Rupiah Menguat ke Rp 16.979, Pasar Cermati Sinyal Reda Konflik Timur Tengah
Ilustrasi nilai tukar rupiah, kurs rupiah dan dollar AS.(KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA)
15:40
1 April 2026

Rupiah Menguat ke Rp 16.979, Pasar Cermati Sinyal Reda Konflik Timur Tengah

- Nilai tukar rupiah di pasar spot menguat pada akhir perdagangan Rabu (1/4/2026). Rupiah ditutup naik 62 poin atau 0,36 persen ke level Rp 16.979 per dollar AS.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi dinamika geopolitik dan data ekonomi global.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Washington berpotensi menarik diri dari konflik dalam dua hingga tiga minggu.

Ia juga menegaskan Iran tidak harus mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik tersebut.

Laporan The Wall Street Journal menyebut Trump membuka peluang menghentikan kampanye militer terhadap Iran, meski Selat Hormuz masih sebagian tertutup.

“Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa Washington dapat menarik diri dari konflik dalam waktu dua hingga tiga minggu, menambahkan bahwa Iran tidak perlu membuat kesepakatan untuk mengakhiri konflik,” ujar Ibrahim kepada Wartawan.

Baca juga: Rupiah Menguat Pagi Ini, ke Level Rp 16.988 per Dollar AS

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyatakan kesiapan mengakhiri perang. Pernyataan ini tetap disertai sejumlah tuntutan utama.

Sinyal tersebut membuka ruang diplomasi. Pasar tetap menahan reaksi karena risiko gangguan energi belum hilang.

Selat Hormuz masih menjadi perhatian. Jalur ini menampung sekitar seperlima pasokan minyak global.

Penurunan lalu lintas kapal tanker menahan tekanan kenaikan harga minyak.

Dari Amerika Serikat, data tenaga kerja menunjukkan pelemahan. Survei JOLTS mencatat lowongan kerja Februari turun menjadi 6,882 juta dari 7,24 juta.

Angka ini juga berada di bawah ekspektasi 6,92 juta.

Indeks kepercayaan konsumen naik tipis ke 91,8 pada Maret dari 91,0 pada Februari.

Kondisi ini membuat ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve memudar.

Pelaku pasar mulai mempertimbangkan tekanan inflasi dari harga energi yang tinggi.

Baca juga: Imbas Tensi Geopolitik, Rupiah Diproyeksi Tertekan ke Rp 17.070 per Dollar AS

Sebelumnya, pasar memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Februari 2026 surplus 1,27 miliar dollar AS.

Surplus ini memperpanjang tren positif menjadi 70 bulan sejak Mei 2020.

Nilai tersebut lebih tinggi dari surplus Januari sebesar 0,95 miliar dollar AS.

Surplus ditopang sektor nonmigas sebesar 2,19 miliar dollar AS. Kontributor utama berasal dari lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Ekspor Indonesia pada Februari mencapai 22,17 miliar dollar AS atau tumbuh 1,01 persen secara tahunan.

Impor tercatat 20,89 miliar dollar AS atau naik 10,85 persen secara tahunan.

Di sektor manufaktur, aktivitas menunjukkan perlambatan. Indeks PMI manufaktur Indonesia turun ke 50,1 pada Maret dari 53,8 pada bulan sebelumnya.

Level ini masih berada di zona ekspansi.

Survei juga mencatat penurunan produksi terdalam dalam sembilan bulan terakhir sejak Juni 2025.

Kondisi ini dipicu keterbatasan bahan baku dan kenaikan harga material. Tekanan tersebut berkaitan dengan konflik Timur Tengah dan kondisi ekonomi global.

Tag:  #rupiah #menguat #16979 #pasar #cermati #sinyal #reda #konflik #timur #tengah

KOMENTAR