2 Hal Ini Bikin Harga RAM di Pasaran Mulai Turun
Ilustrasi RAM.(Wccftech)
10:06
26 April 2026

2 Hal Ini Bikin Harga RAM di Pasaran Mulai Turun

- Berbagai kalangan, termasuk perakit PC, gamer, pelaku industri grafis, dan lainnya yang bergantung dengan Random Access Memory (RAM), rasanya bisa sedikit bernafas lega. Ada kabar menggembirakan dari harga RAM belakangan di pasaran.

Harga RAM di pasar untuk jenis DDR4 dan DDR5 dilaporkan mulai terdapat tanda-tanda penurunan, setelah mengalami lonjakan harga yang tak masuk akal selama hampir setahun terakhir.

Baca juga: Xiaomi Ungkap Biaya RAM Naik Rp 3,7 Juta, Harga HP Terdampak

Harga RAM mulai turun

Harga memori di pasaran sempat melonjak hingga 2.200 persen dalam kurun waktu 12 bulan terakhir, imbas ledakan permintaan industri kecerdasan buatan (AI). Kini, untuk pertama kalinya dalam hampir setahun, grafik harga memori akhirnya turun.

Berdasarkan data terbaru dari DigiTimes, harga spot untuk RAM DDR4 berkapasitas 16 GB turun sekitar 5 persen sepanjang bulan lalu, bertengger di kisaran angka 74,10 dollar AS (sekitar Rp 1,27 juta).

Ini merupakan penurunan bulanan pertama sejak Februari tahun lalu. Sebagai gambaran betapa tingginya kenaikan harga komponen ini, setahun sebelumnya komponen yang sama masih dihargai sekitar 3,20 dollar AS saja.

Meski sudah turun 5 persen, harganya saat ini masih lebih mahal 20 kali lipat dibanding tahun lalu.

Tanda-tanda penurunan yang sama juga terlihat pada varian DDR5. RAM DDR5 16GB turun ke kisaran harga 37,20 dollar AS.

Penurunan harga paling tajam justru terpantau di pasar ritel dan channel distributor China, serta di marketplace Amazon, seperti dihimpun KompasTekno dari Tom's Hardware.

Di bursa China, harga beberapa kit memori DDR5 32GB bahkan dilaporkan anjlok hingga 30 persen, sementara modul DDR4 8GB dan 16GB turun tajam hingga 25 persen. Lantas, apa yang memicu penurunan harga dadakan ini?

Baca juga: Krisis RAM Global Mulai Ganggu Industri Game, Bisa Bikin Berubah Total

Penyebab harga RAM turun

Pertama, para distributor (utamanya di China) yang sebelumnya menimbun stok gila-gilaan saat harga sedang di puncak, kini mulai melakukan "cuci gudang" alias melepas stok mereka.

Langkah ini diambil karena vendor kecil sudah tidak sanggup lagi menyerap komponen yang harganya kelewat mahal, di tengah lemahnya permintaan dari konsumen kelas PC rumahan.

Penyebab kedua yang tak kalah menarik adalah pengumuman dari Google baru-baru ini.

Pada akhir Maret lalu, raksasa teknologi ini memperkenalkan "TurboQuant", sebuah teknik kompresi memori yang diklaim mampu memangkas penggunaan memori cache hingga enam kali lipat saat menjalankan model bahasa besar (LLM).

Inovasi dari Google ini sukses membuat para penimbun RAM panik. Mereka khawatir permintaan memori dari hyperscaler (pusat data skala besar) akan menurun drastis jika teknologi TurboQuant ini diproduksi massal, sehingga mereka bergegas mencairkan stok RAM mereka ke pasar.

Belum tentu berimbas

Meski harga spot (harga transaksi harian di pasar bebas) mulai turun, jangan buru-buru berharap harga laptop atau PC rakitan OEM akan langsung murah meriah bulan depan.

Pasalnya, transaksi spot hanya mewakili sebagian kecil dari total perputaran industri memori. Para pabrikan laptop dan perakit PC raksasa (OEM) membeli RAM melalui skema pasar kontrak jangka panjang.

Menurut riset TrendForce, harga memori di pasar kontrak justru diproyeksikan akan terus naik.

Harga DRAM konvensional diperkirakan masih akan melonjak 58 hingga 63 persen, sementara NAND Flash (untuk SSD) akan melompat 70 hingga 75 persen pada kuartal kedua tahun 2026 ini.

Jadi, bagi Anda yang berniat merakit PC atau sekadar ingin menambah kapasitas RAM (khususnya DDR5), momentum penurunan harga saat ini mungkin adalah waktu yang paling tepat untuk "mengamankan" komponen incaran Anda sebelum harganya kembali naik.

Baca juga: Krisis Memori Akibat AI, HP Akui 35 Persen Biaya PC Kini Habis untuk RAM

Tag:  #bikin #harga #pasaran #mulai #turun

KOMENTAR