Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Ilustrasi kantong plastik.()
16:20
1 April 2026

Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan

Kenaikan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah mulai merembet ke berbagai sektor, termasuk industri plastik yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok barang konsumsi.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di tingkat global, tetapi juga mulai terlihat di pasar domestik Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, lonjakan harga plastik sudah dikeluhkan para pedagang dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan ini disebut berkaitan dengan bahan baku plastik yang berasal dari energi fosil.

Baca juga: Panic Buying Kantong Sampah di Korsel, Penjualan Naik hingga 300 Persen

“Saya dengar biji plastiknya juga naiknya luar biasa. Karena plastik itu kan dari BBM (bahan bakar minyak),” ujar Zulkifli saat ditemui di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (28/3/2026).

Menurut dia, kenaikan harga plastik tidak lagi dapat disebut sebagai kenaikan biasa, melainkan lonjakan tajam.

“Ya nanti kita tentu akan kita bahas secara khusus, kok tiba-tiba naiknya begitu tinggi,” kata dia.

Keluhan pedagang: biaya naik, margin tertekan

Di tingkat pedagang, kenaikan harga plastik langsung terasa. Salah satu pedagang sayur di Pasar Minggu, Gemi, mengeluhkan kenaikan harga plastik yang mencapai Rp 6.000 per pack.

Baca juga: Zulhas: Harga Plastik Melonjak Karena Bahan Baku dari Fosil

“Ini biasa Rp 17 (ribu) jadi Rp 23 (ribu). Sama itu, sama semua pokoknya plastik per pack Rp 6 ribu,” ujar Zulkifli menirukan keluhan pedagang.

Lonjakan harga ini membuat biaya operasional meningkat signifikan. Dari sebelumnya sekitar Rp 60.000 per paket, kini biaya belanja Gemi bisa mencapai Rp 100.000 per paket.

“Sekarang plastik mahal jauh kali ini naiknya. Orang jualan juga mengeluh kalau plastik mahal kayak gitu,” ujarnya.

Pedagang bumbu dan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Gemi (58) mengeluhkan harga plastik kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas), Sabtu (28/3/2026).KOMPAS.com/Syakirun Ni'am Pedagang bumbu dan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Gemi (58) mengeluhkan harga plastik kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas), Sabtu (28/3/2026).

Kenaikan harga plastik juga dirasakan oleh perusahaan besar. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan produsen plastik untuk menekan dampak terhadap harga pangan.

Baca juga: Harga Plastik Melonjak Drastis: Pedagang Pasar Minggu Mengeluh ke Zulhas

“Kami juga saling berbagi dalam arti supaya memberikan harga yang betul-betul terjangkau sehingga tidak menaikkan harga-harga sembako dan sebagainya,” kata Rizal.

Harga bahan baku global terdorong konflik

Di tingkat global, kenaikan harga plastik tidak terlepas dari lonjakan harga minyak dan gangguan distribusi akibat konflik di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dan petrokimia dunia.

Harga minyak dunia tercatat naik lebih dari 40 persen sejak konflik dimulai pada akhir Februari 2026, dari sekitar 67 dollar AS per barrel (sekitar Rp 1,14 juta) menjadi lebih dari 98 dollar AS per barrel (sekitar Rp 1,66 juta) pada puncaknya 20 Maret 2026.

Per hari ini, harga acuan minyak mentah Brent berada di level 101,9 dollar AS per barrel. Harga minyak mentah Brent bahkan sebelumnya sempat menyentuh di atas 115 dollar AS per barrel.

Baca juga: Negosiasi Perjanjian Global Plastik Molor, Negara-negara Masih Bersilang Pendapat

Kenaikan ini turut mendorong harga produk turunan minyak, termasuk nafta, yang merupakan bahan baku utama petrokimia dan plastik.

Produk petrokimia mencakup berbagai bahan seperti benzena, butadiena, amonia, stirena, hingga nafta. Bahan-bahan ini menjadi komponen penting dalam berbagai produk, mulai dari sarung tangan medis hingga kemasan makanan.

Stanislav Krykun, CEO DST-Pack, mengatakan kenaikan harga bahan baku sudah mulai dirasakan oleh pelaku industri.

“Pemasok plastik kami di China baru-baru ini menaikkan harga sekitar 15 persen, dan mereka menunjuk pada kenaikan biaya bahan baku serta ketidakpastian pasar sebagai penyebabnya,” ujarnya, dikutip dari CNBC, Rabu (1/4/2026).

Ilustrasi kantong plastik.Shutterstock Ilustrasi kantong plastik.

Baca juga: KUFPEC Ajak Pegawai Migas Ubah Sampah Plastik Jadi Solusi Rumah

Perusahaannya memproduksi kemasan untuk berbagai perusahaan global. Ia menyebut, kenaikan biaya ini pada akhirnya akan diteruskan ke konsumen.

“Kami harus menghitung ulang biaya untuk banyak proyek ini, khususnya karena kenaikan harga plastik yang secara langsung memengaruhi biaya komponen tersebut,” kata Krykun.

Dampak bertahap hingga ke konsumen

Meski harga bahan baku sudah naik, dampaknya ke konsumen tidak terjadi secara langsung. Krykun menjelaskan adanya jeda dalam rantai distribusi.

“Perubahan ini cukup bertahap. Perusahaan yang sudah mengunci harga sebelumnya masih bisa melanjutkan produksi dengan biaya lama. Namun, semua pesanan baru dalam beberapa minggu terakhir sudah dikutip dengan harga lebih tinggi,” ujarnya.

Baca juga: Sampah Plastik Diolah Jadi Setara Solar, Bantu Pariwisata Karimunjawa Jadi Destinasi Hijau

Ia menambahkan, harga baru biasanya baru terlihat di rak ritel setelah proses produksi, distribusi, dan penjualan selesai.

“Karena itu, perubahan harga biasanya baru terlihat di rak dengan jeda waktu, bukan secara instan,” kata dia.

Mengutip warta CNN, Patrick Penfield, profesor praktik rantai pasok di Syracuse University, memperkirakan produk berbasis plastik seperti alat makan sekali pakai, minuman kemasan, dan kantong sampah akan menjadi yang pertama mengalami kenaikan harga.

Ia juga menyebut, kenaikan biaya kemasan dapat mendorong harga makanan naik dalam dua hingga empat bulan ke depan.

Baca juga: Perusahaan Plastik Terbesar se-Asia Pasifik Segera Bangun Pabrik Rp 115 Miliar di Batang

Gangguan pasokan dan lonjakan harga global

Gangguan distribusi melalui Selat Hormuz telah memperketat pasokan global bahan kimia. Nilai perdagangan petrokimia yang melewati jalur ini mencapai 20 miliar dollar AS hingga 25 miliar dollar AS per tahun, setara Rp 339,82 triliun hingga Rp 424,78 triliun.

Ilustrasi kantong plastikTHINKSTOCKS/DAIZUOXIN Ilustrasi kantong plastik

Akibat gangguan tersebut, harga plastik seperti polietilena (PE) dan polipropilena (PP) melonjak ke level tertinggi dalam sekitar empat tahun.

Joel Morales dari Chemical Market Analytics by OPIS mengatakan, banyak negara kini kehilangan pemasok utama.

“Siapa pun yang mengimpor dari Timur Tengah, yang pada tingkat tertentu berarti hampir semua negara, telah kehilangan pemasok besar dan harus mencari pengganti dengan harga resin yang jauh lebih tinggi,” ujarnya, dikutip dari Reuters.

Baca juga: Polindo Ekspansi, Jawab Permintaan Global atas Plastik Daur Ulang

CEO Dow Jim Fitterling juga menyoroti ketidakpastian logistik global.

“Logistik global menjadi tidak pasti, dengan hingga 50 persen pasokan polietilena terdampak, baik berhenti beroperasi, terbatas, atau terganggu akibat peristiwa di Timur Tengah,” ujarnya.

Ketergantungan tinggi pada Timur Tengah

Timur Tengah memegang peran penting dalam pasokan petrokimia global. Kawasan ini menyumbang lebih dari 40 persen ekspor polietilena dunia pada 2025.

Sebagian besar pasokan tersebut bergantung pada Selat Hormuz sebagai jalur distribusi utama. Sekitar 1,2 juta barel per hari aliran ekspor nafta global juga berpotensi terganggu akibat konflik.

Baca juga: Sampah Plastik Membeludak, KLH Akan Paksa Produsen Kelola

Data LSEG menunjukkan margin pemurnian nafta di Asia melonjak menjadi lebih dari 400 dollar AS per ton (sekitar Rp 6,8 juta), dari sebelumnya sekitar 108 dollar AS per ton (sekitar Rp 1,83 juta).

Kondisi ini membuat negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan India menjadi yang paling terdampak karena ketergantungan tinggi pada impor bahan baku.

Efek berantai ke berbagai sektor

Kenaikan harga plastik diperkirakan akan berdampak luas karena penggunaannya yang sangat masif di berbagai sektor.

Ilustrasi kantong plastik THINKSTOCK.COM Ilustrasi kantong plastik

Tom Seng dari Texas Christian University mengatakan hampir semua produk modern bergantung pada petrokimia.

Baca juga: Perusahaan Kemasan Plastik Terbesar di Asia Pasifik Investasi di KIT Batang

“Penggunaan petrokimia sangat luas dan pada dasarnya memengaruhi hampir semua yang kita gunakan dan konsumsi,” ujarnya.

Jeff Krimmel dari Krimmel Strategy Group menambahkan, dampak kenaikan harga ini akan menjalar ke berbagai sektor.

“Kekurangan pasokan dan kenaikan harga petrokimia akan masuk ke tekstil, deterjen, makanan, dan minuman,” ujarnya.

Joseph Foudy dari NYU Stern School of Business mengatakan konsumen kemungkinan tidak menyadari secara langsung penyebab kenaikan harga.

Baca juga: Malaysia Terapkan Bea Masuk Anti-Dumping untuk Plastik PET dari Indonesia dan China

“Anda mungkin hanya menggelengkan kepala di toko. Anda tidak tahu apakah ini karena inflasi umum atau faktor lain, tetapi Anda tetap membayar lebih,” ujarnya.

Minimnya alternatif dalam jangka pendek

Di tengah lonjakan harga, pilihan untuk mengganti plastik dengan bahan lain masih terbatas.

“Dalam jangka pendek, tidak banyak substitusi untuk plastik,” kata Foudy.

Produsen cenderung menyesuaikan desain, seperti menggunakan plastik lebih tipis, dibandingkan mengganti material sepenuhnya.

Baca juga: Marak Produk Impor, Asosiasi Minta Industri Hulu Plastik Diberi Insentif

Produk yang sebagian besar berbahan plastik diperkirakan akan mengalami kenaikan harga lebih cepat dibandingkan produk yang menggunakan plastik sebagai salah satu komponen.

Michael Greenberg, CEO The Plastics Exchange, mengatakan pemulihan rantai pasok akan membutuhkan waktu panjang.

“Bahkan jika perang berakhir besok, masih akan butuh waktu cukup lama sebelum rantai pasok plastik kembali normal,” ujarnya.

Tag:  #harga #plastik #melonjak #imbas #konflik #timur #tengah #pedagang #tertekan

KOMENTAR