Pariwisata, Ambisi, dan Amanah yang Terlupa
Warga bersama petugas membersihkan material banjir bandang Sungai Kali Gung di kawasan Objek Wisata (OW) Pemandian Air Panas Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada Sabtu (20/12/2025). (Dok. Humas Pemkab Tegal)
07:42
14 April 2026

Pariwisata, Ambisi, dan Amanah yang Terlupa

INDONESIA hari ini sedang berlari kencang. Dari Sabang sampai Merauke, destinasi wisata tumbuh seperti jamur di musim hujan.

Pariwisata diposisikan sebagai lokomotif ekonomi—penghasil devisa, pencipta lapangan kerja, sekaligus etalase wajah Indonesia di mata dunia.

Namun di tengah gegap gempita itu, ada satu pertanyaan yang kerap tenggelam: apakah pertumbuhan ini berjalan seiring dengan kesadaran kita sebagai penjaga bumi?

Ambisi pembangunan sering kali melampaui batas kewajaran. Hutan dibuka demi vila, lereng dipangkas demi akses jalan, dan sumber air dieksploitasi demi kenyamanan wisatawan.

Baca juga: Menagih Rasa Malu: Solusi Sengkarut Sampah di Bali

Alam diperlakukan sebagai objek yang bisa ditaklukkan, bukan sebagai sistem hidup yang harus dijaga keseimbangannya.

Di sinilah paradoks itu bermula: ketika pariwisata tumbuh, justru fondasi ekologinya perlahan runtuh. Kita telah berkali-kali diingatkan oleh alam.

Banjir bandang di kawasan wisata, longsor di daerah dataran tinggi, hingga rusaknya ekosistem pesisir bukan lagi peristiwa langka.

Di beberapa wilayah pegunungan Jawa Timur, misalnya, tekanan pembangunan di kawasan hulu telah memperparah dampak hujan ekstrem.

Alam seperti berbicara dalam bahasa yang keras: ada yang salah dalam cara kita memperlakukan bumi.

Sayangnya, respons kita sering bersifat sementara. Kita berduka saat bencana datang, menggalang bantuan, lalu kembali pada pola lama begitu keadaan mereda.

Bencana dianggap sebagai takdir semata, bukan sebagai peringatan. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, krisis ekologis yang terjadi hari ini adalah cermin dari krisis kesadaran itu sendiri.

Dalam perspektif Islam, masalah ini sesungguhnya telah lama dijelaskan.

Manusia diangkat sebagai khalifah di bumi—bukan penguasa absolut, melainkan pengelola yang memikul amanah.

Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak membuat kerusakan setelah bumi diciptakan dalam keadaan seimbang.

Konsep mizan menjadi kunci. Alam diciptakan dengan ukuran yang presisi—hutan sebagai penyangga air, gunung sebagai penjaga stabilitas, dan laut sebagai pengatur iklim.

Ketika manusia melampaui batas, keseimbangan itu terganggu.

Dampaknya tidak hanya berupa bencana fisik, tetapi juga kerentanan sosial: kemiskinan meningkat, rasa aman hilang, dan kualitas hidup menurun.

Di titik ini, kita perlu mengoreksi cara pandang. Pariwisata bukanlah musuh.

Ia tetap penting sebagai penggerak ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Namun, pariwisata yang dibangun tanpa etika hanya akan menjadi bom waktu. Islam menawarkan konsep halalan thayyiban sebagai jalan tengah.

Pariwisata tidak cukup hanya halal dalam arti bebas dari yang diharamkan, tetapi juga harus thayyib—baik, sehat, dan tidak merusak.

Sebuah destinasi yang merusak hutan, mencemari sungai, atau meminggirkan masyarakat lokal jelas tidak memenuhi prinsip ini, meskipun menghasilkan keuntungan besar. Karena itu, arah pembangunan harus diubah.

Pemerintah tidak boleh hanya menjadi fasilitator investasi, tetapi juga penjaga keseimbangan. Regulasi lingkungan harus ditegakkan dengan konsisten, bukan dinegosiasikan demi kepentingan jangka pendek.

Pelaku industri pariwisata perlu berani beralih dari orientasi profit semata menuju keberlanjutan.

Wisatawan juga memiliki peran penting—setiap pilihan perjalanan adalah pilihan etis yang meninggalkan jejak ekologis.

Lebih dari itu, kita perlu membangun kesadaran baru bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah.

Menjaga hutan, mengurangi sampah, hingga menolak pembangunan yang merusak bukan sekadar tindakan sosial, tetapi juga manifestasi dari ketaatan spiritual.

Baca juga: Air Susu Dibalas Air Tuba di Pelayanan Publik

Dalam Islam, setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban—termasuk cara kita memperlakukan bumi.

Jika kesadaran ini terus diabaikan, maka bencana yang kita lihat hari ini hanyalah awal. Alam memiliki mekanisme keseimbangan sendiri, dan ketika ia bereaksi, manusia sering kali tidak siap menanggung akibatnya.

Di sinilah ujian sebagai khalifah benar-benar dimulai. Pada akhirnya, keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan atau besarnya devisa.

Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah pembangunan itu menjaga keseimbangan alam dan membawa keberkahan, atau justru merusaknya secara perlahan.

Pariwisata boleh tumbuh. Ekonomi boleh berkembang. Tetapi tanpa kesadaran ekologis dan spiritual, semua itu bisa berubah menjadi bumerang. Dan ketika itu terjadi, kita tidak hanya kehilangan alam—kita juga kehilangan arah sebagai manusia.

Tag:  #pariwisata #ambisi #amanah #yang #terlupa

KOMENTAR