Efek Perang Iran, Inggris Wajibkan Rumah Baru Pasang Panel Surya
Ilustrasi solar panel atau solar PV. Indonesia belum memiliki industri hulu fotovoltaik meski bahan baku melimpah.(Shutterstock)
05:16
25 Maret 2026

Efek Perang Iran, Inggris Wajibkan Rumah Baru Pasang Panel Surya

Pemerintah Inggris pada Selasa (24/3/2026) memperkenalkan aturan baru yang mewajibkan pengembang untuk memasang pompa panas dan panel surya di semua rumah baru.

Beleid baru tersebut merupakan respons terbaru dari para pembuat kebijakan Inggris terhadap dampak ekonomi dari konflik Iran.

Para menteri Inggris mengatakan perang Iran dan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak memperkuat kebutuhan untuk memanfaatkan energi bersih sebagai alat keamanan energi.

Standar Rumah Masa Depan alias serangkaian peraturan pembangunan baru untuk Inggris mulai 2028 akan menetapkan persyaratan untuk memastikan rumah dibangun dengan pembangkit listrik terbarukan di lokasi, yang sebagian besar diharapkan disediakan oleh tenaga surya.

Baca juga: Berencana Arahkan Kopdes Merah Putih Produksi Listrik dari Solar Panel, Pemerintah Butuh Rp 1.630 Triliun

Peraturan tersebut juga akan mewajibkan pembangunan rumah dengan sistem pemanas rendah karbon, seperti pompa panas dan jaringan pemanas.

Pemerintah menambahkan, panel surya plug-in yang dapat dipasang pemilik rumah di balkon akan tersedia di dalam toko-toko dalam beberapa bulan mendatang.

“Perang Iran sekali lagi menunjukkan dorongan kita untuk energi bersih sangat penting bagi keamanan energi kita sehingga kita dapat melepaskan diri dari cengkeraman pasar bahan bakar fosil yang tidak kita kendalikan,” kata Menteri Energi Inggris Ed Miliband, dikutip dari CNBC, Rabu (25/3/2026).

“Baik melalui panel surya yang dipasang sebagai standar di rumah-rumah baru atau memungkinkan masyarakat untuk membeli panel surya siap pakai di toko-toko, kami bertekad untuk meluncurkan energi bersih sehingga kami dapat memberikan kedaulatan energi kepada negara kami,” tambah dia.Ilustrasi London Bridge di Inggris.UNSPLASH/DAVE XU Ilustrasi London Bridge di Inggris.

Pedoman tersebut secara umum disambut baik oleh para pelaku industri energi. Sementara beberapa aktivis menyerukan pemerintah Inggris untuk berbuat lebih banyak guna mengurangi ketergantungan negara tersebut pada bahan bakar fosil.

Baca juga: PLN IP Luncurkan Pabrik Solar Panel Terbesar di RI, Kapasitas 1 GWp

CEO Octopus Energy Greg Jackson mengatakan, prang-orang ingin terbebas dari krisis bahan bakar fosil ini.

Sejak konflik di Timur Tengah dimulai, minat terhadap energi surya telah melonjak 50 persen. Penjualan pompa panas dan mobil listrik juga mengalami peningkatan.

“Setiap panel surya, pompa panas, dan baterai mengurangi tagihan dan meningkatkan kemandirian energi Inggris, dan langkah-langkah terbaru pemerintah dapat membantu mengurangi biaya elektrifikasi,” kata Jackson.

Para ilmuwan iklim telah berulang kali memperingatkan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil secara substansial akan diperlukan untuk mengekang pemanasan global, dengan pembakaran batu bara, minyak, dan gas diidentifikasi sebagai pendorong utama krisis iklim.

Keamanan energi global

Perang yang dipimpin AS dan Israel terhadap Iran, yang dimulai pada 28 Februari, terus mengganggu produksi dan pengiriman minyak di kawasan tersebut, dengan lalu lintas melalui Selat Hormuz yang sangat penting secara strategis praktis terhenti dalam beberapa pekan terakhir.

Selat Hormuz adalah koridor maritim sempit utama yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Sekitar 20 persen minyak dan gas global biasanya melewati selat ini.

Sementara itu, anggota parlemen oposisi mendesak Partai Buruh yang berkuasa, yang berhaluan tengah-kiri, untuk fokus pada pengamanan pasokan energi domestik guna menurunkan tagihan konsumen di tengah krisis energi akibat perang Iran.

Dalam sebuah unggahan di media sosial, sekretaris energi bayangan dari Partai Konservatif sayap kanan tengah, Claire Coutinho menyerukan pemerintah untuk mengeluarkan izin bagi ladang minyak dan gas baru di Laut Utara.

Berbagai negara di seluruh dunia mengalami kenaikan harga bahan bakar yang tajam sebagai akibat dari konflik di Timur Tengah.

Slovenia, di sisi lain, baru-baru ini menjadi negara anggota Uni Eropa pertama yang menerapkan penjatahan bahan bakar untuk mengatasi gangguan pasokan.

Sementara itu, Yunani telah mengambil langkah untuk membatasi margin keuntungan pada bahan bakar dan produk supermarket selama tiga bulan.

Para analis memperkirakan dampak dari perang Iran akan mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil, dengan negara-negara semakin menyadari energi terbarukan sebagai cara untuk meningkatkan ketahanan, mengurangi polusi, dan memitigasi risiko geopolitik.

Tag:  #efek #perang #iran #inggris #wajibkan #rumah #baru #pasang #panel #surya

KOMENTAR