Survei PwC: 49 Persen Pekerja Indonesia Alami Tekanan Finansial
Ilustrasi pekerja di Jakarta. Bank Dunia soroti rendahnya produktivitas tenaga kerja Indonesia dan tantangan generasi muda Indonesia dalam memperoleh pekerjaan layak.(Kompas.com)
10:24
27 Februari 2026

Survei PwC: 49 Persen Pekerja Indonesia Alami Tekanan Finansial

Tekanan finansial masih menjadi tantangan nyata bagi pekerja Indonesia.

Hampir separuh responden di Tanah Air mengaku mengalami tekanan ekonomi dalam pekerjaan mereka, di tengah dinamika perubahan dunia kerja yang dipengaruhi teknologi dan ketidakpastian global.

Temuan tersebut terungkap dalam laporan Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025 yang dirilis oleh PricewaterhouseCoopers (PwC).

Baca juga: Alih Teknologi, 156 Pekerja KEK Industropolis Batang Pelatihan di China

Ilustrasi pekerja.Dok. Freepik/lookstudio Ilustrasi pekerja.

Survei ini melibatkan hampir 50.000 pekerja di 48 negara, termasuk 812 responden dari Indonesia.

Hampir separuh pekerja Indonesia alami tekanan finansial

Secara global, 55 persen pekerja melaporkan mengalami tekanan finansial, meningkat dari 52 persen pada tahun sebelumnya.

Di kalangan Gen Z secara global, 42 persen bahkan mengaku merasa kewalahan secara finansial.

Di Indonesia, angkanya sedikit lebih rendah, namun tetap signifikan. Sebanyak 49 persen pekerja Indonesia mengaku mengalami tekanan finansial dalam pekerjaan mereka.

Baca juga: Perusahaan RI dan AS Garap Industri Semikonduktor di Batam, Bisa Serap 5.000 Pekerja Terampil

Dari jumlah tersebut, 25 persen menyatakan merasa kewalahan, sementara 41 persen melaporkan mengalami kelelahan yang berkaitan dengan kondisi kerja mereka.

Data ini menunjukkan, meskipun kondisi di Indonesia berada sedikit di bawah rata-rata global, tekanan finansial tetap menjadi isu besar bagi tenaga kerja domestik.

Dalam konteks kompensasi, 53 persen pekerja Indonesia melaporkan menerima kenaikan gaji dalam 12 bulan terakhir. Namun, hanya 10 persen yang mendapatkan promosi dalam periode yang sama.

Di sisi lain, ekspektasi pekerja terhadap peningkatan kesejahteraan masih cukup tinggi.

Ilustrasi gaji. Pemerintah menanggung PPh Pasal 21 bagi pekerja bergaji hingga Rp 10 juta per bulan sepanjang 2026. Insentif ini berlaku untuk pegawai di lima sektor usaha tertentu dengan sejumlah syarat.FREEPIK/JCOMP Ilustrasi gaji. Pemerintah menanggung PPh Pasal 21 bagi pekerja bergaji hingga Rp 10 juta per bulan sepanjang 2026. Insentif ini berlaku untuk pegawai di lima sektor usaha tertentu dengan sejumlah syarat.

Baca juga: Di Antara 15 Juta Antrean Rumah, Siapa Menjembatani Harapan Pekerja Informal?

Sebanyak 32 persen responden berencana meminta kenaikan gaji, 31 persen berharap mendapatkan promosi, dan 18 persen mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan baru.

Angka-angka ini menggambarkan adanya kesenjangan antara peningkatan pendapatan jangka pendek dan mobilitas karier jangka panjang, yang turut memengaruhi persepsi pekerja terhadap stabilitas ekonomi mereka.

Kenyamanan berpendapat lebih tinggi dari global

Di tengah tekanan finansial tersebut, survei juga mencatat sisi positif dari lingkungan kerja di Indonesia.

Sebanyak 76 persen responden pekerja Indonesia mengatakan merasa nyaman mengungkapkan pendapat dan ide mereka terkait pekerjaan kepada tim. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di 62 persen.

Baca juga: Survei BPS: Mayoritas Pekerja RI Bekerja Lebih dari 35 Jam Seminggu

Namun demikian, terdapat perbedaan antar kelompok generasi dan level jabatan. Gen X yang berada di posisi manajerial mencatat tingkat kenyamanan tertinggi, yakni 89 persen.

Sebaliknya, Gen Z non-manajer mencatat angka terendah di Indonesia, yakni 68 persen, meskipun masih lebih tinggi dibanding rata-rata global untuk kelompok yang sama sebesar 55 persen.

Perbedaan ini menunjukkan adanya dinamika pengalaman kerja antar generasi.

Kelompok yang lebih senior dan berada di posisi manajerial cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri lebih tinggi dalam menyuarakan pandangan, sementara pekerja muda masih berada dalam fase adaptasi.

Baca juga: Pemerintah Ubah Cara Ukur Kemiskinan Pekerja, Tak Lagi Cuma Angka Kemiskinan

Adopsi GenAI dan dampaknya terhadap persepsi kerja

Salah satu temuan penting dalam survei adalah peran generative AI (GenAI) dalam membentuk persepsi pekerja terhadap produktivitas, keamanan kerja, dan kompensasi.

Ilustrasi kecerdasan buatan (AI). Ledakan kecerdasan buatan (AI) bukan hanya mengubah teknologi, tetapi juga mencetak miliarder baru dalam jumlah dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.Alibaba Ilustrasi kecerdasan buatan (AI). Ledakan kecerdasan buatan (AI) bukan hanya mengubah teknologi, tetapi juga mencetak miliarder baru dalam jumlah dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Secara global, 54 persen pekerja telah menggunakan AI dalam 12 bulan terakhir, tetapi hanya 14 persen yang menggunakannya setiap hari.

Di Indonesia, tingkat adopsi relatif lebih tinggi. Sebanyak 69 persen pekerja Indonesia menyatakan telah menggunakan AI dalam pekerjaan mereka dalam setahun terakhir, meskipun hanya 16 persen yang menggunakan GenAI setiap hari.

Perbedaan frekuensi penggunaan ini berkorelasi dengan persepsi terhadap manfaat yang dirasakan.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Hilirisasi hingga Reskilling untuk Dorong Kesejahteraan dan Mobilitas Ekonomi Pekerja

Sebanyak 96 persen pekerja Indonesia yang menggunakan GenAI setiap hari melaporkan peningkatan produktivitas.

Sementara itu, di antara pengguna yang tidak rutin, angka tersebut sebesar 75 persen.

Dalam aspek keamanan kerja, 82 persen pengguna harian GenAI merasa lebih aman dalam pekerjaan mereka, dibandingkan 63 persen di kelompok pengguna tidak rutin.

Dari sisi finansial, 72 persen pengguna harian GenAI melaporkan peningkatan gaji, dibandingkan 52 persen pada kelompok yang tidak menggunakan GenAI secara rutin.

Baca juga: Pemerintah Perkuat Perlindungan Sosial Pekerja Informal, Perluasan BPJS hingga Digitalisasi Jadi Fokus

PwC Global Workforce Leader Pete Brown menyatakan, karyawan yang menggunakan AI setiap hari menuai hasilnya, yaitu produktivitas yang lebih tinggi, keamanan kerja yang lebih baik, dan gaji yang lebih tinggi.

"Tetapi untuk meningkatkan manfaat ini, bisnis harus melampaui pelatihan. Pekerjaan itu sendiri perlu dirancang ulang dan kemitraan manusia-mesin perlu didefinisikan ulang," kata Brown, dikutip dari pernyataan resmi PwC Indonesia, Jumat (27/2/2026).

Ini menekankan bahwa manfaat penggunaan AI tidak hanya bergantung pada pelatihan teknis, melainkan juga pada bagaimana organisasi merancang ulang proses kerja dan kemitraan antara manusia dan teknologi.

Kesenjangan akses pembelajaran masih terlihat

Survei ini juga menyoroti aspek pengembangan keterampilan atau upskilling.

Ilustrasi bekerja di kantor. PEXELS/THIRDMAN Ilustrasi bekerja di kantor.

Baca juga: Kala Tingkat Pengangguran Turun Namun Separuh Pekerja Indonesia Masih Alami Ketidaksesuaan Pendidikan dan Pekerjaan

Secara global, hanya 51 persen pekerja non-manajer yang merasa memiliki akses terhadap sumber daya pembelajaran yang memadai, dibandingkan 66 persen manajer dan 72 persen eksekutif senior.

Di Indonesia, tingkat akses relatif lebih tinggi di semua level. Sebanyak 64 persen non-manajer merasa memiliki sumber daya pembelajaran yang memadai.

Angka ini meningkat menjadi 78 persen di tingkat manajer dan 89 persen untuk eksekutif senior.

Meski demikian, perbedaan antar level tetap terlihat.

Baca juga: Survei Sun Life: 90 Persen Pekerja Indonesia Terjebak Sandwich Generation

Akses yang lebih besar di tingkat manajerial dan senior menunjukkan adanya kesenjangan pembelajaran yang dapat memengaruhi peluang pengembangan karier, khususnya bagi pekerja di level awal.

Budaya pembelajaran di Indonesia juga tercermin dalam persepsi terhadap kegagalan. Sebanyak 72 persen responden Indonesia mengatakan tim mereka melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar.

Secara global, angka ini berada di 54 persen.

Dinamika tekanan dan harapan

Data dalam laporan ini memperlihatkan gambaran dunia kerja Indonesia yang berada dalam fase transisi.

Baca juga: Pekerja Muda Diimbau Gunakan Pindar dengan Produktif dan Bertanggung Jawab

Di satu sisi, hampir separuh pekerja masih menghadapi tekanan finansial dan kelelahan terkait pekerjaan.

Harapan terhadap kenaikan gaji dan promosi jabatan tetap tinggi, sementara sebagian pekerja mempertimbangkan mobilitas kerja.

Di sisi lain, terdapat indikator positif seperti tingginya kenyamanan menyampaikan pendapat, budaya pembelajaran yang relatif kuat, serta manfaat nyata yang dirasakan oleh pengguna aktif GenAI.

Survei ini menggambarkan persepsi pekerja terhadap kondisi kerja mereka dipengaruhi oleh kombinasi faktor finansial, budaya organisasi, peluang pengembangan, serta adopsi teknologi.

Baca juga: Profil Pendidikan Pekerja Indonesia 2025: 34,63 Persen Lulusan SD

Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025 menjadi potret empiris mengenai bagaimana pekerja Indonesia memandang situasi kerja mereka di tengah perubahan yang berlangsung cepat, baik dari sisi ekonomi maupun transformasi digital.

Tag:  #survei #persen #pekerja #indonesia #alami #tekanan #finansial

KOMENTAR