Cerita Wiwid, WFH Jumat Justru Jadi Hari Tersibuk
Ilustrasi WFH, work from home.(Google Gemini AI)
10:05
19 Mei 2026

Cerita Wiwid, WFH Jumat Justru Jadi Hari Tersibuk

– Bagi sebagian pekerja, kebijakan work from home (WFH) kerap dianggap sebagai solusi untuk menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. 

Namun bagi Wiwid (38), seorang document controller specialist di salah satu BUMD Jakarta, realitasnya tak sesederhana itu.

Di balik fleksibilitas bekerja dari rumah setiap Jumat, ada sederet peran yang harus dijalankan dalam waktu bersamaan. 

Sebagai pekerja sekaligus ibu rumah tangga, Wiwid mengaku sempat merasakan burnout di masa awal penerapan WFH

Meski tidak sampai mengalami burnout berat, ia merasa tuntutan untuk selalu sigap dalam semua tanggung jawab menjadi tantangan tersendiri.

Baca juga: WFH Bikin Lelah Mental? Lakukan 3 Hal Ini untuk Cegah Burnout

“Awalnya agak kesulitan mengatur, tidak sampai burnout parah, tapi memang ada tantangan dan trik khusus yang harus dilakukan pegawai yang merangkap ibu rumah tangga dan punya anak juga,” jelas Wiwid saat diwawancarai Kompas.com, Senin (18/5/2026).

Baginya, WFH adalah ruang kompromi yang menuntut kemampuan membagi fokus secara cepat. Tidak ada sekat tegas antara urusan domestik dan pekerjaan profesional.

Pagi hari jadi perlombaan melawan waktu

Ilustrasi WFH, work from home. Google Gemini AI Ilustrasi WFH, work from home.

Hari kerja dari rumah bagi Wiwid selalu dimulai jauh sebelum laptop dinyalakan.

Rutinitas pagi menjadi fase paling padat karena semua kebutuhan rumah tangga harus dibereskan sebelum jam kerja dimulai. 

Dari menyiapkan makanan, mengurus anak, hingga memastikan aktivitas sekolah berjalan lancar, semua harus selesai sebelum dirinya bisa sepenuhnya beralih ke pekerjaan kantor.

Baca juga: WFH Jumat Dinilai Bisa Buka Jalan Kerja 4 Hari, Sosiolog Ingatkan Syaratnya

Setelah jam kerja dimulai, tantangan belum selesai. Kehadiran anak di rumah setelah pulang sekolah sering kali memunculkan situasi yang menuntut perhatian mendadak.

“Terkadang kalau bekerja pas ada anak, dia jadi lebih manja, pengin disuapin tapi saya masih ngurus kerjaan. Jadi kadang harus kompromi ke anak, misalnya minta waktu 15 sampai 20 menit untuk selesaikan kerjaan, lalu suapin dia makan,” katanya.

Situasi seperti itu membuat batas antara peran sebagai ibu dan pekerja menjadi sangat tipis.

Batas jam kerja yang kian kabur

Salah satu tantangan terbesar yang dirasakan Wiwid selama WFH adalah fleksibilitas jam kerja yang justru sering membuat ritme bekerja menjadi tidak menentu.

Alih-alih selesai tepat waktu, pekerjaan kerap meluas hingga malam hari. Tanpa transisi fisik seperti perjalanan pulang kantor, waktu kerja terasa lebih sulit dihentikan.

“Tantangan lainnya itu ada di jam kerja WFH yang fleksibel. Saya bisa mulai kerja lebih awal atau bahkan selesai kerja sampai malam. Jadi agak kabur batasan jam kerjanya,” ungkapnya.

Baca juga: WFH Jumat untuk ASN, Antara Fleksibilitas dan Beban Baru di Rumah

Kondisi ini membuat Jumat, yang seharusnya menjadi penutup minggu kerja, justru menjadi hari paling sibuk.

“Jatah WFH saya di hari Jumat, biasanya Jumat itu harinya untuk menyelesaikan banyak pekerjaan supaya weekend tidak diganggu pekerjaan, karena saya maunya fokus sama keluarga,” ucap Wiwid.

Ada dorongan untuk menuntaskan semuanya sekaligus, agar akhir pekan benar-benar bisa menjadi ruang jeda bersama keluarga.

Kantor sebagai ruang bernapas

Meski perjalanan menuju kantor menghabiskan waktu sekitar satu jam dengan kereta, Wiwid justru melihat hari kerja di kantor sebagai kesempatan untuk mengambil jeda dari padatnya tanggung jawab domestik.

“Kerja di kantor itu sebenarnya jadi momen untuk me time dan ada rasa bebas sendiri dari berbagai tanggung jawab yang saya emban,” kata dia.

Bagi ibu 2 anak ini, suasana kantor menawarkan ruang sosial yang sulit ditemukan saat bekerja dari rumah. 

“Apalagi kalau jam istirahat itu bisa ketemu teman, ngobrol, coba-cobain makanan, itu jadi waktu self reward yang saya butuhkan juga untuk tetap waras menjalani berbagai tanggung jawab,” terangnya.

Baca juga: Peran Ganda Ibu Bekerja, Psikolog Tekankan Pentingnya Dukungan Keluarga

Menemukan titik seimbang 

Di tengah dinamika kerja dari rumah maupun kantor, Wiwid menyadari tidak ada sistem yang benar-benar sempurna.

“Meskipun WFH memberi kesempatan untuk bisa sama anak sambil bekerja, tapi tidak dipungkiri butuh jeda dan handle berbagai peran ini enggak mudah,” pungkasnya.

Bagi Wiwid, kunci utamanya bukan memilih antara WFH atau WFO, melainkan menemukan ritme yang memungkinkan dirinya tetap hadir secara utuh, baik sebagai pekerja maupun sebagai ibu.

Di tengah tuntutan kerja yang semakin fleksibel, pengalaman Wiwid menunjukkan bahwa burnout tidak selalu hadir dalam bentuk kelelahan ekstrem. 

Kadang, tekanan itu muncul perlahan lewat tuntutan untuk selalu siap, selalu hadir, dan selalu mampu menjalankan banyak peran sekaligus tanpa jeda. 

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa di balik kebijakan WFH yang menawarkan kemudahan, pekerja tetap membutuhkan batasan yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. 

Sebab, tanpa ruang untuk beristirahat dan memulihkan energi, fleksibilitas kerja justru berpotensi menjadi pintu masuk kelelahan mental yang kerap luput disadari.

Baca juga: Atur Komunikasi saat WFH untuk Mencegah Budaya Selalu Siaga

Tag:  #cerita #wiwid #jumat #justru #jadi #hari #tersibuk

KOMENTAR