Risiko Geopolitik Menguat, Prasasti Ingatkan 2026 Bukan Tahun Coba-coba
– Meningkatnya tensi geopolitik global dinilai menjadi sinyal penting bagi Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi pada 2026. Di tengah ketidakpastian global, konsistensi kebijakan dan kualitas eksekusi disebut lebih krusial ketimbang melakukan banyak eksperimen kebijakan baru.
Penilaian itu disampaikan Prasasti Center for Policy Studies menanggapi sejumlah perkembangan geopolitik mutakhir, termasuk keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menarik negaranya dari 66 organisasi internasional. Langkah tersebut mencakup 31 badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa dan 35 organisasi non-non-PBB yang dinilai tidak lagi sejalan dengan kepentingan nasional Amerika Serikat.
Situasi itu terjadi setelah Amerika Serikat menuai kritik internasional akibat penyerangan ke Venezuela, penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, serta penerbangan keduanya ke luar negara tersebut atas tuduhan keterlibatan dalam narko-terorisme. Ketegangan global juga dibayangi kekhawatiran di kawasan lain, termasuk potensi eskalasi hubungan China–Taiwan.
Stabilitas Jadi Prioritas Utama
Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi, mengatakan meluasnya risiko geopolitik harus dibaca sebagai peringatan dini bagi Indonesia untuk menempatkan stabilitas keuangan dan nilai tukar sebagai prioritas utama.
“Ini bukan tahun untuk terlalu banyak eksperimen kebijakan. Arah strategis sudah ada, yang paling dibutuhkan sekarang adalah konsistensi dan kualitas eksekusi,” ujar Gundy dalam keterangan tertulis, Senin (12/1/2026).
Menurut Prasasti, Indonesia relatif siap menghadapi peningkatan ketidakpastian global. Namun, ruang kesalahan kebijakan menjadi semakin sempit seiring meningkatnya risiko geopolitik. Stabilitas, kredibilitas kebijakan, serta eksekusi yang efektif dinilai menjadi kunci menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Gundy menilai, jika ketegangan politik meluas ke luar kawasan konflik utama, dampaknya terhadap perdagangan, investasi, dan koordinasi kebijakan global akan jauh lebih signifikan. Meski demikian, Prasasti mencatat perekonomian global sejauh ini masih menunjukkan daya tahan.
Nilai Tukar Paling Perlu Diwaspadai
Dalam jangka pendek, Prasasti menilai pasar keuangan menjadi kanal transmisi utama dari guncangan geopolitik. Valuasi aset global yang relatif tinggi membuat sentimen pasar lebih sensitif terhadap risiko politik.
“Dalam kondisi pasar yang sudah stretched, shock geopolitik sekecil apa pun bisa dengan cepat mengguncang dan mengganggu stabilitas pasar keuangan,” kata Gundy.
Dari sisi harga energi, dampak geopolitik terhadap harga minyak global dinilai masih terbatas. Kondisi suplai energi yang relatif longgar, termasuk kebijakan produksi OPEC serta ketahanan produksi minyak serpih Amerika Serikat, membantu menjaga stabilitas harga. “Pasar energi saat ini secara struktural lebih siap menyerap guncangan dibandingkan siklus sebelumnya,” ujarnya.
Bagi Indonesia, tekanan inflasi jangka pendek dinilai masih relatif terkendali selama harga energi global tetap stabil. Dampak langsung terhadap inflasi dan risiko fiskal energi disebut terbatas, sementara inflasi pangan lebih banyak dipengaruhi faktor domestik seperti pasokan, musim, dan distribusi.
Namun, nilai tukar rupiah menjadi variabel yang paling perlu diwaspadai. Menurut Gundy, perubahan sentimen global berpotensi memicu lonjakan aversi risiko. “Jika terjadi lonjakan aversi risiko, arus modal cenderung kembali ke aset aman, dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, akan menghadapi tekanan terlebih dahulu,” ujarnya.
Prasasti menilai Indonesia memasuki periode ini dengan fundamental yang relatif kuat serta basis permintaan domestik yang besar, sehingga lebih resilien dibandingkan sejumlah negara di kawasan. Meski demikian, volatilitas nilai tukar tetap berisiko menekan investasi, mengingat tingginya kandungan impor dalam siklus investasi domestik.
Di tengah dinamika tersebut, Prasasti dijadwalkan menggelar Prasasti Economic Forum 2026 pada 29 Januari di Jakarta dengan tema "Navigating Indonesia’s Next Chapter". Forum tahunan ini akan membahas arah kebijakan ekonomi nasional, transformasi hijau, serta dinamika dan peluang investasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen.
Tag: #risiko #geopolitik #menguat #prasasti #ingatkan #2026 #bukan #tahun #coba #coba