Menanti Roda Mesin Pemintal Berputar Lagi
Kondisi salah satu mesin produksi tekstil yang tidak dioperasikan oleh pabrik tekstil di Majalaya, Bandung, Jawa Barat, karena kurangnya orderan yang masuk, Kamis (30/3/2023). Masifnya kain impor yang membanjiri pasar lokal menyebabkan industri tekstil Majalaya kekurangan pesanan dan terpuruk.(KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO)
20:52
28 Februari 2026

Menanti Roda Mesin Pemintal Berputar Lagi

PAGI itu, Kawasan Rancaekek di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, masih terlihat samar. Ratusan kaki berderap cepat menuju berbagai pabrik. Pabrik tekstil yang selama ini menjadi “gantungan hidup”.

Saat masih berjaya, tepatnya sebelum pandemi Covid-19 merajalela, Rancaekek adalah pelindung bagi ribuan pekerja yang mengharapkan hidup dari puluhan pabrik tekstil yang ada.

Kawasan Rancaekek yang terletak sekitar 23 kilometer di timur Kota Bandung dulunya merupakan lahan persawahan aktif. Perkembangan industri tekstil mengubahnya menjadi episentrum industri padat karya.

Pusat industri manufaktur tekstil mulai berkembang pesat sejak tahun 1978, membentang di sepanjang jalur utama Rancaekek-Cicalengka.

Area ini menampung banyak pabrik besar seperti Aichi Tex Indonesia, Kahatex, Ewindo, Wistex dan lain-lain menjadikannya kontributor signifikan bagi ekonomi daerah dan penyerapan tenaga kerja.

Pagebluk Covid-19 begitu memukul industri tekstil di Rancaekek. Banyak perusahaan tekstil dan garmen melakukan penutupan sementara, pengurangan produksi, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) massal pada kurun waktu 2020-2022.

Baca juga: DPR Harus Ajukan Hak Interpelasi Sikapi Perjanjian Dagang Indonesia-Amerika

Ibarat urat nadi yang terhubung dengan organ-organ tubuh yang lain, begitu indutri tekstil terpukul, maka segera menular ke usaha kecil menengah lainnya.

Usaha binatu merosot, warung makan tergerus, penjual jajanan terdampak, jasa parkiran ikut kena imbas, usaha kontrakan kamar pun ikut menanggung rugi.

Selain pandemi, industri tekstil semakin terpuruk karena krisis bahan baku impor yang membuat harga semakin melangit.

Belum lagi persaingan dari negara tetangga seperti Vietnam, China, Thailand, Bangladesh hingga India yang menawarkan kemudahan perizinan dan tenaga kerja murah.

Kiat perusahaan untuk tetap sekadar hidup pun juga masih harus diakali dengan pengurangan jam operasional, pengurangan jam kerja hingga PHK.

Di antara ratusan kaki yang melangkah pagi itu menuju pabrik, ada sosok pengayuh sepeda butut yang menjadi saksi kejayaan hingga meredupnya “era emas” Rancaekek.

Namanya Deden Noor Achmad Fauzi (53) yang telah bekerja selama 32 tahun di salah satu pabrik tekstil yang ada di daerah Rancaekek.

Pria lulusan STM 1 Bandung itu begitu lama bekerja di pabrik tekstil karena kepiawaiannya di permontiran mesin.

Hebatnya, Deden hanya berbekal pengetahuan dari sekolah menengah teknik saja ditambah belajar secara mandiri.

Bebagai mesin pabrik tekstil asal Eropa dikuasainya, termasuk kini mesin asal China. Sekarang jabatan Deden sebagai pengawas para montir mesin.

Deden mengakui bekerja di pabrik tekstil saat dirinya lulus STM di tahun 1993 begitu gampang. Lowongan kerja sebagai montir mesin sangat terbuka dan mudah. Berbeda dengan sekarang, lowongan kerja begitu sulit mengingat banyaknya pelamar kerja.

Sebagai pegawai kecil bergaji setara upah minimum regional (UMR), Deden mengaku bersyukur mengingat dirinya tidak pernah mengalami PHK.

Cobaan hidup terberatnya terjadi saat Covid-19, di mana pabrik tekstil tempatnya bekerja memberlakukan pengurangan jam kerja.

“Cukup tidak cukup harus dicukupkan” menjadi prinsip hidup yang selalu dipegangnya hinggi kini.

Baca juga: Menagih Janji Purbaya Bersihkan Bea Cukai

Dari pabrik tekstilnya tempatya bekerja, Deden menemukan jodoh. Deden berbangga, salah satu dari dua putrinya sudah menamatkan pendidikan di Fakultas Keperawatan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang.

Sementara bungsunya masih bersekolah di salah satu SMP Negeri di dekat tempat tinggalnya di salah satu perumahan sederhana di Rancaekek.

Kebahagian terbesar Deden dan istri adalah bisa mengkuliahkan anaknya yang kini tengah menempuh pendidikan profesi lanjutan.

Biar Deden dan istri hanya tamatan sekolah menengah, mereka bertekad dua anaknya harus kuliah. Dari 15 tahun masa angsuran rumahnya yang berukuran 36 meter persegi, kewajiban mencicil Deden tinggal setahun lagi.

Selama 32 tahun bekerja di pabrik tekstil, Deden menjadi paham bahwa jika ada permintaan besar dari mancanegara dan dalam negeri, maka dirinya bersama ribuan pekerja di Rancaekek akan mendapatkan jatah shift pekerjaan yang banyak.

Namun, jika permintaan menurun, maka Deden dan ribuan pekerja di pabrik tekstil juga akan “gabut”. Gabut adalah istilah anak muda untuk menyebut perasaan bosan karena tidak ada kegiatan.

Kondisi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional pasca-pandemi terutama di sepanjang tahun 2024-2025, mengalami tekanan berat, bahkan berada di "ujung tanduk".

Selain karena kumulasi dari kombinasi penurunan daya beli global, banjir produk impor murah, serta masalah struktural di dalam negeri.

Meskipun sempat ada harapan pemulihan, situasi terkini menunjukkan tanda-tanda deindustrialisasi, yakni ditandai dengan gelombang kebangkrutan, penutupan pabrik, dan gelombang PHK.

Di luar masalah mega skandal korupsi dan beban hutang yang menggunung hingga Rp 29,8 triliun, kejatuhan PT Sri Rezeki Isman Tbk atau Sritex menjadi pengingat betapa industri tekstil dan produk tekstil begitu rawan terguncang akibat pengaruh eksternal dan internal.

Kebijakan perdagangan seperti Permendag No. 8 Tahun 2024 begitu mempermudah masuknya produk tekstil impor murah dari China dan Vietnam sehingga menekan produk lokal.

Adanya praktik “dumping” dan impor murah tersebut membuat industri tekstil kita begitu loyo.

Belum lagi pandemi Covid-19 sangat memengaruhi permintaan global dan domestik. Selain itu, konflik Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina ikut mengganggu rantai pasok dan menurunkan ekspor ke pasar Eropa dan Amerika Serikat.

Baca juga: Ada Apa dengan Angka Pertumbuhan Ekonomi Indonesia?

Ketergantungan pada bahan baku impor, tingginya biaya operasional, serta teknologi lama yang kurang efisien membuat biaya produksi tidak kompetitif. Persoalan-persoalan seperti ini hanya menjadi beban operasional dan efisensi bagi perusahaan tekstil.

Jika “jatuhnya” Sritex saja telah merumahkan sekitar 10.000 karyawan, tentu angka-angka tersebut semakin besar jika dihitung dari serapan tenaga kerja dari semua pabrik tekstil dan produk tekstil.

Jika ikut dihitung dengan beban tanggungan setiap pekerja yang rata-rata menghidupi 4 orang, yakni istri dan dua anak, maka industri ini begitu besar memberi pekerjaan dan manfaat.

Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2024, jumlah tenaga kerja sektor industri pakaian jadi berjumlah 2.895.881 orang.

Adapun total jumlah tenaga kerja yang mencari nafkah di sektor tekstil dan produk tekstil sebanyak 3,97 juta orang. Industri tekstil ini berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja manufaktur sebesar 20,51 persen (Liputan6.com, 6 Mei 2025).

Terlepas masih adanya pro dan kontra dari hasil muhibah Presiden Prabowo Subianto ke AS baru-baru ini – ada proyeksi keuntungan bagi nasib wong cilik dalam kesepakatan Agreement on Reciprocal Tariff (ART).

Industri tekstil dan produk tekstil Indonesia pascapengenaan tarif 0 persen oleh Amerika Serikat diproyeksikan sangat positif, menjadi angin segar bagi sektor padat karya yang sempat tertekan.

Kebijakan yang dihasilkan dari ART diyakini memberikan keunggulan kompetitif signifikan bagi produk Indonesia di pasar AS.

Akses tanpa tarif atau tarif rendah (0-10 persen) pada 1.819 pos tarif - termasuk tekstil dan garmen - membuat harga produk Indonesia bisa lebih bersaing dibandingkan negara pesaing yang masih dikenakan tarif tinggi.

Apalagi pemerintah telah menargetkan lonjakan ekspor tekstil dari kisaran 4 miliar dollar AS menjadi 40 miliar dollar AS dalam 10 tahun ke depan.

Jika orderan tektsil di pabriknya meningkat, maka ada jaminan asap dapur di rumah para pekerja terus mengepul. Jika pekerjaan di pabrik meningkat, maka kekhawatiran terjadinya PHK bisa ditepis.

“Dulu uang seratus ribu bisa dibelikan banyak barang, kini uang seratus ribu hanya bisa dibelanjakan untuk sedikit barang” – Deden Noor Achmad Fauzi.

Tag:  #menanti #roda #mesin #pemintal #berputar #lagi

KOMENTAR