhub juga mempertimbangkan program mudik gratis dari Bali untuk membantu pekerja yang ingin pulang kampung.

“Kami akan pertimbangkan mudik gratis dari Bali, karena banyak saudara kita yang bekerja di sana dan membutuhkan fasilitas tersebut,” tegas Dudy.

Tag:  #menhub #dudy #buka #bukaan #penyebab #kemacetan #horor #gilimanuk #bali #saat #lebaran #nyepi

KOMENTAR