Ekonom INDEF: Affiliate Marketing di E-Commerce Buka Peluang Penghasilan Baru bagi Masyarakat
— Industri affiliate marketing atau pemasaran afiliasi di Indonesia diprediksi mengalami lonjakan pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UMKM Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Fadhila Maulida mengatakan, peluang ekonomi di pemasaran afiliasi masih terbuka luas.
Hal tersebut ditopang oleh jumlah pengguna internet yang terus bertambah serta tren belanja daring yang semakin mengandalkan konten.
Saat ini, penetrasi internet di Indonesia telah melampaui angka 80 persen. Artinya, lebih dari 229 juta penduduk sudah terhubung ke ruang digital.
Angka tersebut, lanjutnya, menjadi modal utama bagi para afiliator untuk menjangkau pasar yang sangat luas, mulai dari perkotaan hingga pelosok daerah.
“Jadi, kalau misalkan (afiliator) ini terus bertambah, kita tidak akan kekurangan pasarnya juga,” ujar Dhilla dalam siniar The Economeets INDEF episode ‘Affiliate Marketing Indonesia: Peluang, Tantangan, dan Dampaknya bagi Ekonomi’ yang dikutip YouTube INDEF, Rabu (8/4/2026).
Baca juga: Menaker Sebut Shopee Affiliate Bisa Jadi Peluang Pekerjaan Baru
Dhilla menilai, industri affiliate marketing di Tanah Air masih berada pada fase awal. Meski jumlah afiliator terbilang banyak, nilai transaksi bruto atau GMV yang dihasilkan masih relatif kecil jika dibandingkan negara maju.
Menurutnya, kondisi tersebut wajar. Hal ini mengingat daya beli masyarakat di negara-negara maju jauh lebih tinggi sehingga secara otomatis mendongkrak nilai transaksi e-commerce di negara maju.
“Dengan daya beli dan nilai transaksi yang tinggi, perkembangan ekosistem di negara-negara tersebut akan ikut meningkat. Hal yang lebih penting lagi, ekosistem di sana sudah mapan dan matang,” ujar Dhilla.
Berbeda dengan negara yang ekosistem digitalnya telah matang, Indonesia masih berada dalam tahap pengembangan. Namun, justru di situlah letak peluang pertumbuhannya.
Dhilla mengaitkan hal tersebut dengan laporan e-Conomy SEA yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company. Laporan itu memproyeksikan GMV e-commerce Indonesia dapat mencapai sekitar 140 miliar dollar AS pada 2030.
Untuk mendorong pertumbuhan industri pemasaran afiliasi, Dhilla menekankan signifikansi kesiapan ekosistem, mulai dari sisi platform hingga kebijakan pemerintah yang diharapkan hanya bersifat mengimbau tanpa mengatur mekanisme pasar secara berlebihan.
Baca juga: Dukung UMKM Terdampak Bencana, Shopee Gelar Kampanye UMKM Sumatera Bangkit
Namun, faktor paling krusial baginya adalah keberadaan konsumen. Tanpa pembeli, industri pemasaran afiliasi tidak akan berkembang, kendati platform, penjual, dan afiliator sudah tersedia.
"Mungkin PR kita bersama adalah meningkatkan ekonomi. Sebenarnya tujuan kita memang itu, tetapi harus diawali dengan meningkatkan daya beli masyarakat terlebih dahulu," jelasnya.
Afiliator, profesi baru minim barrier to entry
Dhilla melanjutkan, digitalisasi telah menurunkan hambatan masuk atau barrier to entry bagi masyarakat untuk terlibat dalam ekonomi digital, termasuk menjadi kreator konten dan afiliator sekaligus.
Menurutnya, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk terjun ke profesi tersebut.
“Asalkan memiliki kepercayaan diri dan konsep yang jelas dalam membuat konten, lalu didukung dengan ponsel dan sinyal internet, prosesnya sudah bisa berjalan. Jadi, barrier to entry-nya sangat berkurang jika dibandingkan pekerjaan konvensional,” terang Dhilla.
Pertumbuhan e-commerce yang disertai model affiliate marketing membuat profesi afiliator kian diminati berbagai kalangan. Sistem kerja yang fleksibel serta potensi penghasilan yang menjanjikan menjadi daya tarik utama.
Head of Corporate Affairs Shopee Indonesia Satrya Pinandita yang juga hadir dalam siniar tersebut membenarkan tren itu.
Baca juga: Kaleidoskop Satu Dekade Shopee: Menciptakan Dampak bagi Ekosistem lewat Inovasi dan Kolaborasi
Ia menyebutkan bahwa pergeseran tren belanja masyarakat yang kini menyukai cara yang interaktif menjadi salah satu pendorong kuat pertumbuhan industri affiliate di Indonesia.
Berdasarkan data internal Shopee, jumlah Shopee Affiliate di platform mereka telah mencapai belasan juta di sepanjang 2025.
“Kehadiran platform e-commerce, seperti Shopee, telah membuka berbagai kesempatan usaha baru bagi masyarakat. Selain membantu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memperluas jangkauan bisnis melalui ekosistem digital, kini muncul tren baru yakni industri afiliasi,” paparnya.
Ia menjelaskan, konsumen kini lebih tertarik pada konten berbasis video dan interaktif sebelum memutuskan membeli produk. Pergeseran perilaku ini kemudian melahirkan peran strategis afiliator dalam menjembatani produk UMKM dengan calon pembeli.
“Alhasil, di balik layar, muncul pekerjaan baru, yaitu afiliator. Tugasnya adalah benar-benar mempromosikan produk-produk penjual UMKM,” terangnya.
Satrya menambahkan, sistem affiliate membuka peluang produktivitas ekonomi bagi siapa saja dengan waktu kerja yang fleksibel dan modal relatif terjangkau.
Baca juga: Sambut Puncak 12.12 Birthday Sale, Shopee Hadirkan Fuji, Batik Kanthil, dan Kintakun
Untuk memulai, afiliator hanya butuh ponsel pintar untuk membuat konten dan akses internet untuk mengunggah konten.
"Keindahan dari ekonomi digital adalah sifatnya yang fleksibel. Masyarakat punya kebebasan untuk memilih sesuai dengan jam kerja dan talenta mereka. Jadi memang peluang ekonomi dari ekonomi digital ini sangat luas sekali dan kita senang banget sih melihat pertumbuhan yang sangat pesat di dalam ekosistem kami," tutur Satrya.
Tag: #ekonom #indef #affiliate #marketing #commerce #buka #peluang #penghasilan #baru #bagi #masyarakat