Harga Minyak 100 Dollar AS, Prasasti Ingatkan Risiko Kenaikan BBM
- Prasasti Center for Policy Studies mengingatkan pelaku usaha dan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kenaikan harga energi di tengah gejolak global.
Pemerintah memutuskan harga bahan bakar minyak tidak naik, meski harga minyak dunia sudah menyentuh 100 dollar AS per barrel. Kondisi ini memberi ruang tenang dalam jangka pendek.
Namun risiko tetap ada. Perubahan kebijakan dinilai bisa terjadi jika tekanan berlanjut.
Board of Experts Prasasti sekaligus pakar energi Arcandra Tahar menilai Indonesia tidak memiliki ruang besar untuk menentukan harga minyak secara mandiri.
"Harga minyak pada dasarnya mengikuti harga pasar. Indonesia membeli di pasar. Produksi domestik baik melalui K3S (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) maupun Pertamina pun dijual dengan mengacu pada harga pasar," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (2/4/2026).
Baca juga: Cara Sederhana Bagi Masyarakat Hemat Penggunaan BBM dan Gas Elpiji
Tekanan meningkat karena harga minyak jauh di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang mematok Indonesian Crude Price sebesar 70 dollar AS per barrel.
Arcandra menilai kondisi ini memperbesar risiko geopolitik dan memperketat pasokan energi global. Tekanan bertambah saat nilai tukar rupiah melemah.
Pemerintah menghadapi dilema. Menahan harga bahan bakar akan meningkatkan beban subsidi. Menyesuaikan harga akan mendorong inflasi dan menekan daya beli.
"Namun apabila harga BBM disesuaikan mekanisme pasar, dampaknya dapat langsung terasa melalui kenaikan inflasi serta penurunan daya beli masyarakat," ucapnya.
Board of Experts Prasasti Halim Alamsyah memperkirakan tekanan fiskal meningkat jika harga minyak bertahan di kisaran 100 dollar AS per barrel dan rupiah berada di sekitar Rp 17.000 per dollar AS.
"Kami memperkirakan defisit fiskal berpotensi melebar ke kisaran 3,3-3,5 persen dari PDB, melampaui batas defisit 3 persen yang selama ini dijaga pemerintah," ujar Halim.
Baca juga: Pemerintah Tahan Harga BBM, Perbaikan Transportasi Umum Didorong
Penyesuaian harga bahan bakar juga berdampak pada inflasi. Analisis Prasasti menunjukkan kenaikan harga bahan bakar dapat menambah inflasi sekitar 0,7 hingga 1,8 poin persentase.
Pertumbuhan ekonomi ikut tertekan. Dalam skenario harga energi tinggi, pertumbuhan diperkirakan turun ke kisaran 4,7 hingga 4,9 persen.
"Dalam skenario harga minyak tinggi yang berkepanjangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berpotensi melambat. Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat turun ke kisaran 4,7-4,9 persen, di bawah rata-rata pertumbuhan sekitar 5 persen dalam beberapa tahun terakhir," jelas Halim.
Prasasti menilai tekanan ekonomi saat ini berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, tekanan fiskal, dan perubahan neraca eksternal terjadi bersamaan.
Ruang kebijakan menjadi sempit. Pemerintah perlu mengelola kebijakan makro secara hati-hati.
Policy and Program Director Prasasti Piter Abdullah menilai kebijakan menahan harga bahan bakar bertujuan menjaga daya beli. Keberlanjutan langkah ini bergantung pada pergerakan harga minyak.
"Apabila kenaikan harga minyak berlangsung hingga akhir tahun, akan semakin sulit menahan harga BBM tidak naik," kata dia.
"Oleh karena itu masyarakat dan pelaku bisnis perlu memahami bahwa penyesuaian harga energi dalam kondisi tertentu merupakan bagian dari respons kebijakan yang wajar, selama diikuti dengan kompensasi yang tepat sasaran," lanjut Piter.
Piter juga menyoroti risiko terhadap stabilitas sistem keuangan. Kombinasi harga energi tinggi, pelemahan rupiah, dan tekanan fiskal perlu diantisipasi.
Koordinasi antarotoritas dinilai penting. Peran Komite Stabilitas Sistem Keuangan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas.
"Dunia usaha dan pelaku pasar tentu menunggu sinyal kebijakan dari otoritas seperti Bank Indonesia, OJK, serta Kementerian Keuangan mengenai arah stabilitas sistem keuangan ke depan," ucapnya.
Prasasti juga menilai pemerintah perlu merespons cepat potensi gangguan pada sektor industri. Gangguan pasokan energi dan bahan baku berisiko menaikkan biaya produksi.
Kebijakan untuk menjaga pasokan energi industri dan menekan biaya produksi dinilai penting untuk menjaga daya saing.
Tag: #harga #minyak #dollar #prasasti #ingatkan #risiko #kenaikan