Dari Google ke Startup China, Eks Engineer Hadapi Vonis 175 Tahun
Perusahaan induk Google, Alphabet Inc (GOOG, GOOGL) resmi menggeser posisi Apple (AAPL) sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di dunia.(KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU)
10:12
2 Februari 2026

Dari Google ke Startup China, Eks Engineer Hadapi Vonis 175 Tahun

– Eks karyawan Google disidang di pengadilan Amerika Serikat (AS) setelah terbukti mencuri dan membocorkan rahasia teknologi kecerdasan buatan (AI) ke China.

Alhasil, hukuman berat kini menanti mantan karyawan Google divisi perangkat lunak (software) bernama Linwei “Leon” Ding (38).

Berdasarkan berkas dakwaan, Ding dinyatakan bersalah atas 14 dakwaan, terdiri dari tujuh dakwaan spionase ekonomi dan tujuh dakwaan pencurian rahasia dagang.

Ia terbukti mengambil informasi rahasia terkait chip Tensor Processing Unit (TPU), Graphics Processing Unit (GPU), serta informasi seputar SmartNIC, suatu komponen penting dalam infrastruktur komputasi AI milik Google

Jika dijatuhkan maksimal, Ding terancam hukuman hingga 175 tahun penjara, terdiri dari 10 tahun untuk tiap dakwaan pencurian rahasia dagang (7 x 10 tahun = 70 tahun) dan 15 tahun untuk tiap dakwaan spionase ekonomi (7 x 15 tahun = 105 tahun).

Namun, vonis akhir tetap baru akan ditentukan hakim berdasarkan pedoman hukuman federal AS, termasuk apakah hukuman dijalani secara bersamaan atau terpisah.

Baca juga: Peringatan FBI ke 10 Juta Pengguna Android, Jangan Akses Internet Dulu

Modus pencurian data internal

Menurut informasi dalam berkas dakwaan, Ding sempat bekerja di Google sejak Mei 2019 dan memiliki akses ke sistem internal sensitif.

Ini termasuk akses ke pengembangan software untuk mengoptimalkan GPU bagi kebutuhan pembelajaran mesin di Google dan Google Cloud.

Pada Mei 2022, Ding mulai menyalin lebih dari 1.000 file rahasia. Untuk mengelabui sistem keamanan, ia memindahkan data dari repositori internal Google ke aplikasi Apple Notes di laptop kerjanya.

Data tersebut kemudian dikonversi menjadi file PDF dan diunggah ke akun Google Cloud pribadi miliknya.

Meski Google menerapkan pengamanan berlapis—mulai dari pembatasan akses gedung, pemantauan jaringan, hingga pencatatan aktivitas—aksi awal Ding tidak langsung terdeteksi.

Sebulan kemudian, Ding menerima tawaran menjadi Chief Technology Officer (CTO) dari Beijing Rongshu Lianzhi Technology Co. Ltd.

Itu adalah sebuah startup akselerasi pembelajaran mesin di China, dengan gaji 100.000 yuan (sekitar Rp 241 juta) per bulan, ditambah bonus dan saham.

Pada Mei 2023, Ding lantas mendirikan Shanghai Zhisuan Technology Co. Ltd. dan menjabat sebagai CEO. Startup tersebut berfokus mengembangkan sistem manajemen klaster untuk mempercepat beban kerja AI.

Dokumen internal perusahaan rintisan tersebut menyebutkan pengalaman membangun “platform komputasi puluhan ribu kartu ala Google”.

Dokumen yang sama juga memaparkan rencana memasarkan teknologi Zhisuan ke entitas yang dikendalikan pemerintah China, termasuk lembaga pemerintah dan institusi akademik.

Baca juga: 7 Perusahaan Teknologi Ini PHK Massal Karyawan di 2025

Terungkap lewat aktivitas mencurigakan

Kasus Ding terungkap pada Desember 2023, ketika ia kembali mengunggah data Google ke akun Google Drive pribadi untuk kedua kalinya.

Padahal, sebelumnya Ding sempat menandatangani pernyataan bahwa dirinya tidak menyimpan data Google sama sekali, tanpa mengungkap histori penggunaan akun pribadi sebelumnya.

Tak lama berselang, Google mengetahui Ding tampil sebagai CEO Zhisuan di konferensi inkubator bisnis MiraclePlus.

Akses jaringan Ding kemudian dibekukan, perangkat kerjanya dikunci jarak jauh, dan investigasi internal dilakukan.

Rekaman pengawasan menunjukkan adanya upaya memanipulasi data kehadiran, seolah-olah Ding berada di AS, padahal ia sebenarnya berada di China.

Pada Januari 2024, perangkat Ding disita dan Federal Bureau of Investigation (FBI) melakukan penggeledahan. Dakwaan resmi kemudian diajukan oleh dewan juri ke pengadilan pada Maret 2024.

Baca juga: Ketika Hukuman Amerika Jadi Pemantik Kebangkitan Teknologi China...

Ancaman hukuman

Ilustrasi Google didenda Rp 56 triliun oleh Uni EropaThe New York Times Ilustrasi Google didenda Rp 56 triliun oleh Uni Eropa

Meski tim pembela berargumen bahwa Linwei “Leon” Ding tidak secara langsung menyerahkan rahasia dagang kepada pemerintah China, hakim menilai bukti yang diajukan jaksa cukup untuk membawa perkara tersebut ke persidangan.

Jaksa dari U.S. Department of Justice menyatakan Ding bermaksud menguntungkan dua entitas yang dikendalikan pemerintah China melalui pengembangan superkomputer AI dan riset chip pembelajaran mesin khusus.

Juri akhirnya memutuskan Ding bersalah atas seluruh dakwaan.

Ia terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara untuk tiap dakwaan pencurian rahasia dagang dan 15 tahun penjara untuk tiap dakwaan spionase ekonomi, sesuai pedoman hukuman federal AS.

Dokumen pengadilan tidak merinci apakah rahasia teknologi Google yang dicuri masih berada di tangan pihak terafiliasi pemerintah China.

Google juga belum memberikan keterangan lanjutan terkait status keamanan kekayaan intelektualnya, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari TheRegister.

Baca juga: Apple Gugat Oppo, Tuduh Curi Teknologi lewat Mantan Karyawan

Kasus mantan karyawan Google lainnya

Kasus Linwei “Leon” Ding mengingatkan pada perkara besar lain yang pernah menjerat mantan karyawan Google, yakni Anthony Levandowski.

Levandowski merupakan mantan insinyur Google yang terlibat dalam pengembangan teknologi mobil swakemudi di unit Waymo, anak usaha Google di bawah Alphabet.

Pada 2020, Levandowski dijatuhi hukuman 18 bulan penjara setelah mengaku bersalah mencuri sekitar 14.000 file rahasia dagang terkait teknologi kendaraan otonom sebelum keluar dari Google dan mendirikan startup pesaing.

Dokumen pengadilan menyebut Levandowski mengunduh data rahasia tersebut ke perangkat pribadinya, lalu memanfaatkannya untuk mengembangkan teknologi serupa di luar Google.

Kasus tersebut sempat memicu gugatan besar antara Waymo dan Uber, sebelum akhirnya berkembang menjadi perkara pidana terhadap Levandowski secara personal.

Meski kemudian mendapat pengampunan presiden AS pada 2021, kasus Levandowski kerap dijadikan preseden penting dalam penegakan hukum pencurian rahasia dagang di industri teknologi, khususnya ketika menyangkut teknologi strategis bernilai tinggi.

Dalam konteks tersebut, perkara Linwei Ding dinilai lebih serius karena tidak hanya melibatkan kebocoran teknologi AI inti, tetapi juga dugaan pemanfaatannya oleh perusahaan yang menargetkan kerja sama dengan entitas yang dikendalikan pemerintah China.

Tag:  #dari #google #startup #china #engineer #hadapi #vonis #tahun

KOMENTAR