Purbaya Soroti Megaproyek LNG Abadi Masela yang Tak Kunjung Beroperasi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Purbaya dalam Rapat Koordinasi Proyek Strategis Nasional Onshore LNG Abadi Masela di Kementerian Keuangan, Selasa (24/2/2026).(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY)
16:12
24 Februari 2026

Purbaya Soroti Megaproyek LNG Abadi Masela yang Tak Kunjung Beroperasi

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali memimpin sidang penyelesaian hambatan usaha atau debottlenecking di Kementerian Keuangan, Selasa (24/2/2026).

Agenda rapat membahas kelanjutan megaproyek gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) Abadi Blok Masela yang belum juga beroperasi.

Operator Wilayah Kerja Masela, Inpex Masela Ltd., melaporkan sejumlah kendala proyek strategis nasional tersebut.

"Ini sudah puluhan tahun kelihatannya, saya sudah dengar saja sudah tujuh tahun yang lalu sampai sekarang belum jadi-jadi. Jadi kita ingin tahu apa masalahnya dan akan kita coba pecahkan secepatnya," ujar Purbaya dalam Rapat Koordinasi Proyek Strategis Nasional Onshore LNG Abadi Masela.

Baca juga: Investasi Proyek LNG Abadi Blok Masela Capai Rp 342 Triliun, Bakal Serap 13.461 Tenaga Kerja

Purbaya menyoroti kelayakan proyek dari sisi keekonomian. Ia mempertanyakan daya saing harga gas Blok Masela di pasar global.

Nilai investasi proyek ini mencapai 20,94 miliar dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 342,36 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.350 per dollar Amerika Serikat.

"Jadi berapa harga pasar yang layak bagi kalian untuk mengoperasikan fasilitas ini secara menguntungkan?" kata Purbaya.

Executive Project Director Inpex Masela Jarrad Blinco menjelaskan sejumlah hambatan di lapangan.

Hambatan pertama terkait penerimaan masyarakat setelah persetujuan area penebangan hutan dan pemanfaatan ruang laut terbit. Hambatan kedua menyangkut pengamanan area fasilitas kelautan.

Persetujuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) final juga menunggu penyelesaian Front End Engineering Design (FEED).

Inpex telah mengantongi Persetujuan Pelepasan Kawasan Hutan untuk kilang darat atau Onshore LNG dari Kementerian Kehutanan pada Januari 2026.

Persetujuan lanjutan AMDAL dari Kementerian Lingkungan Hidup terbit pada awal Februari 2026.

Baca juga: Purbaya Sebut Bank Syariah Lebih Mahal dari Bank Konvensional, Ini Kata Bankir

Setelah AMDAL terbit, Inpex menargetkan pekerjaan awal konstruksi seperti pemasangan pagar dan pembangunan jalan pengalihan dimulai pada kuartal II 2026.

Proses prakualifikasi atau prequalification tender Engineering, Procurement, Construction, and Installation (EPCI) untuk empat paket utama termasuk fasilitas Carbon Capture and Storage (CCS) juga berjalan. CCS merupakan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon untuk menekan emisi.

Jarrad menyebut gangguan sosial di sekitar proyek serta perizinan tahap EPCI masih menjadi tantangan.

"Kami memerlukan bantuan dari pemerintah," ujarnya.

Proyek ini memiliki cadangan gas sekitar 18,54 trillion cubic feet atau TCF. Angka tersebut setara lebih dari 10 persen impor LNG tahunan Jepang.

Saat beroperasi penuh, kapasitas produksi diproyeksikan mencapai 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta standar kaki kubik per hari atau million standard cubic feet per day gas pipa, serta sekitar 35.000 barel minyak per hari atau barrel of oil per day kondensat.

Pemerintah menargetkan proyek yang ditetapkan sejak September 2017 ini mulai onstream pada 2029. Proyek ini juga dirancang sebagai proyek LNG pertama di Indonesia yang menerapkan CCS sejak awal pengembangan.

Tag:  #purbaya #soroti #megaproyek #abadi #masela #yang #kunjung #beroperasi

KOMENTAR