Apa Itu RDMP Balikpapan yang Diresmikan Presiden Prabowo?
- Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Senin (12/1/2026). Proyek ini menjadikan Kilang Balikpapan sebagai kilang terbesar di Indonesia dan menjadi tonggak penting penguatan ketahanan energi nasional.
Lalu, apa itu RDMP Balikpapan, dan manfaat apa yang diperoleh Indonesia dari proyek ini?
Apa Itu RDMP Balikpapan?
RDMP Balikpapan adalah proyek pengembangan dan modernisasi kilang minyak milik PT Pertamina (Persero) yang berlokasi di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Proyek ini dirancang sebagai kilang terintegrasi yang mencakup sistem penerimaan minyak mentah, jaringan pipa transfer, proses pengolahan, dan fasilitas pendukung rantai pasok energi secara menyeluruh.
Proyek yang mulai dibangun sejak 2019 ini termasuk Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi sekitar 7,4 miliar dollar AS atau setara Rp 123 triliun. Besarnya investasi mencerminkan skala besar dan kompleksitas teknologi mutakhir yang dihadirkan.
Tujuan dan Manfaat Proyek
RDMP Balikpapan bertujuan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah dari 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari.
Selain kapasitas, proyek ini juga meningkatkan kualitas bahan bakar minyak (BBM) yang dihasilkan agar lebih ramah lingkungan sesuai standar Euro 5, dengan kandungan sulfur hanya 10 ppm, jauh lebih rendah dari standar sebelumnya (Euro 2 dengan 2.500 ppm).
Modernisasi kilang ini diharapkan mendorong hilirisasi industri petrokimia nasional, memperkuat ketahanan dan kemandirian energi Indonesia, serta mengurangi ketergantungan impor BBM, terutama solar.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan, dengan beroperasinya RDMP Balikpapan dan penerapan mandatori biodiesel B50, Indonesia menargetkan penghentian impor solar mulai 2026.
Produksi solar nasional bahkan diperkirakan surplus 3 sampai 4 juta kiloliter setelah kilang beroperasi penuh.
Tiga Lingkup Utama Pembangunan RDMP Balikpapan
Pembangunan RDMP Balikpapan dilakukan melalui tiga lingkup utama yang saling terhubung:
1. Early Work (Pekerjaan Pendahuluan)
Tahap ini meliputi 16 paket pekerjaan pendahuluan, seperti persiapan dan pematangan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, penyediaan utilitas sementara, serta fasilitas pendukung konstruksi. Early work menjadi fondasi penting untuk keselamatan dan efektivitas pekerjaan utama.
2. Pengembangan dan Pembangunan Fasilitas Utama Kilang
Pertamina membangun 39 unit fasilitas utama, terdiri dari 21 unit proses baru dan 13 unit fasilitas utilitas pendukung.
Selain itu, dilakukan revitalisasi empat unit utama pengolahan: distilasi minyak mentah, pengolahan residu, hydrocracking dan hydrotreating, serta pemulihan LPG.
Revitalisasi ini meningkatkan fleksibilitas dan keandalan operasional serta memastikan produk BBM memenuhi standar kualitas tinggi.
3. Penguatan Infrastruktur Penerimaan Minyak Mentah
Pembangunan dua tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas masing-masing 1 juta barel.
Selain itu, dibangun jaringan pipa transfer line onshore dan offshore berdiameter 20 inci, unloading line berdiameter 52 inci, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) yang mampu melayani kapal tanker hingga 320.000 DWT.
Infrastruktur ini meningkatkan efisiensi, keamanan, dan keandalan penerimaan minyak dari kapal tanker besar.
Pertamina menargetkan proyek Revamping Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur mulai beroperasi pada 17 November 2025.
Fasilitas Kunci: RFCC Complex
Salah satu elemen kunci RDMP Balikpapan adalah pembangunan fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex.
Proyek ini menandai lompatan besar dalam modernisasi kilang Pertamina menuju standar kilang kelas dunia yang efisien, bernilai tambah tinggi, dan ramah lingkungan.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menjelaskan, sebagai unit pengolahan utama, RFCC Complex dirancang untuk mengoptimalkan pengolahan residu minyak menjadi produk bahan bakar dan petrokimia bernilai tinggi.
Melalui fasilitas ini dan unit tambahan lainnya, kualitas bahan bakar yang diproduksi Kilang Balikpapan meningkat signifikan dari standar Euro 2 dengan kandungan sulfur 2.500 ppm menjadi standar Euro 5 dengan kandungan sulfur hanya 10 ppm.
Artinya, bahan bakar yang dihasilkan lebih bersih dan rendah emisi.
“Fasilitas ini menjadi tulang punggung operasional Kilang Balikpapan dalam mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih. Ini merupakan lompatan besar dalam peningkatan kualitas BBM nasional dengan kapasitas kilang mencapai 360.000 barel per hari serta mendukung program hilirisasi,” kata Baron dalam siaran pers, Minggu (11/1/2026).
Sebagai proyek modernisasi kilang terbesar di Indonesia, pengoperasian RFCC Complex tidak hanya memungkinkan produksi bensin dan solar yang lebih berkualitas, tetapi juga menambah produksi LPG.
Kilang Balikpapan kini mampu menghasilkan produk petrokimia yang sebelumnya belum tersedia di fasilitas ini.
Penambahan produksi LPG diperkirakan mencapai 336.000 ton per tahun, yang memperkuat pasokan domestik sekaligus mengurangi ketergantungan impor secara bertahap.
Selain itu, RFCC Complex memungkinkan pengolahan minyak residu yang sebelumnya sulit diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene.
Inovasi ini meningkatkan nilai ekonomi kilang serta memperluas kontribusinya dalam rantai industri energi dan petrokimia nasional.
Dari sisi kinerja, kompleksitas Kilang Balikpapan meningkat signifikan, terbukti dari Nelson Complexity Index (NCI) yang melonjak dari 3,7 menjadi 8,0. Semakin tinggi angka ini, semakin banyak produk berkualitas tinggi yang dapat dihasilkan.
Yield Valuable Product (YVP) atau imbal hasil produk bernilai juga meningkat dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen, naik sekitar 16 persen, menegaskan efisiensi dan daya saing kilang yang semakin baik.
“RFCC Complex menjadi simbol kesiapan Pertamina menyongsong era baru pengolahan kilang modern dan wujud nyata dukungan terhadap swasembada energi nasional sesuai amanat Asta Cita pemerintah,” ujar Baron.
Dukungan Terhadap Kebijakan Energi Nasional
Selain meningkatkan kapasitas dan kualitas produk, RDMP Balikpapan menjadi pilar utama dalam transformasi infrastruktur energi nasional.
Dengan cakupan pembangunan komprehensif, proyek ini mendukung ketahanan energi jangka panjang Indonesia melalui sistem energi yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebutkan, kapasitas kilang nasional saat ini sekitar 1,18 juta barel per hari, sementara kebutuhan BBM nasional mencapai 1,6 juta barel per hari.
RDMP Balikpapan akan membantu menutup kekurangan tersebut dan mendukung kebijakan penghentian impor solar mulai April 2026.
Meski begitu, Kementerian ESDM membuka kemungkinan impor terbatas di awal 2026 tergantung kesiapan operasional kilang.