Masuk Daftar HSC, Saham BREN Justru Diborong Asing
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang masuk dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) justru mencatat aksi beli (net buy) investor asing.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), BREN termasuk dalam kelompok saham dengan tingkat kepemilikan terkonsentrasi tinggi, yakni mencapai 97,31 persen. Kondisi itu menempatkan BREN dalam kategori saham yang berisiko mengalami tekanan, imbas penilaian negatif dari indeks global, seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Namun di tengah risiko tersebut, saham BREN justru tercatat diborong investor asing dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp 13,01 miliar pada perdagangan Senin kemarin (6/4/2026).
Baca juga: BEI Rilis 9 Saham dengan Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, Ada BREN hingga DSSA
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menilai ada upaya manajemen BREN untuk meningkatkan free float atau jumlah saham yang beredar di publik.
Upaya itu merujuk pada entitas afiliasi melalui Green Era Energy Pte Ltd yang melakukan divestasi saham. Aksi ini secara langsung meningkatkan jumlah saham yang beredar di publik, sekaligus memperbaiki likuiditas saham di pasar.
“Jika kita telusuri pada keterbukaan informasi terakhir, pihak afiliasi melakukan divestasi via penjualan saham yang dimiliki Green Era Energy, yang akan membuat free float meningkat dan kami melihat adanya upaya dari emiten untuk menambah free float,” ujar Faris kepada Kompas.com, Selasa (7/4/2026).
Berdasarkan keterbukaan informasi BEI dikutip Selasa pagi, Green Era Energy Pte Ltd telah melakukan penjualan saham BREN sebanyak 350 juta lembar pada Senin, 6 April 2026. Transaksi dilakukan pada harga Rp 4.510 per saham dan diklasifikasikan sebagai saham biasa.
Baca juga: Telanjur Beli Saham HSC? Investor Ritel Jangan Panik, Ini Cara Selamatkan Portofolio
Tujuan dari aksi korporasi tersebut untuk meningkatkan free float serta likuiditas saham yang beredar di pasar.
Pascatransaksi, jumlah kepemilikan saham Green Era Energy Pte Ltd mengalami penurunan dari sebelumnya 30,67 miliar saham menjadi 30,32 miliar saham. Sejalan dengan itu, porsi hak suara juga turun dari hak sebelumnya, yakni 22,9 persen.
Saat ini jumlah saham BREN yang beredar di publik baru mencapai 12,30 persen, lebih rendah dari ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu minimal 15 persen free float.
Dari sisi pergerakan, harga saham BREN berada di level Rp 4.510, menguat 150 poin atau 3,44 persen di awal perdagangan Selasa pagi ini. Saham BREN sempat bergerak melemah hingga menyentuh posisi terendah di sekitar Rp 4.300, sebelum akhirnya berbalik arah dan mengalami reli tajam.
Lebih lanjut, Faris menjelaskan perilaku investor asing tidak selalu seragam. Tidak semua investor asing merupakan dana pasif yang mengikuti indeks global seperti MSCI.
“Seiring beragamnya kategori investor, perlu kita cermati bahwa tidak semua investor asing berperilaku seperti passive fund yang selama ini membeli saham yang menjadikan indeks seperti MSCI sebagai acuan,” paparnya.
Menurutnya, terdapat pula investor asing bertipe active fund yang memiliki fleksibilitas lebih tinggi dalam menentukan strategi investasi. Kelompok ini cenderung melakukan akumulasi jangka pendek untuk mencari alpha atau imbal hasil tambahan dari pergerakan harga saham.
“Ada juga investor asing yang memang melakukan aksi short term akumulasi, yang berperilaku seperti active fund. Yang mana, bisa melakukan akumulasi untuk mencari alpha pada portofolionya,” lanjut Faris.
Alokasi alpha tersebut umumnya hanya merupakan sebagian kecil dari dana kelolaan yang digunakan untuk mencari peluang keuntungan jangka pendek. Transaksi juga tidak melanggar aturan, karena ada kemungkinan investor institusi asing yang melakukan akumulasi tidak terikat kewajiban untuk mengikuti indeks tertentu.
Dalam konteks ini, saham BREN masih termasuk dalam cakupan investasi atau universe dari active fund tersebut.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.