Dibuka Menguat, IHSG Berbalik Tergelincir ke Zona Merah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka menguat pada awal perdagangan Kamis (26/3/2026), namun berbalik melemah seiring tekanan jual yang kembali mendominasi pasar.(ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)
09:36
26 Maret 2026

Dibuka Menguat, IHSG Berbalik Tergelincir ke Zona Merah

– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka menguat pada awal perdagangan Kamis (26/3/2026), namun berbalik melemah seiring tekanan jual yang kembali mendominasi pasar.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) sekitar pukul 09.20 WIB, IHSG berada di level 7.269,88 atau turun 32,24 poin (-0,44 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pada pembukaan, IHSG sempat menguat ke level 7.313,66 dan bergerak di rentang 7.260,86 hingga 7.323,70 sepanjang sesi berjalan. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama dan indeks berbalik ke zona merah.

Baca juga: Investor Berebut Saham SpaceX Pra-IPO, Risiko Penipuan Mengintai

Dari sisi pergerakan saham, mayoritas masih berada di zona hijau. Sebanyak 343 saham menguat, lebih banyak dibandingkan 242 saham yang melemah, sementara 373 saham lainnya stagnan.

Aktivitas perdagangan terpantau cukup ramai. Volume transaksi mencapai 8,345 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 21,44 triliun dan frekuensi perdagangan sekitar 347.800 kali.

Sejumlah indeks turut melemah. Indeks LQ45 turun 0,47 persen ke level 742,96, sementara Jakarta Islamic Index (JII) terkoreksi 1,17 persen ke posisi 485,66.

Indeks Kompas100 juga melemah 0,56 persen ke level 1.007,79. Adapun Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) turun 0,71 persen ke posisi 255,90.

Baca juga: IHSG Menguat Saat Perdagangan Rabu Kemarin, Asing Net Buy di Beberapa Saham

Selain itu, indeks IDX30 tercatat turun 0,59 persen ke level 404,44 dan JII70 melemah 0,80 persen ke posisi 185,22. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 12.798 triliun.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mencatat IHSG berpotensi menguat dengan menguji area 7.339, serta resistance di posisi 7.400.

Jika indeks mampu menembus area tersebut dengan volume yang meningkat, maka ada peluang IHSG bergerak menuju area 7.450-7.500 dalam jangka pendek.

Namun jika gagal menembus 7.400, maka indeks bisa bergerak konsolidasi terlebih dahulu di kisaran 7.200-7.400.

“Namun jika gagal menembus 7.400, maka IHSG berpotensi bergerak konsolidasi terlebih dahulu di kisaran 7.200-7.400,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com, Rabu malam (25/3/2026).

Baca juga: BEI Suspensi Saham MGLV dan PTDU, 3 Emiten Lain Kembali Diperdagangkan

Ia memandang penguatan IHSG menggambarkan mulai pulihnya kepercayaan investor terhadap pasar modal Tanah Air, sejalan dengan sentimen global dan domestik yang relatif kondusif.

Mayoritas bursa Asia yang bergerak di zona hijau menjadi katalis eksternal utama. Sementara aliran dana asing yang kembali masuk, meskipun belum besar, turut menopang penguatan indeks.

Kondisi ini memberikan sinyal awal bahwa minat investor terhadap aset berisiko mulai kembali terbentuk, meski belum sepenuhnya solid.

“Bursa Asia yang mayoritas menguat menjadi katalis positif, ditambah dengan masih masuknya dana asing meskipun dalam jumlah yang belum terlalu besar,” paparnya.

Dari dalam negeri, wacana pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi sentimen positif karena mencerminkan komitmen pemerintah menjaga disiplin fiskal.

Baca juga: Harga Emas Rontok, Saham ANTM Dibuka Ambles 3,73 Persen

Stabilitas fiskal penting untuk meredam kekhawatiran pelebaran defisit APBN, sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, imbal hasil obligasi, dan peringkat kredit Indonesia.

Namun, di balik penguatan IHSG, tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda. Nilai tukar rupiah yang masih bertahan di kisaran Rp 16.900 per dollar AS menunjukkan faktor global masih membayangi pasar domestik.

Di sisi lain, kenaikan harga emas dan pelemahan harga minyak dunia mengindikasikan bahwa sentimen risk on global belum terbentuk secara kuat.

Hendra menyebut kondisi tersebut membuat aliran dana asing ke pasar emerging market, termasuk Indonesia, masih bersifat selektif. Karena itu, dalam jangka pendek, pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh dinamika rupiah dan intensitas capital inflow asing.

“Di tengah penguatan IHSG, nilai tukar rupiah yang masih berada di kisaran Rp 16.900 per dollar AS menunjukkan tekanan eksternal masih belum sepenuhnya hilang. Kenaikan harga emas dan penurunan harga minyak dunia juga mencerminkan bahwa pasar global masih berada dalam fase risk on yang belum sepenuhnya kuat,” tukasnya.

Tag:  #dibuka #menguat #ihsg #berbalik #tergelincir #zona #merah

KOMENTAR