Lowongan Kerja Menyusut, Militer Jadi Pilihan Pekerja Muda AS
Amerika Serikat (AS) mencatat lonjakan signifikan dalam perekrutan personel militer aktif pada Tahun Anggaran (TA) 2025.
Data resmi pemerintah menunjukkan capaian tersebut menjadi yang terbaik dalam lebih dari 15 tahun terakhir, setelah sebelumnya sejumlah cabang militer menghadapi kekurangan rekrut.
Dikutip dari laporan resmi Departemen Perang AS (DoW), Rabu (25/2/2026), seluruh lima matra aktif militer berhasil memenuhi bahkan melampaui target perekrutan pada TA 2025.
Baca juga: AS Ancam Gunakan Kekuatan Militer ke Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak 4 Persen
Ilustrasi militer AS, tentara Amerika Serikat.
Seluruh matra melampaui target
Berdasarkan rilis resmi tersebut, berikut capaian perekrutan aktif pada TA 2025:
- US Army (Angkatan Darat): target 61.000 rekrut, terealisasi 62.050 atau 101,7 persen dari target.
- US Navy (Angkatan Laut): target 40.600 rekrut, terealisasi 44.096 atau 108,6 persen.
- US Air Force (Angkatan Udara): target 30.100 rekrut, terealisasi 30.166 atau 100,2 persen.
- US Space Force (Angkatan Antariksa): target 796 rekrut, terealisasi 819 atau 102,9 persen.
- US Marine Corps (Korps Marinir): target 26.600 rekrut, terealisasi 100 persen.
Secara rata-rata, kelima cabang tersebut mencapai 103 persen dari target tahunan mereka.
"Sejak November 2024, militer kita telah mencapai persentase perekrutan tertinggi dalam hal keberhasilan misi dalam lebih dari 15 tahun," kata juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell.
Baca juga: China Perketat Ekspor Barang ke Jepang untuk Kepentingan Militer
Sementara itu, Wakil Menteri Perang Bidang Personel dan Kesiapsiagaan Anthony J Tata mengatakan, pada tahun 2025, DoW melampaui target perekrutan personel aktif tahunan di kelima angkatan bersenjata.
"Mengapa? Karena kita memiliki panglima tertinggi dan menteri perang yang fokus pada pasukan dan misi kita, serta memastikan bahwa kita tetap menjadi kekuatan tempur paling mematikan di planet ini," tutur Tata.
Pasukan Komando Sentra Amerika Serikat (Centcom) saat tur di pangkalan udara batalyon Militer Irak pada 17 Maret 2020.
Pernyataan tersebut menegaskan, pencapaian TA 2025 dipandang sebagai hasil dari fokus kebijakan dan strategi yang lebih terkoordinasi di tingkat kepemimpinan.
Setelah bertahun-tahun defisit rekrutmen
Lonjakan ini terjadi setelah beberapa tahun sebelumnya US Army dan US Navy mengalami kekurangan rekrut yang cukup signifikan.
Baca juga: Pelabuhan di Sri Lanka Dijadikan Pangkalan Militer China Karena Utang?
Tantangan tersebut dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pandemi Covid-19, perubahan preferensi generasi muda, hingga kompetisi ketat dengan sektor swasta dalam merekrut tenaga kerja usia produktif.
Dalam beberapa tahun terakhir, militer AS bahkan harus menurunkan target atau meningkatkan insentif guna mengisi kebutuhan personel aktif.
Namun pada 2025, tren tersebut berbalik. Dikutip dari Business Insider, perbaikan ini tidak hanya terkait kebijakan internal militer, tetapi juga dinamika pasar tenaga kerja AS secara keseluruhan.
Pasar kerja melambat, minat ke militer meningkat
Salah satu faktor yang diangkat adalah perubahan kondisi pasar tenaga kerja.
Baca juga: TNI Bangun 800 Gudang dan Gerai Kopdes Merah Putih, Menkop: Operasi Militer Non-Perang
Kolonel Lee Evans, direktur intelijen pasar di Army Recruiting Command, menjelaskan angka pengangguran yang rendah tidak mencerminkan keseluruhan kondisi pasar kerja.
"Yang kita lihat selama beberapa tahun terakhir adalah tingkat pengangguran tetap relatif rendah, sekitar 4 persen, tetapi kita melihat tingkat lowongan pekerjaan menurun," terang Evans.
Menurutnya, meski tingkat pengangguran berada di kisaran 4 persen, jumlah lowongan pekerjaan mengalami penurunan.
Data menunjukkan posting lowongan kerja di berbagai platform pencarian kerja turun sekitar 10 persen sepanjang 2024. Selain itu, tingkat lowongan federal juga menurun sejak 2022.
Baca juga: Rupanya Ini Alasan Prabowo Pilih Dirjen Bea Cukai dari Militer
Ilustrasi pasukan khusus Angkatan Laut AS (US Navy SEAL).
Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang berbeda bagi generasi muda yang baru lulus sekolah menengah atau perguruan tinggi.
Ketika peluang kerja di sektor sipil tidak seluas beberapa tahun sebelumnya, militer menjadi alternatif yang lebih menarik karena menawarkan stabilitas, pelatihan keterampilan, serta manfaat pendidikan.
Business Insider juga mencatat adanya kekhawatiran terhadap potensi perlambatan ekonomi pada 2025.
Dalam konteks ketidakpastian tersebut, jalur karier militer yang memberikan gaji tetap, tunjangan kesehatan, serta akses pendidikan menjadi pertimbangan rasional bagi sebagian calon rekrut.
Baca juga: Wacana Mengirim ASN Malas ke Barak Militer
Tantangan kualifikasi dan strategi “pre-boot camp”
Meski angka perekrutan meningkat, tantangan struktural tetap ada. Salah satu isu utama adalah kelayakan calon rekrut.
Diperkirakan hampir 75 persen generasi muda AS tidak memenuhi standar masuk militer tanpa intervensi tambahan, baik karena masalah kesehatan, kebugaran fisik, maupun nilai akademik.
Untuk mengatasi hal ini, US Army dan US Navy menerapkan pendekatan baru berupa program persiapan sebelum pelatihan dasar atau dikenal sebagai pre-boot camp.
Program ini memungkinkan calon rekrut memperbaiki skor tes masuk, meningkatkan kebugaran, atau memenuhi standar fisik sebelum resmi bergabung.
Baca juga: Poin-poin Pertemuan Wamendag dengan Sekneg Ekonomi Portugal, Bahas Energi hingga Teknologi Militer
Strategi tersebut memperluas basis kandidat yang sebelumnya tidak memenuhi syarat langsung, sehingga memperbesar pipeline perekrutan.
Pejabat militer menyebut pendekatan ini sebagai salah satu faktor yang membantu meningkatkan angka perekrutan pada TA 2025.
Peran kepemimpinan dan narasi publik
Ilustrasi tentara Amerika Serikat yang bergerak ketika terjadi invasi.
Tata mengaitkan keberhasilan rekrutmen militer AS dengan fokus kepemimpinan nasional terhadap isu pertahanan dan kesiapan pasukan.
Menurut dia, keberhasilan tersebut berkaitan dengan kepemimpinan yang memprioritaskan misi dan kesiapan tempur.
Baca juga: Imbas Agresi Militer Israel, Ratusan Ribu Masyarakat Palestina Jatuh Miskin
Sementara itu, Parnell menekankan, sejak November 2024, capaian perekrutan menunjukkan persentase tertinggi dalam lebih dari 15 tahun.
Narasi yang berkembang di lingkungan militer juga menyebut adanya peningkatan sentimen patriotisme di kalangan sebagian pemuda, meski faktor ekonomi dan pasar kerja tetap menjadi variabel penting dalam analisis perekrutan.
Momentum awal tahun anggaran
Selain data tahunan, sejumlah indikator awal TA 2025 menunjukkan momentum perekrutan yang kuat.
US Army dilaporkan telah mencapai sekitar 73 persen dari target tahunan hanya dalam beberapa bulan pertama tahun anggaran. Angka tersebut disebut sebagai performa awal yang belum terlihat dalam satu dekade terakhir.
Momentum tersebut menunjukkan lonjakan bukan hanya terjadi pada akhir periode, melainkan telah terbentuk sejak awal siklus perekrutan.
Baca juga: RI-Kongo Sepakati Kerja Sama Pelatihan Militer, Tambang, dan Budidaya Kelapa Sawit
Implikasi terhadap struktur tenaga kerja
Lonjakan perekrutan militer AS terjadi di tengah dinamika yang lebih luas di pasar tenaga kerja AS.
Ketika sektor swasta menghadapi perlambatan pembukaan lowongan kerja baru dan meningkatnya selektivitas dalam rekrutmen, militer hadir sebagai salah satu institusi yang menawarkan jalur karier terstruktur dengan manfaat jangka panjang.
Bagi sebagian generasi muda, terutama mereka yang mempertimbangkan biaya pendidikan tinggi yang terus meningkat, militer menawarkan program pembiayaan pendidikan dan pelatihan teknis yang menjadi nilai tambah.
Di sisi lain, militer juga melakukan adaptasi komunikasi dan strategi pemasaran untuk menjangkau generasi digital.
Baca juga: Perkuat Keamanan Siber, Menlo Security Tawarkan Keamanan 100 Persen dengan Tingkat Kualitas Militer
Pendekatan ini dilakukan untuk mengatasi persepsi lama tentang kehidupan militer serta memperluas daya tariknya di kalangan Gen Z.
Tag: #lowongan #kerja #menyusut #militer #jadi #pilihan #pekerja #muda