PHRI Harap Penerbangan Transit Tidak Dihapus dari OTA, Bisa Rugikan Konsumen
Ilustrasi pesawat melewati awan Cumulonimbus.(Pexels/Pixabay)
08:35
26 Januari 2026

PHRI Harap Penerbangan Transit Tidak Dihapus dari OTA, Bisa Rugikan Konsumen

Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyampaikan harapan agar opsi pencarian penerbangan transit tidak dihilangkan dari platform online travel agent (OTA).

Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran, menilai wacana tersebut justru berpotensi merugikan konsumen yang membutuhkan fleksibilitas perjalanan.

Konsumen butuh pilihan, bukan pembatasan

Maulana mengungkapkan keprihatinannya atas kabar bahwa OTA diminta untuk tidak lagi menampilkan rute transit ketika penerbangan langsung telah habis.

Menurutnya, langkah itu bertentangan dengan fungsi OTA sebagai platform yang membantu konsumen menyusun perjalanan sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka.

“Wacana agar OTA tidak lagi mengalihkan pencarian ke penerbangan transit ketika penerbangan langsung habis justru merugikan konsumen,” ujar Maulana di Jakarta.

Ia menegaskan bahwa menutup opsi transit sama sekali tidak menyelesaikan masalah tingginya harga tiket pesawat. Pasalnya, rute transit tetap muncul di platform lain atau dapat ditemukan langsung melalui maskapai.

Harga mahal bukan alasan menutup fitur transit

Menurut PHRI, Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan konektivitas udara yang kuat.

Tingginya harga perjalanan, terutama ke daerah-daerah terpencil atau wilayah timur Indonesia, adalah fakta yang harus diatasi melalui kebijakan komprehensif, bukan dengan mempersempit pilihan perjalanan bagi masyarakat.

Menurut pantauan Kompas.com di laman online travel agent (OTA) Tiket.com, harga tiket pesawat Jakarta-Yogyakarta berkisar Rp 770.000 hingga Rp 1,6 jutaan sekali jalan pada Minggu (11/5/2025).DOK. Tangkapan Layar Tiket.com Menurut pantauan Kompas.com di laman online travel agent (OTA) Tiket.com, harga tiket pesawat Jakarta-Yogyakarta berkisar Rp 770.000 hingga Rp 1,6 jutaan sekali jalan pada Minggu (11/5/2025).

“Indonesia ini negara kepulauan yang luas. Fakta bahwa traveling ke ujung Sumatera dan ke Indonesia Timur itu mahal, itu enggak bisa dipungkiri. Tapi jangan karena mahal, aksesnya malah dihilangkan,” tegas Maulana.

PHRI menilai penghapusan rute transit justru dapat memperburuk kondisi daerah yang selama ini sudah mengalami keterbatasan konektivitas dan kunjungan wisatawan.

OTA bukan penentu harga dan rute

Maulana menekankan bahwa OTA tidak memiliki kewenangan menentukan rute maupun harga tiket pesawat. Semua data, termasuk jadwal, harga, dan opsi transit, berasal dari maskapai dan sistem penerbangan.

“Sepaham saya, OTA itu tidak membentuk rute dan tidak membentuk harga. Itu create by system. Sistem yang membaca semuanya,” jelasnya.

Ia membandingkan dengan transparansi harga hotel dalam pencarian OTA. Konsumen dapat melihat berbagai pilihan harga, rating, serta kelas hotel. Prinsip yang sama seharusnya diterapkan pada pencarian penerbangan.

Konektivitas domestik lemah, rute luar negeri justru lebih menarik

PHRI juga menyoroti lemahnya konektivitas penerbangan domestik, yang menyebabkan rute internasional kerap menjadi alternatif lebih murah dan lebih mudah. Maulana mencontohkan kondisi akses ke Aceh.

“Sekarang orang mau ke Aceh harus transit ke Kuala Lumpur. Itu fakta. Penerbangan domestiknya kan paling cuma dari Jakarta. Bahkan dari Sumatera lebih murah ke Kuala Lumpur daripada ke Jakarta,” ujar dia

Dalam kondisi seperti ini, menghapus opsi transit di OTA tidak hanya tidak efektif, tetapi juga berpotensi memperparah isolasi daerah yang sudah minim akses penerbangan.

Solusi Ada di evaluasi harga, bukan menutup informasi

PHRI menegaskan bahwa solusi utama untuk menekan harga tiket pesawat ada pada evaluasi menyeluruh terhadap faktor-faktor penyebab mahalnya penerbangan domestik.

Transparansi informasi, termasuk opsi transit, seharusnya tetap menjadi bagian dari layanan OTA.

“Masalahnya bukan di OTA. Yang harus dievaluasi itu faktor apa yang membuat tiket domestik mahal. Bukan menutup informasinya,” ujar Maulana.

Tag:  #phri #harap #penerbangan #transit #tidak #dihapus #dari #bisa #rugikan #konsumen

KOMENTAR