Danantara Ungkap Timpangnya Frekuensi Penerbangan Garuda dengan Singapore Airlines
Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas (tengah) dalam diskusi dengan media di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (26/2/2026).(KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY)
22:16
26 Februari 2026

Danantara Ungkap Timpangnya Frekuensi Penerbangan Garuda dengan Singapore Airlines

- Danantara Indonesia menyoroti ketimpangan hubungan penerbangan antara Indonesia dan Singapura. Prinsip resiprokal atau timbal balik dalam industri penerbangan dinilai belum seimbang dan merugikan Garuda Indonesia.

Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas mengatakan, frekuensi penerbangan Singapore Airlines (SQ) ke Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan penerbangan Garuda Indonesia ke Singapura.

Menurut dia, Singapore Airlines bisa terbang ke Indonesia sebanyak 6-8 kali per hari menggunakan pesawat berbadan lebar seperti Airbus A330-300. Sementara itu, Garuda Indonesia hanya melayani rute ke Singapura sekitar 1-2 kali per hari.

Rohan menilai kondisi tersebut menunjukkan prinsip timbal balik yang belum setara.

"Setiap negara, itu kalau Indonesia ke Singapura, Singapura berarti boleh ke Indonesia, Singapore Airlines-nya. Itu selalu risiprokal, dan kali ini Indonesia tertindas nih risiprokalnya," ujarnya dalam diskusi dengan media di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Baca juga: Refleksi Satu Tahun Danantara, Langkah Reformasi dan Efisiensi BUMN

Rohan menyebut rute penerbangan dari Indonesia menjadi salah satu kontributor terbesar bagi pendapatan Singapore Airlines. Ia memperkirakan sekitar 65 persen pendapatan maskapai tersebut berasal dari penerbangan intensif rute Indonesia-Singapura.

Menurutnya, maskapai asal Singapura itu memperoleh keuntungan signifikan dari rute jarak pendek di Indonesia, terutama karena persaingan pada rute internasional jarak jauh (long haul) lebih ketat.

Untuk rute menuju New York maupun destinasi lain, Singapore Airlines harus bersaing dengan maskapai Timur Tengah seperti Qatar Airways dan Emirates, yang membuat margin keuntungan menjadi lebih tipis.

"Jadi selama ini kurang adil, SQ 8 kali, Garuda 2 kali ke Singapura. Itu yang harus diperbaiki," tuturnya.

Baca juga: Bangun Investasi Dana Haji, BPKH Gandeng Danantara

Rohan menuturkan, tingginya frekuensi penerbangan Singapore Airlines bukan semata-mata karena tingginya minat penumpang berkunjung ke Singapura, melainkan strategi negara tersebut menjadi hub atau pusat transit penerbangan internasional.

Ia menilai maskapai tersebut menerapkan strategi tarif kompetitif untuk menarik penumpang dari Jakarta ke Singapura. Selanjutnya, penumpang dialihkan ke berbagai rute lanjutan seperti Jepang atau Amerika Serikat.

Menurut dia, skema tersebut memungkinkan maskapai menutup potensi kerugian di rute pendek melalui keuntungan dari penerbangan lanjutan (connecting flight).

"Jadi bawa penumpang dari Jakarta ke sana (Singapura), murah, nanti tekornya (kerugian dari rute pendek), diambil dari Singapura to New York, Singapura to Japan, dan connecting dia," ucap dia.

Baca juga: Target Keuntungan Aset Danantara 7 Persen: Ambisi atau Ilusi?

Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, kata Rohan, pemerintah akan memperbanyak perjanjian timbal balik (reciprocal agreement) dan memperbaiki kerangka Air Service Agreement (ASA) mulai 2026.

Selain dengan Singapura, Indonesia juga akan meninjau dan memperkuat kerja sama penerbangan dengan sejumlah negara tujuan utama lainnya, seperti Australia, Jepang, Belanda, Arab Saudi, dan Korea Selatan.

Ia menegaskan, prinsip timbal balik dalam perjanjian penerbangan internasional perlu ditegakkan agar maskapai nasional memiliki peluang bersaing yang setara di pasar global.

"Itu yang harus diperbaiki, itu reciprocal agreementnya ada. Masing-masing airline itu pasti punya di seluruh dunia juga begitu," pungkas dia.

Tag:  #danantara #ungkap #timpangnya #frekuensi #penerbangan #garuda #dengan #singapore #airlines

KOMENTAR