Angka Kelahiran Jepang Terus Turun, Desa-desa Terancam Kosong
Ilustrasi Jepang, Jepang Catat Rekor Hampir 100.000 Orang Berusia Lebih dari 100 Tahun(PEXELS/ Evgeny Tchebotarev)
06:32
27 Februari 2026

Angka Kelahiran Jepang Terus Turun, Desa-desa Terancam Kosong

- Jumlah kelahiran di Jepang turun selama sepuluh tahun berturut-turut hingga 2025.

Data resmi yang dirilis pada Kamis (26/2/2026) tersebut menyoroti tantangan bagi Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.

Dilansir dari Channel News Asia, data awal Kementerian Kesehatan Jepang menunjukkan total 705.809 bayi lahir di Jepang sepanjang 2025, atau turun 2,1 persen dari 2024.

Data tersebut mencakup kelahiran warga negara Jepang di Jepang, kelahiran warga negara asing di Jepang, dan bayi yang lahir dari warga negara Jepang di luar negeri.

Sementara itu, 505.656 pasangan menikah pada tahun 2025, meningkat 1,1 persen, sedangkan jumlah perceraian turun 3,7 persen menjadi 182.969 kasus.

Di samping itu, terdapat 1.605.654 kematian, turun 13.030 atau 0,8 persen dari 2024.

Baca juga: Angka Kelahiran China Turun, Anak Muda Tunda Nikah karena Ekonomi?

Kementerian Dalam Negeri memperkirakan jumlah penduduk Jepang secara keseluruhan per Februari mencapai 122,86 juta jiwa, turun 0,47 persen, atau 580.000 jiwa, dibandingkan tahun sebelumnya. 

Sedikit catatan, negara dengan perekonomian terbesar keempat di dunia ini memiliki salah satu tingkat kelahiran terendah di dunia dan populasi yang menurun serta menua.

Hal ini menyebabkan sejumlah masalah, termasuk kekurangan tenaga kerja, membengkaknya tagihan jaminan sosial, dan berkurangnya jumlah pekerja yang membayar pajak.

Hal itu, pada gilirannya, menambah utang besar bagi Jepang. Negara ini sudah memiliki rasio utang tertinggi di antara negara-negara ekonomi besar.

Data tahun lalu menunjukkan bahwa jumlah orang berusia 100 tahun ke atas hampir mencapai 100.000 orang, dengan hampir 90 persen di antaranya adalah perempuan.

Baca juga: Angka Kelahiran Anjlok, Konsumsi Tertekan: Alarm Baru Ekonomi China

Penurunan populasi hancurkan perdesaan

Penurunan populasi juga menghancurkan komunitas pedesaan. Jumlah rumah kosong di Jepang kini mencapai sekitar empat juta. Menurut sebuah studi baru-baru ini, lebih dari 40 persen kotamadya berisiko punah.

Para pemimpin Jepang telah berjanji untuk meningkatkan angka kelahiran tetapi dengan keberhasilan yang terbatas.

Pemerintah kota Tokyo mengembangkan aplikasi kencan sendiri, yang mengharuskan pengguna untuk mengirimkan dokumen yang membuktikan bahwa mereka masih lajang dan menandatangani surat yang menyatakan bahwa mereka bersedia menikah.

"Menurunnya angka kelahiran dan menyusutnya populasi adalah keadaan darurat yang diam-diam akan secara bertahap mengikis vitalitas negara kita," kata Takaichi pekan lalu

Baca juga: Jumlah Kelahiran Terus Turun dan Dampaknya di Masa Depan

Meningkatnya imigrasi akan membantu membalikkan penurunan populasi Jepang dan masalah terkait di pasar tenaga kerja.

Namun demikian, di bawah tekanan dari partai Sanseito yang mengusung slogan "Jepang diutamakan", Takaichi yang berhaluan kanan telah berjanji akan mengambil langkah-langkah yang lebih keras terhadap imigrasi.

Lebih jauh, Wakil Kepala Sekretaris Kabinet Masanao Ozaki menyatakan pada hari Kamis bahwa mereka berupaya membangun ekonomi yang lebih kuat untuk mengurangi beban ekonomi pengasuhan anak bagi keluarga pekerja.

"Saya yakin ada beberapa keberhasilan. Namun sayangnya, kami belum berhasil membalikkan tren ini (penurunan angka kelahiran)," kata dia.

"Saya percaya (faktor penting) adalah mencapai perekonomian yang kuat," tutup Ozaki.

Baca juga: Anak Muda Kini Lebih Takut Miskin daripada Takut Tidak Menikah, Benarkah?

Tag:  #angka #kelahiran #jepang #terus #turun #desa #desa #terancam #kosong

KOMENTAR