AI Ambil Alih Coding di Spotify, Engineer Hanya Mengawasi
Fitur rekap musik tahunan dari Spotify, Spotify Wrapped 2025 resmi dirilis hari ini (3/12/2025) untuk pengguna di seluruh dunia. (KOMPAS.com/MARSHA BREMANDA)
11:06
18 Februari 2026

AI Ambil Alih Coding di Spotify, Engineer Hanya Mengawasi

- Spotify mengungkap perubahan besar dalam cara perusahaan mengembangkan perangkat lunaknya.

Co-CEO sekaligus CPO dan CTO Spotify, Gustav Sonderstrom, mengatakan para engineer terbaiknya bahkan tidak lagi menulis kode secara manual sejak akhir tahun lalu.

Pernyataan itu disampaikan bos Spotify dalam panggilan laporan keuangan kuartal keempat perusahaan. Menurut Sonderstrom, para developer atau programer senior kini hanya "ngoding" menggunakan kecerdasan buatan, lalu mengawasi dan mengevaluasi hasilnya.

“Saat saya berbicara dengan para insinyur paling senior kami, developer terbaik yang kami miliki, mereka mengatakan belum menulis satu baris kode pun sejak Desember. Mereka hanya menghasilkan kode dan mengawasinya,” ujar Sonderstrom.

Hal tersebut dimungkinkan karena Spotify mengandalkan sistem internal bernama Honk untuk mempercepat produktivitas coding.

Baca juga: Bos Nvidia Minta Programer Berhenti Coding

Menurut laporan Mashable, sistem Honk ini memanfaatkan model AI Claude Code dari Anthropic untuk menghasilkan kode secara otomatis, sekaligus mendukung deployment jarak jauh secara real-time.

Dalam salah satu contoh yang dibagikan Sonderstrom, seorang developer cukup meminta AI memperbaiki bug saat sedang dalam perjalanan.

AI akan memperbaiki masalah tersebut, membuat versi baru aplikasi, dan ketika sang engineer tiba di kantor, hasilnya tinggal ditinjau dan dipublikasikan.

Meski para developer-nya tidak lagi mengetik kode secara manual, Spotify disebut tetap meluncurkan fitur baru dengan ritme yang sama seperti sebelumnya. Tahun lalu saja, perusahaan streaming musik asal Swedia ini merilis lebih dari 50 pembaruan produk.

Perubahan budaya kerja teknologi

Ilustrasi platform streaming musik Spotify.CNET/ James Martin Ilustrasi platform streaming musik Spotify.

Sonderstrom menilai, perubahan ini sebagai sesuatu yang tak terhindarkan di industri teknologi. Menurut dia, perusahaan yang ingin tetap kompetitif harus siap mengubah praktik engineering, produk, hingga desainnya.

Ia mengakui proses transisi tidak mudah. Meski begitu, Spotify melihat peluang untuk memproduksi software dalam jumlah jauh lebih besar berkat bantuan AI.

Batasnya, menurut Sonderstrom, justru ada pada seberapa cepat konsumen bisa beradaptasi dengan perubahan fitur yang terus muncul.

Tidak semua pihak melihat tren ini sepenuhnya positif. Di kalangan engineer, muncul juga istilah AI fatigue.

Bukan karena menolak AI, melainkan karena pekerjaan sehari-harinya berubah menjadi memeriksa dan memperbaiki hasil kode yang dihasilkan mesin dalam jumlah besar.

Perdebatan soal dampak AI terhadap lapangan kerja pun terus berlangsung. Ada yang meyakini AI akan menggantikan banyak posisi entry-level/fresh graduate, ada pula yang menilai teknologi ini hanya akan meningkatkan produktivitas manusia.

Di Spotify, setidaknya untuk saat ini, AI dianggap sebagai pendorong efisiensi, bukan pengganti total manusia, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Business Insider.

Para developer senior tetap memegang peran penting, hanya saja fokusnya bergeser dari menulis kode menjadi mengarahkan, mengoreksi, dan memastikan kualitas output AI.

Baca juga: CEO Nvidia Minta Setop Coding, Lalu Programer Ngapain?

Spotify kini dilaporkan memiliki 751 juta pengguna aktif bulanan, dengan 290 juta di antaranya pelanggan berbayar.

Perusahaan yang didirikan oleh Daniel Ek dan Martin Lorentzon pada 2006 ini juga mengungkap kampanye Spotify Wrapped akhir tahun lalu membantu mendatangkan 38 juta pengguna baru hanya dalam satu kuartal.

Fitur Spotify Wrapped juga sukses membukukan lebih dari 300 juta pengguna dan dibagikan sebanyak 630 juta kali di media sosial dalam 56 bahasa.

Berkat pertumbuhan itu, pendapatan Spotify mencapai 4,53 miliar euro (sekitar Rp 90,5 triliun). Jumlah pendapatannya naik sekitar 7 persen secara YoY.

Spotify telah memperluas layanannya hingga mencakup podcast, buku audio, hingga toko buku. Kini Spotify juga mengakomodasi video musik, video podcast, hingga pemesanan tiket konser, membuatnya lebih dari sekadar platform streaming musik.

Tag:  #ambil #alih #coding #spotify #engineer #hanya #mengawasi

KOMENTAR