Seperti Main Game, Bisnis Ubisoft Juga sedang ''Reset'' dan ''Restart''
Ringkasan berita:
- Ubisoft melakukan “major reset” strategi bisnis dengan membatalkan 6 proyek game (termasuk Prince of Persia: The Sands of Time Remake), menunda 7 judul lain, menutup 2 studio, serta melakukan PHK dan reorganisasi di beberapa kantor. Langkah ini disebut CEO Yves Guillemot sebagai upaya membuat Ubisoft kembali fokus, efisien, dan kompetitif di tengah ketatnya industri game AAA.
- Restrukturisasi ini berdampak ke operasional dan finansial: Ubisoft menutup Ubisoft Stockholm dan studio mobile Ubisoft Halifax, mewajibkan kerja kantor 5 hari/minggu, serta menurunkan target pendapatan tahunan jadi 1,5 miliar euro. Ke depan, Ubisoft akan fokus pada open-world dan live-service, sambil membentuk 5 unit “Creative House” untuk mengelola portofolio game berdasarkan genre dan franchise.
- Pengembang sekaligus penerbit game Ubisoft menekan tombol “major reset” alias reset besar-besaran dalam strategi bisnisnya. Ubisoft seolah ingin memulai dari awal (restart) seperti dalam game.
Pada Rabu (21/1/2026), perusahaan game asal Prancis itu mengumumkan pembatalan 6 proyek game, penundaan 7 judul lain, penutupan 2 studio, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) pegawai sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran.
Salah satu game yang dipastikan dibatalkan adalah Prince of Persia: The Sands of Time Remake. Game bergenre action-adventure ini sudah lama dinanti dan sempat mengalami reboot pengembangan.
Selain itu, Ubisoft juga membatalkan tiga game baru yang masih berupa IP baru, satu game mobile, dan satu proyek lain yang belum diumumkan ke publik.
Ubisoft tidak merinci nama tujuh game yang ditunda. Namun, salah satunya diyakini adalah remake Assassin’s Creed Black Flag yang sebelumnya dirumorkan akan rilis sebelum Maret 2026.
CEO Ubisoft Yves Guillemot menyebut reset ini sebagai langkah penting untuk mengembalikan daya saing perusahaan dalam jangka panjang.
“Industri game AAA kini jauh lebih selektif dan mahal. Di sisi lain, game berkualitas tinggi memiliki potensi finansial yang belum pernah sebesar ini. Karena itu, kami melakukan reset besar untuk membangun fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Guillemot.
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut diperlukan agar Ubisoft bisa kembali fokus, efisien, dan kompetitif di tengah tekanan industri global, meski keputusan ini sulit.
Dengan keputusan ini, game tersebut kini diperkirakan baru meluncur pada tahun fiskal berikutnya, disebut sebelum Maret 2027.
Sebagai bagian dari restrukturasi besar-besaran, Ubisoft mengumumkan pembatalan 6 proyek game. Salah satu game yang dipastikan dibatalkan adalah Prince of Persia: The Sands of Time Remake.
Restrukturisasi ini juga berdampak langsung pada operasional perusahaan. Ubisoft mengonfirmasi penutupan penuh Ubisoft Stockholm, serta studio mobile Ubisoft Halifax.
Selain itu, PHK karyawan dan reorganisasi turut terjadi di sejumlah kantor, termasuk Ubisoft Abu Dhabi, RedLynx, dan Massive Entertainment, studio yang mengembangkan The Division.
Tak hanya itu, Ubisoft juga mewajibkan seluruh karyawan untuk kembali bekerja dari kantor lima hari dalam seminggu, meski tetap memberikan jatah hari kerja jarak jauh (remote working) setiap tahun.
Dampak restrukturisasi ini juga tercermin pada proyeksi keuangan Ubisoft. Karena banyak game dibatalkan dan ditunda, Ubisoft menurunkan target pendapatan tahun ini jadi 1,5 miliar euro (sekitar Rp 29,6 triliun).
Dengan ini, uang yang diperkirakan masuk jadi berkurang sekitar 330 juta euro (kira-kira Rp 6,5 triliun).
5 Creative House Ubisoft yang baru
Assassin's Creed Syndicate bisa dimainkan secara gratis di launcher Ubisoft Connect
Ke depannya, fokus utama Ubisoft akan tertuju pada game open-world dan layanan langsung (live-services).
Sebagai bagian dari reset besar ini, Ubisoft juga merombak struktur pengembangan globalnya menjadi lima unit baru yang disebut Creative House. Masing-masing unit akan beroperasi layaknya entitas bisnis mandiri dengan fokus genre dan portofolio yang lebih spesifik.
Creative House pertama, Vantage Studios, akan menangani tiga franchise terbesar Ubisoft, yakni Assassin’s Creed, Far Cry, dan Rainbow Six.
Lalu, Creative House kedua difokuskan pada game shooter seperti The Division, Ghost Recon, dan Splinter Cell.
Sementara itu, Creative House ketiga mengelola game live service seperti For Honor, The Crew, Riders Republic, dan Skull & Bones.
Creative House keempat menaungi game naratif dan fantasi, termasuk Anno, Rayman, Prince of Persia, serta Beyond Good & Evil 2.
Terakhir, Creative House kelima berfokus pada game kasual dan keluarga, seperti Just Dance, Uno, Hungry Shark, dan Ketchapp, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari WCCFTech.
Tag: #seperti #main #game #bisnis #ubisoft #juga #sedang #reset #restart