BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Ekonom Nilai Rupiah Sudah ''Overshoot''
Ilustrasi Bank Indonesia (BI). Jadwal operasional BI Nataru 2025/2026. Jadwal operasional BI saat libur Nataru 2025/2026. Jadwal operasional BI Desember 2025.(SHUTTERSTOCK/FRRN)
18:16
21 Januari 2026

BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Ekonom Nilai Rupiah Sudah ''Overshoot''

- Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026.

Seiring keputusan tersebut, suku bunga deposit facility tetap berada di level 3,75 persen, sementara suku bunga lending facility dipertahankan di 5,5 persen.

Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan, keputusan BI ini dinilai sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, terutama terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan, BI Rate. FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan, BI Rate.

Adapun keputusan bank sentral menahan BI Rate di level 4,75 persen merupakan sinyal kuat bahwa stabilitas rupiah menjadi salah satu pertimbangan utama bank sentral.

“Oke, terkait dengan BI Rate 4,75 tentunya ini kestabilan rupiah. Jadi salah satu hal yang dipertimbangkan ya,” ujar Fakhrul ketika ditemui di Jakarta pada Rabu (21/1/2026)

Menurut Fakhrul, tekanan terhadap rupiah belakangan ini lebih dipicu oleh sentimen global yang bersifat sementara. Ia menilai nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 16.900 per dollar AS sudah berada di luar nilai fundamentalnya.

“Terkait dengan rupiah saya nilai level 16.900 ini posisinya sudah overshoot. Sudah jauh lebih tinggi daripada nilai yang seharusnya,” kata dia.

Fakhrul menjelaskan, kondisi tersebut lazim terjadi saat pasar global memasuki fase risk-off, di mana investor cenderung menarik dana dari aset berisiko dan beralih ke aset safe haven, terutama dolar AS. Situasi ini diperparah oleh ketidakpastian waktu penurunan suku bunga oleh The Fed.

Meski demikian, Fakhrul mengingatkan bahwa fundamental ekonomi domestik Indonesia masih cukup solid.

Salah satu penopangnya adalah neraca perdagangan yang konsisten mencatatkan surplus, sehingga memberikan bantalan bagi nilai tukar rupiah.

Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Mata uang paling lemah di Asia 2025.PIXABAY/DARNO BEGE Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Mata uang paling lemah di Asia 2025.“Tapi kita jangan lupa juga trade balance kita, tender room surplus,” ucapnya.

Ia pun menilai peluang rupiah untuk menembus level Rp 17.000 per dollar AS hanya bersifat jangka pendek dan tidak akan bertahan lama.

Menurut Fakhrul, level tersebut justru mencerminkan kondisi yang terlalu berlebihan.

Bahkan, Fakhrul menyebut pelemahan rupiah yang terlalu dalam bisa menjadi momentum bagi pelaku pasar untuk melepas dollar AS.

“Saya melihat rupiah 17.000 kondisinya overshoot. That’s time to sell dolar,” kata dia.

Ke depan, Fakhrul memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak lebih stabil dan kembali ke level yang lebih mencerminkan fundamental ekonomi.

Ia memproyeksikan rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 berada di kisaran Rp 16.500 per dollar AS.

“Kita lihat ya, sekitar 16.500 average tahun ini,” tutur Fakhrul.

Tag:  #tahan #suku #bunga #persen #ekonom #nilai #rupiah #sudah #overshoot

KOMENTAR