Dorong Ekonomi Sirkular, CCEP Reaktivasi 12 Bank Sampah
Ilustrasi bank sampah(KOMPAS.com/SYAHRUL MUNIR)
11:56
13 Februari 2026

Dorong Ekonomi Sirkular, CCEP Reaktivasi 12 Bank Sampah

- Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) melakukan reaktivasi 12 bank sampah, serta memberikan bantuan peralatan dan infrastruktur untuk mendorong geliat ekonomi sirkular di di Kelurahan Cipinang Melayu.

Direktur Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia Lucia Karina mengatakan, pendampingan bank sampah yang dilakukan oleh CCEP Indonesia di Kelurahan Cipinang Melayu sudah berjalan sejak awal tahun 2025.

“Program ini merupakan bagian dari implementasi strategi keberlanjutan CCEP, ”This is Forward”, yang mendorong penguatan ekonomi sirkular melalui pengelolaan kemasan dan pemberdayaan masyarakat,” kata Lucia dalam acara Peringati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), yang disampaikan lewat keterangan resmi, Jumat (13/2/2026).

Dia mengatakan, yang membedakan program ini dari pendampingan bank sampah pada umumnya adalah penekanan pada pengembangan kapabilitas pengurus.

Baca juga: Atasi Masalah Ekonomi dan Lingkungan, PGN Ajak Masyarakat Kelola Bank Sampah

Selain memberikan dukungan peralatan dan infrastruktur, CCEP Indonesia menyelenggarakan enam sesi pelatihan yang mencakup manajemen operasional, digitalisasi pencatatan dan keuangan, teknik pengolahan sampah organik dan daur ulang, pembuatan produk bernilai jual dari material sampah, serta pemasaran dan pengemasan produk.

“Tujuannya adalah agar bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai titik kumpul, tetapi juga mampu menjadi unit usaha sosial yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat,” ujar dia.

”Kami meyakini bahwa pengelolaan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat,” lanjut Lucia.

Lucia bilang, ketika komunitas didukung oleh pendampingan yang konsisten, bank sampah dapat berkembang dari sekadar titik kumpul menjadi pusat ekonomi sirkular di lingkungan masyarakat.

Dari sisi infrastruktur, program ini menyediakan perangkat digital untuk pencatatan, timbangan digital, drop box PET, fasilitas pengolahan sampah organik termasuk maggot tower terintegrasi budidaya ikan lele, komposter, serta mesin untuk pelatihan daur ulang tutup botol plastik.

Selama satu tahun pelaksanaan, program ini mencatat berbagai capaian yang signifikan. Lebih dari 100 nasabah aktif baru bergabung dari 12 BSU.

“Total sampah yang berhasil dikelola mencapai lebih dari 80 ton, yang terdiri dari kertas, plastik, logam, organik, kaca, dan juga 1,7 ton sampah organik dalam kurun waktu empat bulan terakhir,” jelas dia.

Tidak berhenti di situ, pengurus bank sampah juga mulai memproduksi barang bernilai jual seperti papan plastik daur ulang, lilin aromaterapi, pupuk cair, serta produk maggot dan kasgot yang meningkatkan pendapatan komunitas.

Seluruh 12 BSU kini telah menerapkan sistem pencatatan digital dalam operasi hariannya. Untuk menjaga keberlangsungan program setelah masa pendampingan selesai, telah terbentuk Paguyuban Garpu Basah (Gerakan Terpadu Bank Sampah Cipinang Melayu) sebagai wadah

koordinasi antar 12 bank sampah yang dikelola langsung oleh pengurus dan masyarakat setempat.

“Kami berharap inisiatif ini dapat menjadi model kolaborasi yang berkelanjutan dan menginspirasi lebih banyak wilayah untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas,” tutup Karina.

Berdasarkan Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai 21,65 juta ton, dan baru sekitar 35 persen yang terkelola.

Di saat yang sama, Indonesia memiliki hampir 17.000 unit bank sampah, meskipun tidak semuanya dalam kondisi aktif. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama pengelolaan sampah berbasis komunitas bukan hanya soal jumlah infrastruktur, tetapi juga soal kapabilitas pengelolanya.

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup RI, Rasio Ridho Sani, menyampaikan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas merupakan bagian penting dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam ekonomi sirkular.

“Inisiatif berbasis komunitas seperti bank sampah ini sangat penting untuk menangani persoalan sampah di Indonesia. Bank sampah memainkan peranan yang sangat penting dalam membantu menyelesaikan persoalan di tingkat paling bawah,” tegas Rasio.

Tag:  #dorong #ekonomi #sirkular #ccep #reaktivasi #bank #sampah

KOMENTAR