Maskapai Asia Tertekan Krisis Energi, Penerbangan Dikurangi
Ilustrasi pesawat melewati awan Cumulonimbus.(Pexels/Pixabay)
11:12
8 April 2026

Maskapai Asia Tertekan Krisis Energi, Penerbangan Dikurangi

- Maskapai di Asia mulai memangkas penerbangan. Maskapai juga membawa bahan bakar tambahan dari bandara asal serta menambah pemberhentian pengisian ulang. Langkah ini diambil saat konflik di Timur Tengah menekan pasokan avtur.

Tekanan meningkat setelah harga bahan bakar melonjak tajam. Data Kpler menunjukkan maskapai Eropa bersiap menghadapi gangguan serupa setelah Iran menutup Selat Hormuz. Jalur ini mengangkut hampir 21 persen pasokan avtur global melalui laut.

Mengutip Straitstimes, harga avtur telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak perang Iran. Kondisi ini mendorong maskapai mengurangi kapasitas penerbangan.

Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Garuda Indonesia Sesuaikan Tarif Tiket dan Rute Penerbangan

Air New Zealand pada 7 April mengumumkan pemangkasan penerbangan sepanjang Mei dan Juni. Maskapai juga menaikkan tarif. Dampaknya mencapai sekitar 4 persen penerbangan dan 1 persen penumpang.

Batik Air Malaysia pada 6 April memangkas kapasitas domestik hingga 36 persen. CEO Chandran Rama Muthy menyebut langkah ini sebagai respons terhadap krisis.

“Jika kami terus beroperasi tanpa penyesuaian, hal ini dapat meningkatkan risiko operasional dan keuangan perusahaan,” ujar Muthy.

Analis menilai dampak terbesar terjadi di Asia, Eropa, dan Afrika. Amerika Serikat relatif lebih aman karena memiliki pasokan domestik yang memadai.

Krisis ini tidak hanya mendorong kenaikan harga. Pasokan fisik juga ikut terbatas. Pemerintah, maskapai, dan bandara mulai mempertimbangkan pembatasan distribusi bahan bakar.

Pendiri Endau Analytics Shukor Yusof menilai ketidakpastian perang meningkatkan kekhawatiran maskapai.

“Maskapai sangat khawatir dengan kondisi ke depan, karena kita tidak tahu kapan perang akan berakhir dan kapan rantai pasok akan kembali normal,” kata Yusof.

Baca juga: Pemerintah Izinkan Tiket Pesawat Naik Terbatas Saat Avtur Melonjak, Maskapai Menyesuaikan

Dampak besar terasa di negara yang bergantung pada impor, seperti Vietnam, Myanmar, dan Pakistan. Tekanan meningkat setelah China dan Thailand menghentikan ekspor avtur. Korea Selatan juga membatasi ekspor pada level 2025.

AirAsia X kini membawa bahan bakar tambahan dari Malaysia sebelum terbang ke Vietnam.

“Bukan berarti mereka tidak memberi bahan bakar, tapi jumlahnya dibatasi,” ujar CEO AirAsia X Bo Lingam.

Mengutip South China Morning Post, AirAsia X menaikkan harga tiket hingga 40 persen. Maskapai juga memangkas sekitar 10 persen penerbangan. Fuel surcharge naik sekitar 20 persen.

Pendiri AirAsia sekaligus CEO Capital A Tony Fernandes menyebut kenaikan harga tidak terhindarkan.

“Kenaikan harga ini tidak terhindarkan, dan kami akan mengurangi kapasitas pada rute yang tidak bisa menutup biaya bahan bakar,” ujar Fernandes.

Maskapai merespons dengan berbagai langkah operasional. Opsi yang ditempuh meliputi membawa bahan bakar lebih banyak, menambah titik pengisian, hingga mengurangi muatan kargo.

Krisis yang berlangsung lebih lama mendorong pengurangan penerbangan.

Vietnam Airlines memangkas 23 penerbangan domestik per minggu. Myanmar sempat menghentikan sebagian penerbangan domestik pada Maret lalu kembali mengurangi kapasitas pada April.

Air India menambah pemberhentian pengisian bahan bakar di Kolkata untuk rute Yangon–Delhi. Bandara Internasional Tahiti membatasi pengisian bahan bakar pada level minimum operasional.

Di Pakistan, pilot diminta membawa bahan bakar dari luar negeri. Praktik ini dikenal sebagai tankering, meski meningkatkan konsumsi bahan bakar.

Permintaan penumpang masih relatif kuat. Kenaikan harga tiket mulai menekan permintaan, terutama dari segmen sensitif harga.

Gangguan pasokan diperkirakan mencapai 400.000 barrel per hari di kawasan Asia-Pasifik.

“Tidak ada cara mudah untuk menggantikan volume yang hilang, terutama saat pasokan di Asia semakin ketat karena kilang mengurangi produksi,” kata analis Energy Aspects Alex Yap.

Sumber industri memperkirakan pembatalan penerbangan baru menurunkan permintaan sekitar 50.000 hingga 100.000 barrel per hari pada April.

Editor Asia Cirium Ellis Taylor menilai kondisi ini masih tahap awal penyesuaian.

“Permintaan penumpang masih cukup kuat, tetapi jika lonjakan harga minyak memicu perlambatan ekonomi, maka permintaan bisa terdampak pada paruh kedua tahun ini,” ujar Taylor.

Tag:  #maskapai #asia #tertekan #krisis #energi #penerbangan #dikurangi

KOMENTAR