PLTA Sipansihaporas, Bukti Komitmen PLN Minimalkan Risiko Banjir di Tapanuli Tengah
Kondisi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sipansihaporas, Tapanuli Tengah pascabencana banjir dan tanah longsor di wilayah Sumatera Utara akhir November. Sejak awal Desember lalu, pembangkit hijau berusia lebih dari 20 tahun ini telah kembali beroperasi penuh setelah sebelumnya sempat dihentikan sementara akibat dampak bencana di wilayah tersebut.(Dok. PLN)
13:04
12 Januari 2026

PLTA Sipansihaporas, Bukti Komitmen PLN Minimalkan Risiko Banjir di Tapanuli Tengah

- PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN berkomitmen membangun dan mengelola infrastruktur yang tidak hanya berorientasi pada penyediaan energi, tetapi juga mengedepankan perlindungan sosial dan lingkungan, khususnya di wilayah rawan bencana.

Komitmen tersebut dibuktikan melalui kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sipansihaporas yang berhasil meminimalkan risiko banjir di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut), dengan menahan material yang terbawa arus banjir pada 25 November 2025.

Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary Marimbo menegaskan, keberadaan PLTA Sipansihaporas merupakan bagian dari upaya PLN menghadirkan infrastruktur yang adaptif terhadap risiko alam, sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat.

Ia mengungkapkan bahwa bendungan PLTA Sipansihaporas berperan menahan material banjir dari wilayah hulu, sehingga dampak yang dirasakan masyarakat di hilir dapat diminimalkan.

"Pada saat bersamaan, PLN juga terus menjaga keandalan sistem kelistrikan agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan di tengah kondisi alam yang ekstrem," ujar Rizal dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (12/1/2025).

Manfaat keberadaan PLTA Sipansihaporas telah dirasakan langsung oleh warga Desa Sihaporas, Pinangsori, Tapanuli Tengah, Sumut, salah satunya Erwin Tambunan.

Saat bencana banjir melanda wilayahnya, ia dan warga lain mengaku khawatir karena hujan terus turun dan tidak menunjukkan tanda-tanda reda, sementara air Sungai Sipansihaporas mulai tinggi.

“Hujan terus kurang lebih itu seminggu. Tahu-tahu banjir bandang di tanggal 25 (November). Itu pun saya lihat ke sungai, ke kampung, aliran air sungai sangat deras," ucap Erwin.

Ia menjelaskan bahwa kekhawatiran warga semakin memuncak setelah kayu-kayu besar yang terbawa arus mulai muncul dan mengancam rumah maupun ladang yang lokasinya tidak jauh dari bantaran sungai.

"Kayunya pun banyak, kayu gelondongan. Warga pun langsung mengungsi semua,” tutur Erwin.

Di tengah kondisi yang semakin mencekam, Erwin menyebut, PLTA Sipansihaporas menjadi penahan pertama yang kokoh ketika banjir datang. Saat hujan mencapai puncaknya, bendungan yang menjadi bagian dari sistem PLTA Sipansihaporas itu bekerja dalam senyap.

Debit air yang meningkat tajam dari wilayah hulu tertahan di area bendungan. Kayu gelondongan, potongan batang pohon, dan sedimen yang terbawa arus deras menumpuk dan tertahan, sehingga tidak langsung melaju ke arah permukiman di hilir.

Erwin mengatakan bahwa bendungan PLTA Sipansihaporas berperan layaknya benteng alami, memperlambat laju air, dan meredam potensi kerusakan yang lebih besar. Alhasil, tiga desa di wilayah hilir terhindar dari ancaman banjir yang lebih parah.

"Kalau saya lihat di atas pegunungan itu, kayu di situ banyaknya. Kalau kayu gelondongan ini semua sempat turun ke bawah (desa-desa), kurasa rumah-rumah kami semua banyak yang hancur," jelas Erwin.

Oleh karena itu, ia mengucapkan terima kasih karena PLTA yang berlokasi di Desa Husor, Sibuluan, dan Sihaporas, Kabupaten Tapanuli Tengah itu telah menyelamatkan warga setempat. 

"Dengan adanya PLTA kami selamat, kami merasa lebih aman. Kalau tidak ada itu, habis semua rumah warga di Sihaporas," ucap Erwin.

Sistem kerja PLTA Sipansihaporas 

Tampak Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sipansihaporas berkapasitas 50 megawatt (MW) yang berlokasi di Desa Husor, Desa Sibuluan, dan Desa Sihaporas, Kabupaten Tapanuli Tengah. Pembangkit hijau ini memanfaatkan potensi air di kawasan pegunungan dan menjadi salah satu penopang sistem kelistrikan Sumatera Utara.Dok. PLN Tampak Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sipansihaporas berkapasitas 50 megawatt (MW) yang berlokasi di Desa Husor, Desa Sibuluan, dan Desa Sihaporas, Kabupaten Tapanuli Tengah. Pembangkit hijau ini memanfaatkan potensi air di kawasan pegunungan dan menjadi salah satu penopang sistem kelistrikan Sumatera Utara.

PLTA Sipansihaporas bekerja dengan mengandalkan potensi aliran air dari kawasan pegunungan. Pembangkit ini merupakan salah satu penopang sistem kelistrikan Sumut sekaligus menjadi bagian dari bauran energi terbarukan nasional.

Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah menjelaskan bahwa PLTA Sipansihaporas dirancang untuk mampu mengendalikan aliran air saat curah hujan tinggi.

Sistem bendungan dan saluran air berfungsi menahan sedimen serta material padat, termasuk kayu gelondongan yang terbawa banjir, sehingga tekanan aliran ke wilayah hilir dapat dikendalikan.

“PLTA Sipansihaporas memanfaatkan aliran air dari tiga sungai, yakni Sungai Aer Paramaan, Sungai Aek Natolbak, dan Sungai Aek Bargot. Saat terjadi banjir, sistem bendungan dan saluran air berfungsi menahan kayu gelondongan serta sedimen, sehingga aliran ke wilayah hilir tetap terkendali,” jelas Ruly.

Selain berperan dalam mitigasi bencana, PLTA berkapasitas 50 megawatt (MW) itu juga telah menyuplai listrik berbasis energi hijau bagi masyarakat Tapanuli Tengah dan sekitarnya selama lebih dari dua dekade.

Hal tersebut membuktikan bahwa keberadaan PLTA Sipansihaporas menjadi bagian dari komitmen PLN dalam mendukung transisi energi bersih nasional.

Ruly menambahkan, seluruh unit PLTA Sipansihaporas telah kembali beroperasi penuh pascabencana pada Rabu (2/12/2025).

Dengan beroperasinya kembali PLTA Sipansihaporas, pasokan listrik untuk sektor rumah tangga, sosial, dan layanan publik di Kota Sibolga dan Pandan kembali stabil. Dengan demikian, aktivitas warga juga kembali pulih.

“Pengalaman menghadapi bencana ini menjadi pelajaran berharga dalam mengelola pembangkit secara andal dan adaptif terhadap risiko iklim,” kata Ruly.

Ia menegaskan bahwa PLN Nusantara Power berkomitmen tidak hanya berfokus pada produksi listrik, tetapi juga memastikan pengelolaan pembangkit memberi manfaat nyata bagi keselamatan masyarakat melalui operasional yang aman dan berkelanjutan.

Ke depan, PLTA Sipansihaporas akan menjadi sumber listrik hijau bagi masyarakat sekaligus bagian dari perlindungan hidup warga di sekitarnya.

Di tengah cuaca ekstrem yang kerap terjadi, keberadaan pembangkit tersebut akan menghadirkan rasa aman, ketenangan, dan harapan bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan aliran sungai.

Tag:  #plta #sipansihaporas #bukti #komitmen #minimalkan #risiko #banjir #tapanuli #tengah

KOMENTAR