IHSG Menuju 10.000 di Akhir 2026? Ini Syarat dan Saham Pilihan Analis
Ilustrasi logo Bursa Efek Indonesia (BEI). (KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)
22:16
2 Januari 2026

IHSG Menuju 10.000 di Akhir 2026? Ini Syarat dan Saham Pilihan Analis

- Proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 10.000 pada akhir 2026 memang terdengar ambisius. Namun, target tersebut masih berada dalam koridor realistis jika dikaitkan dengan kondisi pasar modal nasional saat ini.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, mencatat sepanjang 2025, IHSG berhasil mencetak rekor tertinggi baru dengan kapitalisasi pasar yang telah menembus kisaran Rp 16.000 triliun.

Pertumbuhan jumlah investor domestik yang konsisten, likuiditas pasar yang tetap terjaga, serta ketahanan IHSG di tengah tekanan global, mulai dari suku bunga tinggi hingga ketegangan geopolitik, menjadi sinyal bahwa struktur pasar modal Indonesia kian matang.

Memasuki awal 2026, sentimen positif kembali menguat, tercermin dari kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Jumat (2/1/2026), di mana indeks ditutup menguat 101,19 poin atau 1,17 persen ke level 8.748,13.

Meski demikian, ia menilai untuk mencapai level psikologis 10.000, penguatan indeks tetap membutuhkan dukungan fundamental yang berkelanjutan, bukan semata dorongan sentimen jangka pendek.

“Untuk mencapai level psikologis 10.000, penguatan indeks tetap membutuhkan dukungan fundamental yang berkelanjutan, bukan sekadar dorongan sentimen jangka pendek,” ujar Hendra lewat keterangan pers.

Sejumlah faktor utama dinilai berpotensi menjadi motor penggerak IHSG menuju level tersebut. Pertumbuhan laba emiten, terutama saham-saham berkapitalisasi besar, masih menjadi penopang utama pergerakan indeks.

Selain itu, peluang kembalinya arus dana asing seiring meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga global dapat mendorong aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), perdagangan saham hari ini diwarnai rotasi portofolio investor asing. Aliran dana asing tercatat masuk deras ke saham-saham sektor energi, pertambangan, dan logistik, sementara saham-saham perbankan besar justru mengalami tekanan jual.

Secara keseluruhan, investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) Rp 1,06 triliun di seluruh pasar. Di pasar reguler, net buy asing mencapai Rp 1,14 triliun, sementara di pasar negosiasi dan pasar tunai tercatat jual bersih (net sell) Rp 72,78 miliar.

Lebih jauh, stabilitas makro ekonomi domestik, yang tercermin dari inflasi terkendali, nilai tukar rupiah yang relatif stabil, serta kebijakan fiskal yang kredibel, juga menjadi faktor penting menjaga kepercayaan investor.

Di sisi lain, peningkatan peran investor domestik, serta keberlanjutan penawaran umum perdana saham (IPO) berkualitas diyakini mampu memperdalam pasar dan menopang kenaikan kapitalisasi secara lebih sehat.

Dari sisi sektoral, lanjut Hendra, penguatan IHSG sepanjang 2026 diperkirakan masih akan ditopang oleh sektor energi dan sumber daya alam, perbankan, infrastruktur, serta media dan konsumsi.

Dalam konteks ini, ia menilai sejumlah saham menarik untuk dicermati secara selektif karena memiliki kombinasi valuasi yang relatif atraktif, katalis korporasi, dan sentimen yang mendukung.

Salah satunya adalah saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang dinilai menarik dengan rekomendasi beli dan target harga Rp 500.

Pada perdagangan awal tahun 2026, saham BUMI melonjak 14,75 persen dan ditutup di level 420. Penguatan ini dibarengi akumulasi asing yang sangat besar, dengan nilai net buy sekitar Rp 889 miliar, mencerminkan meningkatnya minat modal global terhadap saham berbasis komoditas.

Hendra menyebut sentimen positif terhadap BUMI juga didukung oleh stabilnya harga batu bara global, serta langkah diversifikasi bisnis ke aset nonbatu bara seperti emas dan logam berharga, yang membuka peluang pertumbuhan jangka menengah hingga panjang.

“Dengan kombinasi tersebut pergerakan BUMI saat ini dinilai tidak hanya bersifat teknikal, tetapi juga mencerminkan perbaikan persepsi fundamental,” paparnya.

Selain itu, saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) juga dipandang menarik dengan rekomendasi beli dan target Rp 1.800.

Menurutnya, sebagai perusahaan investasi strategis, Saratoga memiliki portofolio aset yang kuat di sektor energi, infrastruktur, dan ekonomi hijau. Transformasi portofolio serta nilai aset bersih yang belum sepenuhnya tercermin pada harga saham menjadi katalis utama yang menopang prospek SRTG, terutama jika terjadi revaluasi aset seiring membaiknya sentimen pasar.

Kemudian, saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) juga layak dicermati dengan rekomendasi beli dan target Rp 420. Selain bisnis media yang dinilai masih relevan, rencana IPO Vidio yang kerap menjadi rumor pasar dipandang sebagai katalis potensial yang dapat membuka nilai tersembunyi SCMA, apabila bisnis digital tersebut telah mencapai skala dan profitabilitas yang matang, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari manajemen.

Sementara itu, saham PT Sentul City Tbk (BKSL) dinilai menarik dengan rekomendasi beli dan target Rp 180. Emiten properti ini dipandang sebagai saham bernilai yang berpotensi pulih seiring membaiknya sentimen sektor properti, perbaikan likuiditas pasar, serta peluang penurunan suku bunga yang dapat mendorong permintaan properti dan revaluasi aset.

Meski prospek pasar terlihat konstruktif, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko utama, antara lain ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global, dinamika geopolitik yang berpotensi memicu volatilitas arus modal, pergerakan nilai tukar rupiah, serta risiko spekulasi berlebihan pada saham-saham tertentu.

Oleh karena itu, strategi yang disarankan adalah melakukan diversifikasi portofolio, memadukan saham berfundamental kuat sebagai penopang utama dengan saham bertema siklikal atau katalis korporasi secara terukur, serta tetap disiplin dalam manajemen risiko.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #ihsg #menuju #10000 #akhir #2026 #syarat #saham #pilihan #analis

KOMENTAR