



Teater ''Laporan kepada Akademi'', Kisah Mantan Kera Menjadi Manusia
Saat menonton pementasan ini, penonton seakan menjadi bagian dari pertunjukan itu sendiri. Mereka yang datang seakan dihipnotis untuk fokus mendengar paparan mantan kera yang menjadimanusia.
ALUR pertunjukan ini begitu lambat di bagian awalnya. Terdapat seorang berpakaian raja yang sedang memotong rambut seseorang yang membawa nampan yang di atasnya terdapat topeng kera. Meski pelan, terdapat fokus yang pantas untuk diperhatikan.
Tidak berapa lama, sosok berpeci dan berbatik yang dipotong rambutnya itu memperkenalkan dirinya sebagai Andika Ananda. Namun, tidak lama kemudian, dia juga memperkenalkan dirinya sebagai seekor kera, lebih tepatnya mantan kera yang berhasil menguasai bahasa manusia.
Yang unik dalam pertunjukan itu adalah penonton diajak aktif berperan. Dipanggil satu per satu untuk duduk di meja makan bundar yang kemudian menjadi seakan-akan akademisi yang akan menilai paparan dari sang mantan kera.
Disediakan piring, sendok, garpu, dan gelas yang seakan-akan semacam perjamuan untuk laporan mantan kera tersebut. Kedekatan penonton dengan aktor yang berdiri di meja makan membuat penonton seakan dihipnotis. Penonton mau tak mau harus terus mendengar dan melihat paparan para aktor.
”Memang sejak dulu saya tidak ingin penonton pasif. Saya ingin penonton aktif ikut ambil bagian dari pertunjukan. Makanya, saya konsep begini,” ujar Ibed S. Yuga, sutradara Laporan kepada Akademi.
Sampai-sampai keringat aktor yang bercucuran, ludah aktor yang muncrat saat berteriak benar-benar bisa terlihat. Beda bila penonton memiliki jarak yang lebih jauh dengan aktor. ”Justru yang saya tunggu itu reaksi penonton melihat keringat aktor, ludahnya yang muncrat, dan sebagainya,” papar Ibed.
Memang aktor Andika Ananda berhasil memerankan sang mantan kera. Dengan bahasa tubuhnya, dia mengingatkan bagaimana perilaku kera. Meski begitu, yang mencuri perhatian adalah aktor Arif Wicaksono. Arif berperan sebagai penerjemah bahasa isyarat untuk pertunjukan itu.
Penerjemah pun ambil bagian dengan bermain peran dalam pertunjukan tersebut. Arif mempertontonkan kebolehannya dalam breakdance, hiphop, dan sebagainya. Memunculkan nuansa yang lebih riang dalam pertunjukan yang begitu serius itu. ”Kehadiran Arif ini bagian dari pencarian wacana yang ditawarkan Kafka,” jelas Ibed.
Setelah mengetahui bahwa naskah ini terkait peradaban, pendidikan, dan bisa diperluas ke teman-teman difabel, dia mengatakan ingin memberikan panggung ke Arif yang merupakan seorang difabel. ”Kami sempat memiliki kekhawatiran soal ini,” paparnya.
Sebab, muncul pemikiran apakah ini tidak berarti menyamakan antara difabel dan kera? Meski begitu, setelah banyak berdiskusi, ternyata banyak difabel, khususnya di Jogjakarta, yang tidak ingin disebut difabel. ”Namun, inginnya disebut tuli atau budek. Karena mereka mau menghadapi masalah diskriminasi dan sebagainya secara langsung. Tidak butuh diperhalus dengan difabel. Setidaknya ada rasa diskriminasi yang mereka ingin hadapi dengan berani,” ujarnya.
Dia mengatakan, bias pemikiran itu tidak perlu disembunyikan, para difabel tersebut ingin menghadapinya. Sebab, di dunia nyata juga banyak bias pemikiran yang memang harus dihadapi secara langsung. ”Mereka ingin menghadapi realitas,” paparnya.
Dalam pertunjukan itu, memang begitu tampak keinginan sutradara untuk tidak mengadaptasi naskah Laporan kepada Akademi karya Franz Kafka tersebut ke dalam budaya Indonesia. Namun, justru berupaya memberikan gambaran paralel dengan kisah-kisah nyata para aktornya. ”Memang dalam pertunjukan ini tidak ada penyesuaian naskah. Murni bahasa Jerman diterjemahkan ke Indonesia. Tapi, ada penyesuaian rasa, dari bahasa yang panjang menjadi bahasa ucap aktor,” terangnya. (idr/c7/dra)
Tag: #teater #laporan #kepada #akademi #kisah #mantan #kera #menjadi #manusia