Harga BBRI Tertekan Aksi Jual, Target Harga Sahamnya Masih Menarik?
Tekanan jual dari investor mancanegara terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI terpantau masih cukup masif pada lalu.
Bahkan, pada penutupan pasar pada hari ini, Senin (6/4/2026), saham BBRI ditutup di harga Rp3.310, melemah 0,30% jika dibandingkan pembukaan pasar.
Aksi pelepasan aset oleh pemodal asing tersebut secara konsisten menempatkan emiten perbankan pelat merah ini di posisi teratas dalam daftar transaksi jual bersih (net sell) di Bursa Efek Indonesia.
Sepanjang periode 30 Maret hingga 2 April 2026, investor asing tercatat membukukan net sell bernilai jumbo yang mencapai Rp1,3 triliun khusus pada saham BBRI.
Tekanan ini berlanjut dari tren negatif yang terjadi sepanjang satu bulan terakhir, di mana harga saham perbankan yang berfokus pada pembiayaan sektor mikro ini telah merosot sedalam 15,09 persen.
Jika diakumulasikan secara kumulatif dalam rentang waktu sebulan, dana asing yang keluar dari saham BBRI telah menyentuh angka yang cukup fantastis, yakni sebesar Rp4,20 triliun.
Pada sesi perdagangan Kamis (2/4/2026) lalu, saham dengan kode emiten BBRI ini diparkir melemah 0,90 persen dan mendarat di level Rp3.320 per lembar saham.
Pada hari tersebut saja, pemodal asing kembali mencatatkan aksi jual bersih dengan nilai transaksi mencapai Rp219,74 miliar.
Merespons tren pelemahan yang sedang membayangi emiten perbankan BUMN ini, tim analis dari Kiwoom Sekuritas memberikan pandangan teknikal terbarunya untuk memandu pergerakan harga saham BBRI.
Dalam riset analisis pasar yang dirilis untuk periode 2 April lalu, Kiwoom Sekuritas mematok area support pertama saham BBRI berada tepat di level penutupan saat itu, yaitu di angka 3.320.
Apabila level psikologis tersebut ternyata tidak mampu menahan gelombang jual dan tertembus ke bawah, maka pergerakan harga saham BBRI dinilai memiliki potensi untuk melanjutkan tren koreksi menuju area support kedua yang berada pada level 3.270.
Bagi para pelaku pasar yang menerapkan disiplin manajemen risiko secara ketat, Kiwoom Sekuritas menyarankan level pembatasan kerugian (stoploss) berada di angka 3.220.
Sebaliknya, jika pasar merespons positif sehingga terjadi pembalikan arah atau rebound, pergerakan saham BBRI diproyeksikan akan menghadapi area resistance pertama di level 3.430.
Jika daya beli pelaku pasar cukup kuat untuk melampaui titik tersebut, maka target kenaikan selanjutnya diprediksi berada pada area resistance kedua di level 3.490.
Meskipun secara teknikal masih menghadapi tekanan, beberapa pelaku pasar mulai melihat adanya peluang menarik. Beberapa analisis menilai valuasi saham BBRI saat ini sudah sangat murah.
Terbukti dari rasio Price to Book Value (PBV) yang dilaporkan hanya berkisar 0,8 kali, yang dipandang atraktif bagi perusahaan berkinerja kokoh dengan kapitalisasi pasar fantastis yang mencapai ratusan triliun rupiah.
Menanti Keputusan Dividen di RUPST 10 April
Di tengah fluktuasi harga saham di pasar sekunder, perhatian para pemegang saham kini mulai terfokus pada agenda penting aksi korporasi yang akan segera digelar.
Bank Rakyat Indonesia dijadwalkan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada tanggal 10 April 2026 mendatang.
Salah satu mata acara yang paling dinanti oleh publik dalam rapat tersebut adalah pembahasan serta persetujuan terkait penggunaan laba bersih perseroan untuk tahun buku 2025.
Berdasarkan materi presentasi yang disampaikan ke publik, jajaran manajemen BRI mengonfirmasi bahwa laba bersih yang berhasil diperoleh perseroan sepanjang tahun buku 2025 akan dialokasikan untuk pembagian dividen serta sebagian lagi dimasukkan sebagai laba ditahan.
Keputusan untuk membagikan dividen ini didasari oleh performa finansial perseroan yang tetap tangguh serta ketersediaan rasio modal yang sangat memadai.
Manajemen BRI memberikan penjelasan mendalam mengenai skema pembagian dividen ini agar dipahami dengan baik oleh publik.
“Sebagai informasi tambahan, pada tanggal 15 Januari 2025, perseroan telah mendistribusikan dividen interim sebesar Rp 137 per saham, atau maksimal Rp 20,63 triliun. Hal ini termasuk dalam dividen untuk tahun buku 2025,” ungkap manajemen BRI dikutip Rabu (25/3/2026).
Pihak manajemen BBRI menambahkan bahwa dengan tetap mengacu pada hasil persetujuan dalam RUPST nantinya, perseroan telah menetapkan indikasi dividen total minimal sebesar Rp343,4 per lembar saham untuk buku 2024.
Perhitungan dividen ini didasarkan pada jumlah total 151.559.001.604 lembar saham yang saat ini beredar di pasar modal, yang jika ditotal secara keseluruhan nilainya mencapai Rp52,04 triliun.
Nilai total dividen tersebut tentu sudah memperhitungkan porsi pembayaran dividen interim yang telah didistribusikan sebelumnya kepada para pemegang saham.
Oleh karena itu, usulan untuk besaran sisa dividen final yang akan dibayarkan oleh emiten BBRI kepada para pemegang saham pada pencairan berikutnya adalah sebesar Rp206,4 per lembar saham.
Disclaimer: Materi dalam artikel ini disusun hanya untuk keperluan informasi berita dan edukasi pasar, bukan merupakan ajakan, saran, atau rekomendasi tertulis untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Segala keputusan transaksi saham dan risikonya sepenuhnya berada di tangan investor masing-masing. Pastikan Anda melakukan riset mandiri atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum berinvestasi.
Kontributor : Rizqi Amalia
Tag: #harga #bbri #tertekan #aksi #jual #target #harga #sahamnya #masih #menarik