Gara-gara Sektor Tambang, Ekspor Indonesia Terkoreksi di November 2025
Ilustrasi tambang. Ilustrasi logam tanah jarang atau rare earth.(PIXABAY/MARTINA JANOCHOVA)
13:32
5 Januari 2026

Gara-gara Sektor Tambang, Ekspor Indonesia Terkoreksi di November 2025

- Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja ekspor Indonesia pada November 2025 mengalami kontraksi. Nilai ekspor tercatat sebesar sebesar 22,52 miliar dollar AS atau sekitar Rp 371,58 triliun atau turun 6,60 persen dibandingkan November 2024.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini mengatakan penurunan ekspor terutama berasal dari sektor pertambangan dan lainnya yang mencatat kontraksi paling dalam, yakni sebesar 22,28 persen dengan andil penurunan mencapai 3,55 persen.

"Pelemahan ini dipicu oleh turunnya nilai ekspor sejumlah komoditas utama, seperti batu bara, bijih tembaga, lignit, bijih zirkonium, niobium dan tantalum, serta bijih titanium." ujarnya dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta pada Senin (5/1/2026).

Nilai ekspor migas pada November 2025 tercatat 0,88 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14,52 triliun, turun 32,88 persen. Sementara ekspor nonmigas turun 5,09 persen menjadi 21,64 miliar dollar AS atau setara Rp 357,06 triliun.

Berdasarkan sektor, ekspor nonmigas pada November 2025 didominasi oleh sektor industri pengolahan dengan nilai 18,11 miliar dollar AS atau sekitar Rp 298,82 triliun.

Adapun sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang ekspor sebesar 0,54 miliar dollar AS, atau Rp 8,91 triliun, sementara sektor pertambangan dan lainnya sebesar 2,99 miliar dollar AS atau Rp 49,34 triliun. Secara tahunan, seluruh sektor ini mengalami penurunan.

Meski demikian, secara kumulatif sepanjang Januari hingga November 2025, BPS mencatat tiga komoditas unggulan yakni besi dan baja, batu bara, serta minyak kelapa sawit (CPO) beserta produk turunannya menyumbang sekitar 28,35 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia.

Dalam periode tersebut, ekspor besi dan baja masih tumbuh 9,12 persen, sementara ekspor batu bara turun cukup dalam sebesar 20,27 persen. Di sisi lain, ekspor CPO dan produk turunannya mencatat kenaikan signifikan sebesar 19,15 persen.

Dari sisi negara tujuan, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India menjadi tiga pasar utama ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari hingga November 2025 dengan pangsa gabungan sekitar 42,02 persen.

Ekspor nonmigas ke Tiongkok didominasi oleh komoditas besi dan baja dengan pangsa 28,04 persen dan pertumbuhan 12,80 persen.

Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat terutama ditopang oleh mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya dengan pangsa 19,66 persen dan lonjakan pertumbuhan sebesar 43,83 persen.

Adapun ekspor nonmigas ke India masih didominasi oleh bahan bakar mineral dengan pangsa 29,74 persen. Namun, kinerja ekspor ke negara tersebut justru mengalami penurunan tajam sebesar 24,70 persen.

Sementara total nilai ekspor Indonesia pada periode Januari hingga November 2025 mencapai 256,56 miliar dollar AS atau setara Rp 4.233,24 triliun, tumbuh 5,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas yang mencapai 244,75 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.038,38 triliun, naik 7,07 persen secara tahunan.

Tag:  #gara #gara #sektor #tambang #ekspor #indonesia #terkoreksi #november #2025

KOMENTAR