Tarif Trump 15 Persen Jadi Ancaman IHSG, Risiko Koreksi hingga 7 Persen Intai Pasar
- Rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menaikkan tarif impor menjadi 15 persen memunculkan kekhawatiran baru di pasar keuangan global.
Bagi Indonesia, kebijakan itu berpotensi menjadi sentimen negatif yang membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), terutama jika memicu gelombang risk-off dan arus keluar dana asing.
Pemerintah AS melalui Office of the United States Trade Representative (USTR) menyampaikan tarif masuk yang sebelumnya berada di level 10 persen dapat dinaikkan menjadi 15 persen atau bahkan lebih tinggi.
Perwakilan Perdagangan AS, Jamieson Greer, menyebut kebijakan tersebut akan disesuaikan dengan profil perdagangan masing-masing negara, meski belum merinci mitra dagang yang akan terdampak. Langkah tersebut dipandang sebagai kelanjutan pendekatan proteksionis yang identik dengan Trump.
Baca juga: Kompromi Jakarta vs. Resistensi Delhi: Menakar Efektivitas Strategi Melawan Badai Tarif Trump
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai bila kebijakan tarif impor 15 persen diberlakukan oleh Trump dan memicu sentimen risk-off global, tekanan terhadap IHSG bakal cukup signifikan, khususnya dalam jangka pendek.
“Jika kebijakan tarif impor 15 persen benar-benar diterapkan oleh Donald Trump dan memicu sentimen risk-off global, maka tekanan terhadap IHSG berpotensi cukup signifikan, terutama dalam jangka pendek,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com, Jumat (27/2/2026).
Pasar keuangan pada dasarnya sangat sensitif terhadap isu perang dagang karena dampaknya langsung menjalar ke perdagangan internasional, prospek pertumbuhan ekonomi, hingga estimasi laba korporasi.
Menurutnya, ketika ketidakpastian meningkat, investor global biasanya melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi eksposur pada aset berisiko di emerging market seperti Indonesia. Bahkan mengalihkan dana ke instrumen safe haven seperti dollar AS dan obligasi pemerintah AS.
“Dalam skenario risk-off, investor global cenderung keluar dari emerging market seperti Indonesia dan kembali ke aset safe haven seperti dolar AS dan US Treasury,” paparnya.
Dalam situasi seperti itu, faktor likuiditas menjadi penentu utama arah indeks. Hendra mencatat secara historis, arus keluar dana asing (capital outflow) dengan skala besar bisa memicu koreksi indeks di kisaran 3-7 persen dalam waktu relatif singkat, tergantung besarnya capital outflow dan respons kebijakan domestik.
Tekanan IHSG umumnya lebih cepat dipicu oleh arus keluar dana asing dibandingkan pelemahan fundamental emiten. Fundamental biasanya memburuk secara bertahap, sementara capital outflow bisa terjadi dalam hitungan hari.
“Jadi faktor likuiditas global dan positioning investor asing menjadi kunci utama. Namun jika perang dagang berkepanjangan dan memperlambat ekonomi global, maka dampaknya akan masuk ke laba perusahaan, terutama sektor berbasis ekspor dan komoditas,” katanya.
Bila tekanan jual meningkat dan IHSG tidak mampu mempertahankan level psikologis 8.200, maka indeks berpotensi melanjutkan pelemahan dengan menguji area support teknikal berikutnya di kisaran 8.135. Level tersebut menjadi titik krusial untuk menjaga struktur tren jangka menengah agar tidak berubah menjadi fase koreksi yang lebih dalam.
“Jika IHSG gagal bertahan di level psikologis 8.200, maka sangat mungkin indeks kembali menguji support klasik di area 8.135 sebagai level teknikal berikutnya,” lanjut Hendra.
Senada, Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menjelaskan bahwa pada fase awal gejolak, penurunan IHSG umumnya dipicu oleh aksi jual asing alias net sell pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Big caps yang memiliki bobot dominan di indeks dan likuiditas tinggi sering menjadi sumber dana saat investor global melakukan rebalancing portofolio.
“Dalam fase awal, jelas karena outflow asing. IHSG digerakkan big caps. Kalau asing net sell besar, indeks cepat turun. Fundamental biasanya terdampak belakangan, terutama kalau perang dagang berlarut dan menekan pertumbuhan,” ungkap Reydi kepada Kompas.com.
Tag: #tarif #trump #persen #jadi #ancaman #ihsg #risiko #koreksi #hingga #persen #intai #pasar