Lulusan Kampus Beken Tak Lagi Aman di Era AI
Ilustrasi mahasiswa.(FREEPIK)
10:03
29 Januari 2026

Lulusan Kampus Beken Tak Lagi Aman di Era AI

- Kuliah di universitas beken dengan biaya selangit ternyata bukan lagi tiket emas untuk aman dari gempuran teknologi kecerdasan buatan.

Peringatan keras ini disampaikan oleh Alex Karp, CEO perusahaan data raksasa Palantir Technologies, dalam ajang World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pekan lalu.

Menurut Karp, label mentereng dari kampus elite tak akan banyak menolong jika lulusannya hanya mengandalkan kemampuan berpikir umum (generalist).

Dalam diskusi bersama CEO BlackRock, Larry Fink, Karp secara spesifik menyoroti nasib para lulusan jurusan humaniora dari universitas-universitas bergengsi.

Ia menilai, ijazah mahal mereka kini terancam tidak laku di pasar tenaga kerja masa depan.

Karp memberikan ilustrasi yang menohok. Seseorang bisa saja lulus dari kampus elite, memiliki IQ tinggi, dan menguasai ilmu filsafat atau sosial.

Namun, jika skill utama mereka hanya sebatas mengolah informasi umum, posisi mereka sangat rentan digantikan mesin.

"Anda kuliah di universitas elit dan belajar filsafat...keterampilan itu akan sulit untuk dipasarkan," ujar Karp, dikutip KompasTekno dari Fortune.

Alasannya, AI generasi terbaru kini sudah sangat mahir melakukan pekerjaan kaum intelektual tersebut.

Mulai dari menyintesis data, merangkum dokumen panjang, hingga menarik kesimpulan logis, semua bisa dilahap algoritma dalam hitungan detik.

Apa yang dulu dianggap sebagai keunggulan eksklusif lulusan kampus top, kemampuan berpikir kritis dan analitis umum, kini menjadi komoditas yang bisa diproduksi massal oleh AI.

Pernyataan ini terdengar kontradiktif jika melihat latar belakang Karp.

Bos teknologi ini justru memegang gelar PhD di bidang filsafat dari Universitas Goethe Frankfurt, Jerman. Ia juga lulusan sarjana dari Haverford College dan Stanford Law School.

Meski dirinya produk institusi elite, Karp realistis melihat pergeseran zaman. Ia menilai bahwa di era AI, ijazah bukan lagi pelindung. Kemampuan spesifik yang tidak bisa ditiru mesin adalah kuncinya.

CEO Perusahaan Palantir, Alex Karp. CEO Perusahaan Palantir, Alex Karp.

Baca juga: Bos ChatGPT Ramal Anak Muda di Masa Depan Bisa Bekerja di Luar Bumi dan Bergaji Tinggi

Era pendidikan vokasi

Jika sarjana humaniora terancam, siapa yang justru diuntungkan? Karp menunjuk pada kebangkitan sekolah vokasi dan kejuruan.

Ia berpendapat bahwa teknisi, pekerja pabrik, atau pembuat baterai akan menjadi profesi yang sangat berharga.

Alasannya, pekerjaan yang membutuhkan keahlian fisik dan teknis spesifik di dunia nyata jauh lebih sulit digantikan oleh AI ketimbang pekerjaan analisis teks atau administrasi.

"Jika Anda seorang teknisi vokasi, atau misalnya kita sedang membangun baterai untuk perusahaan baterai, sekarang Anda sangat berharga," kata Karp.

Pernyataan Karp ini cerminan dari strategi rekrutmen Palantir saat ini. Perusahaan tersebut mulai meninggalkan obsesi pada lulusan universitas beken.

Karp menceritakan salah satu karyawan terbaiknya yang mengelola sistem militer canggih "Maven". Karyawan tersebut bukanlah lulusan Harvard atau Stanford, melainkan mantan polisi yang menempuh pendidikan di junior college.

Bagi Karp, sistem penyaringan bakat tradisional berbasis ijazah mentereng sering kali gagal menangkap potensi orang-orang seperti ini yang memiliki intuisi teknis tinggi.

Baca juga: Skandal Kampus Elite Korsel, Ratusan Mahasiswa Ketahuan Curang Pakai AI saat Ujian

Tag:  #lulusan #kampus #beken #lagi #aman

KOMENTAR