Ekonom Nilai Pelemahan Rupiah Berbeda dari Krisis 1998
- Ekonom Bank Permata menyatakan fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih baik daripada krisis moneter 1997-1998.
- Pelemahan rupiah menguntungkan eksportir namun memberi tekanan biaya signifikan pada importir dan industri bergantung impor.
- Dampak pelemahan rupiah dirasakan oleh sektor manufaktur, elektronik, dan farmasi, berpotensi meningkatkan harga barang.
Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level Rp17.000 per dolar AS memunculkan kekhawatiran publik. Salah satunya terulangnya krisis moneter 1997-1998.
Namun, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menekankan bahwa kondisi saat ini sangat berbeda dibandingkan periode krisis tersebut.
Menurut Josua, secara nominal level rupiah saat ini memang mendekati posisi ketika Indonesia mengalami krisis pada 1997-1998. Namun, dari sisi fundamental ekonomi, situasinya tidak dapat disamakan.
“Kalau kita lihat levelnya memang hampir sama seperti saat krisis moneter 1997-1998. Tetapi kondisi ekonomi kita saat itu dengan sekarang tentu jauh berbeda. Fundamental ekonomi kita sekarang jauh lebih baik,” ujarnya di Jakarta, Senin (23/2/2026).
Josua menjelaskan, dalam jangka pendek pelemahan rupiah memberikan dampak yang berbeda bagi pelaku usaha, terutama antara eksportir dan importir.
Dari sisi eksportir, penguatan dolar AS justru membawa keuntungan. Arus kas berpotensi meningkat dan kemampuan pembayaran korporasi menjadi lebih kuat karena pendapatan berbasis dolar.
PerbesarIlustrasi industri saat beroperasi. [Istimewa]Sebaliknya, bagi importir dan industri yang bergantung pada bahan baku impor, tekanan biaya mulai terasa. Kenaikan nilai dolar membuat harga barang impor meningkat, termasuk bahan baku produksi.
“Sebagian besar industri manufaktur kita masih mengandalkan bahan baku impor. Jika pelemahan rupiah berlanjut, ini bisa berdampak pada kenaikan biaya produksi dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga barang,” jelasnya.
Beberapa sektor yang berpotensi terdampak antara lain produk elektronik, farmasi dan obat-obatan, serta jasa yang memiliki komponen input impor cukup besar.
"Kenaikan harga di sektor-sektor tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi daya beli masyarakat," bebernya.
Meski demikian, Josua menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik, terutama bagi mereka yang tidak memiliki paparan langsung terhadap risiko nilai tukar.
Sebab, risiko nilai tukar lebih relevan bagi pelaku usaha yang bergantung pada impor atau individu yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam valuta asing, seperti biaya pendidikan di luar negeri.
“Kalau tidak memiliki kebutuhan impor yang tinggi atau tidak memiliki kewajiban dalam mata uang asing, sebenarnya tidak perlu terlalu khawatir dengan pergerakan rupiah saat ini,” tegasnya.
Tag: #ekonom #nilai #pelemahan #rupiah #berbeda #dari #krisis #1998